Media Trust dan Pengaruhnya terhadap Persepsi Audiens di Media Sosial

Aplikasi RedNote
Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:23:00 WIB

JAKARTA — Seberapa besar pengaruh sebuah platform media sosial terhadap cara seseorang memandang suatu isu? Pertanyaan ini semakin relevan ketika media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi, membandingkan pengalaman, dan membentuk persepsi terhadap berbagai persoalan.

Hubungan antara penggunaan media sosial dan pembentukan persepsi tersebut menjadi fokus penelitian yang melibatkan peneliti dari School of International Media, Chongqing Institute of Foreign Studies, China. Studi yang mengkaji platform RedNote ini diterbitkan dalam jurnal Violence Against Women, Volume 32, Issue 9, tahun 2026, dengan publikasi daring pertama pada Juli 2025.

Penelitian berjudul Does Rednote Use Increase Unmarried Young Women's Risk Perception of Intimate Partner Violence in Marriage? A Chained Mediation Model of Media Trust and Social Comparison mengkaji hubungan antara penggunaan RedNote, kepercayaan terhadap media (media trust), perbandingan sosial (social comparison), dan persepsi risiko terhadap kekerasan dalam hubungan intim dalam konteks pernikahan.

Dengan melibatkan 448 responden, penelitian ini menggunakan structural equation modeling untuk menganalisis hubungan antarvariabel tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan RedNote berhubungan dengan media trust dan persepsi risiko. Selain itu, media trust juga berhubungan dengan persepsi risiko serta memediasi hubungan antara penggunaan media dan persepsi tersebut.

Sementara itu, social comparison tidak menunjukkan pengaruh langsung terhadap persepsi risiko. Namun, variabel ini tetap memiliki pengaruh tidak langsung melalui media trust. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara penggunaan media sosial dan pembentukan persepsi tidak selalu berlangsung secara sederhana. Informasi yang diterima audiens dapat berinteraksi dengan tingkat kepercayaan terhadap media sebelum berkaitan dengan cara mereka memahami suatu isu.

Media Trust sebagai Bagian dari Proses Pembentukan Persepsi

Bagi dunia komunikasi, temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa paparan terhadap konten (exposure) bukanlah satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan ketika menilai dampak sebuah pesan. Dua orang dapat melihat konten yang sama, tetapi belum tentu membentuk persepsi yang serupa. Tingkat kepercayaan terhadap sumber informasi menjadi salah satu faktor yang patut diperhitungkan.

Peran media trust semakin penting di tengah lingkungan informasi yang padat. Setiap hari, audiens berhadapan dengan berbagai sumber, mulai dari media berita, brand, influencer, kreator konten, komunitas, hingga akun personal. Dalam situasi seperti ini, mendapatkan perhatian merupakan satu tantangan, sedangkan membangun kepercayaan merupakan tantangan yang berbeda.

Perbedaan tersebut penting karena jangkauan dan kepercayaan tidak mengukur hal yang sama. Reach menunjukkan seberapa luas pesan berpotensi menjangkau audiens, sementara kepercayaan berkaitan dengan bagaimana audiens menilai sumber dan informasi yang diterimanya. Konten yang memperoleh banyak perhatian belum tentu secara otomatis dianggap kredibel atau menghasilkan persepsi yang diharapkan.

Ketika Reach Tidak Berbanding Lurus dengan Kepercayaan

Bagi perusahaan dan brand, persoalan ini memiliki konsekuensi strategis. Sebuah konten dapat memperoleh reach tinggi, menghasilkan banyak interaksi, bahkan menjadi viral. Namun, apabila sumber informasinya tidak dipercaya, tingginya paparan belum tentu membuat pesan diterima sebagaimana yang diharapkan.

Sebaliknya, sumber yang telah memiliki kredibilitas dapat membantu pesan memperoleh penerimaan yang lebih baik. Meski demikian, kepercayaan terhadap sumber tidak otomatis menjamin bahwa setiap pesan akan diterima. Isi pesan, konteks, relevansi, serta pengalaman audiens tetap perlu diperhitungkan dalam strategi komunikasi.

Karena itu, evaluasi komunikasi digital tidak cukup hanya berfokus pada jumlah orang yang melihat sebuah pesan. Perusahaan juga perlu memahami siapa yang menyampaikan pesan, bagaimana audiens menilai sumber tersebut, dan apakah informasi yang disampaikan konsisten dengan pengalaman mereka.

Pendekatan ini mengubah cara keberhasilan komunikasi dipahami. Performa konten tidak semata-mata dilihat dari seberapa besar perhatian yang berhasil diperoleh, tetapi juga dari bagaimana pesan diterima dan dimaknai oleh audiens.

Media Trust, Reputasi, dan Pemantauan Percakapan Publik

Dalam komunikasi korporasi, hubungan antara pesan dan kepercayaan juga berkaitan erat dengan reputasi. Reputasi tidak terbentuk hanya dari komunikasi yang dirancang perusahaan. Reputasi berkembang melalui interaksi antara pesan perusahaan, pengalaman publik, pemberitaan media, percakapan di media sosial, dan kredibilitas pihak-pihak yang turut menyampaikan informasi.

Artinya, perusahaan tidak sepenuhnya mengendalikan bagaimana pesan mereka ditafsirkan. Pesan yang sama dapat memperoleh respons berbeda ketika muncul dari sumber yang berbeda atau ketika beredar dalam konteks percakapan yang berbeda pula.

Di sinilah media monitoring dan social listening dapat memainkan peran strategis. Keduanya tidak hanya berguna untuk mengetahui apakah sebuah nama brand muncul di media, tetapi juga untuk memahami konteks pembicaraan, dinamika isu, dan perubahan persepsi publik.

Ketika suatu isu berkembang, perusahaan perlu memetakan narasi yang beredar, mengidentifikasi sumber informasi yang mendapat perhatian, serta memahami bagaimana percakapan berkembang di berbagai komunitas. Analisis tersebut dapat membantu perusahaan membaca potensi risiko reputasi dan menentukan respons komunikasi yang lebih sesuai dengan konteks.

Namun, pemantauan percakapan tidak dengan sendirinya dapat membuktikan tingkat kepercayaan audiens. Data mengenai frekuensi penyebutan, sentimen, atau interaksi perlu dibaca bersama konteks dan indikator lain yang relevan. Dengan demikian, perusahaan tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa tingginya percakapan selalu berarti meningkatnya kepercayaan atau bahwa sentimen tertentu sepenuhnya mencerminkan sikap publik.

Memilih Komunikator Tidak Cukup Berdasarkan Jumlah Followers

Temuan penelitian ini juga relevan bagi brand yang mengandalkan kreator konten dan komunitas sebagai bagian dari strategi komunikasi. Pemilihan komunikator tidak semestinya hanya didasarkan pada jumlah followers atau potensi jangkauan.

Kredibilitas, relevansi dengan audiens, serta tingkat kepercayaan terhadap sumber merupakan faktor lain yang perlu dipertimbangkan. Seorang kreator dengan audiens yang lebih kecil, misalnya, belum tentu memiliki dampak komunikasi yang lebih rendah apabila memiliki kedekatan dan kredibilitas yang kuat dalam komunitasnya. Namun, efektivitasnya tetap perlu dinilai berdasarkan tujuan kampanye dan bukti yang tersedia, bukan semata-mata asumsi mengenai kedekatan audiens.

Karena itu, strategi komunikasi yang melibatkan kreator perlu dimulai dengan pemahaman tentang karakter audiens, kesesuaian pesan, dan reputasi komunikator. Jangkauan tetap penting, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar pengambilan keputusan.

Memahami Proses di Balik Persepsi

Studi dari Chongqing Institute of Foreign Studies mengingatkan bahwa hubungan antara media sosial dan persepsi publik melibatkan mekanisme yang kompleks. Perubahan persepsi tidak tepat jika langsung dianggap sebagai akibat dari satu jenis konten atau satu kali paparan. Ada faktor psikologis dan sosial yang turut berperan dalam proses tersebut.

Bagi praktisi komunikasi, implikasinya adalah perlunya melampaui metrik permukaan. Angka reach, impressions, dan engagement dapat memberikan gambaran mengenai distribusi serta respons terhadap konten, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan seluruh proses pembentukan persepsi audiens.

Analisis komunikasi perlu menggabungkan data performa dengan pemahaman mengenai konteks isu, kredibilitas sumber, dan dinamika percakapan publik. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat membuat keputusan komunikasi yang lebih terukur sekaligus menghindari kesimpulan yang terlalu sederhana tentang bagaimana audiens menerima sebuah pesan.

Kesimpulan

Penelitian tentang penggunaan RedNote menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berhubungan dengan pembentukan persepsi risiko melalui mekanisme yang melibatkan media trust. Temuan ini memperkuat pentingnya memahami kepercayaan terhadap sumber informasi dalam menganalisis hubungan antara media sosial dan persepsi audiens.

Bagi brand dan organisasi, prinsip yang dapat ditarik adalah bahwa reach membantu membawa pesan kepada audiens, tetapi tidak dengan sendirinya menjamin pesan dipercaya atau diterima sesuai tujuan. Strategi komunikasi digital perlu memperhatikan kredibilitas sumber, konteks percakapan, dan cara audiens memaknai informasi yang diterima.

Pada akhirnya, komunikasi yang efektif bukan hanya tentang seberapa banyak orang melihat sebuah pesan, melainkan juga tentang bagaimana pesan tersebut dipahami dalam lingkungan informasi yang terus berubah.

FAQ

Apa yang diteliti dalam penelitian ini?

Penelitian ini mengkaji hubungan penggunaan RedNote dengan media trust, social comparison, dan persepsi risiko terhadap kekerasan dalam hubungan intim dalam konteks pernikahan.

Berapa jumlah responden penelitian?

Penelitian melibatkan 448 responden dan menggunakan structural equation modeling untuk menganalisis hubungan antarvariabel.

Apa peran media trust dalam penelitian tersebut?

Media trust ditemukan berhubungan dengan persepsi risiko dan berperan sebagai mediator dalam hubungan antara penggunaan media dan persepsi tersebut.

Apa relevansi penelitian ini bagi komunikasi brand?

Penelitian ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan kepercayaan terhadap sumber informasi saat memahami hubungan antara paparan media sosial dan persepsi audiens. Bagi brand, jangkauan pesan perlu dibaca bersama kredibilitas sumber, konteks, dan respons audiens.

Apakah reach tinggi menjamin kepercayaan audiens?

Tidak. Reach menunjukkan jangkauan pesan, bukan tingkat kepercayaan audiens. Keduanya merupakan dimensi yang berbeda dan perlu dievaluasi menggunakan indikator yang sesuai.

Sumber penelitian: https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/10778012251362228

Reporter: Shopia Dwi Lestari