Lewati ke konten
Membaca Isu, Memahami Komunikasi

Komunitas dan Pergeseran Cara Brand Membangun Engagement

Exposure membantu brand menjangkau audiens, tetapi komunitas membuka ruang untuk membangun percakapan, keterlibatan, dan kepercayaan yang lebih dekat.

Fatma Kumala
Fatma Kumala Penulis · Senin, 12 Oktober 2026 · 16:53:00 WIB · Editor: Kevin Khanza
Komunitas dan Pergeseran Cara Brand Membangun Engagement
Ilustrasi Komunitas (Sumber gambar: Magnific)

Bogor — Mengejar eksposur besar tidak selalu cukup untuk membangun kepercayaan publik. Perusahaan mulai melihat komunitas sebagai ruang untuk memperkuat hubungan dengan audiens melalui percakapan yang lebih dekat, spesifik, dan dua arah.

Studi mengenai live-streaming commerce di Indonesia yang dipublikasikan pada 2025 menunjukkan bahwa keberadaan komunitas berhubungan dengan kepercayaan konsumen, yang kemudian mendorong keterlibatan mereka dalam interaksi digital. Temuan ini menunjukkan bahwa ketika audiens merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas, interaksi dengan brand tidak berhenti pada penerimaan informasi, tetapi dapat berkembang menjadi percakapan dan keterlibatan yang lebih aktif.

Kondisi tersebut membuat komunitas semakin diperhitungkan sebagai bagian dari strategi komunikasi perusahaan. Berbeda dari komunikasi yang hanya mengandalkan jangkauan, komunitas memungkinkan perusahaan berinteraksi dengan kelompok audiens yang memiliki minat, kebutuhan, atau pengalaman yang lebih spesifik.

Staff Event & Partnership PublikaLabs, Amalia, mengatakan bahwa karakter tersebut membuat komunitas memiliki peran tersendiri dalam komunikasi brand.

Konten Viral Bukan Jaminan Keberhasilan Marketing Baca Juga Konten Viral Bukan Jaminan Keberhasilan Marketing

“Komunitas sekarang bukan hanya tempat untuk menyampaikan informasi atau mendapatkan exposure. Di dalamnya ada ruang untuk membangun hubungan yang lebih dekat karena biasanya mereka sudah memiliki ketertarikan atau kebutuhan yang sama. Ketika perusahaan masuk dengan membawa sesuatu yang relevan, percakapannya bisa menjadi lebih natural dan tidak terasa seperti komunikasi satu arah,” katanya di kantor PublikaLabs, Bogor, pada 9 Oktober 2026.

Menurutnya, perusahaan juga perlu mengubah cara memandang kemitraan dengan komunitas. Jumlah anggota yang besar bukan satu-satunya pertimbangan. Relevansi dan nilai yang dapat diberikan perusahaan justru menjadi faktor penting agar kolaborasi mampu menghasilkan hubungan yang lebih berkelanjutan.

“Yang penting bukan hanya bagaimana brand bisa masuk ke komunitas, tetapi apa yang bisa diberikan kepada komunitas tersebut. Jangan sampai komunitas hanya diperlakukan sebagai channel promosi. Harus ada value yang memang dirasakan oleh anggotanya,” katanya.

Nilai tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kegiatan, mulai dari aktivitas bersama, edukasi, akses terhadap informasi, pengalaman, hingga dukungan terhadap program yang telah berjalan di dalam komunitas. Karena itu, kemitraan dengan komunitas tidak selalu harus diwujudkan melalui acara berskala besar.

“Kadang engagement justru bisa lebih kuat ketika bentuknya lebih sederhana dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Misalnya perusahaan hadir dalam kegiatan komunitas, membuat program bersama, atau memberikan akses dan pengalaman tertentu. Dari situ muncul percakapan yang lebih organik karena orang merasa brand hadir bukan hanya untuk menjual sesuatu,” ujarnya.

Ruang komunitas juga memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk mendengarkan publik secara lebih langsung. Respons, pertanyaan, dan pengalaman yang muncul dalam percakapan dapat menjadi sumber insight untuk memahami bagaimana produk, program, maupun pesan perusahaan diterima oleh kelompok audiens tertentu.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam Business Review and Case Studies pada 2025. Meta-analisis tersebut menemukan hubungan positif antara aktivitas social media marketing dan kepercayaan terhadap brand (brand trust). Komunikasi yang lebih langsung antara brand dan konsumen dinilai dapat membantu perusahaan merespons pertanyaan, keluhan, maupun gagasan konsumen, sehingga mendukung terbentuknya kepercayaan.

Tiga Metrik Dasar untuk Membaca Performa Konten Digital Baca Juga Tiga Metrik Dasar untuk Membaca Performa Konten Digital

Praktik berbasis komunitas juga terlihat dalam strategi korporasi. Unilever Indonesia, misalnya, mencatat penguatan community-led engagement dan aktivasi hiper-lokal dalam Annual Report 2025 sebagai bagian dari upaya mendekatkan brand dengan konsumen. Pendekatan tersebut dilakukan melalui berbagai aktivitas di tingkat komunitas dan kota untuk membangun relevansi dengan kelompok konsumen yang lebih spesifik.

Namun, kepercayaan melalui komunitas tidak dapat dibangun hanya melalui satu kali kehadiran. Konsistensi menjadi faktor penting agar perusahaan tidak dipersepsikan sekadar datang untuk memperoleh eksposur.

“Trust itu tidak bisa dibangun hanya dari satu event. Kalau perusahaan memang ingin membangun hubungan dengan komunitas, harus ada konsistensi. Komunitas harus dilihat sebagai partner, bukan hanya audience atau channel untuk menyampaikan campaign,” tuturnya.

Pada akhirnya, komunitas bukan pengganti media maupun media sosial. Media tetap berperan memperluas penyebaran informasi, sementara platform digital membantu membangun kesadaran terhadap brand. Komunitas menawarkan fungsi yang berbeda, yakni memperdalam percakapan dan membuka ruang bagi hubungan yang lebih personal dengan publik.

Pendekatan berbasis komunitas menjadi salah satu bagian dari strategi PublikaLabs dalam membantu perusahaan membangun keterlibatan dengan audiens yang relevan. Melalui kegiatan, kemitraan, community engagement, dan digital amplification, komunikasi perusahaan dapat dirancang tidak hanya untuk memperluas eksposur, tetapi juga untuk membangun percakapan dan hubungan yang lebih dekat serta berkelanjutan dengan publik.

Follow news.publikalabs.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Tentang penulis Fatma Kumala

Fatma Kumala merupakan pemerhati perkembangan komunikasi dan masyarakat di era digital. Ia tertarik pada bagaimana teknologi menghadirkan cara-cara baru dalam berkomunikasi, membangun hubungan, menyampaikan pengalaman, dan memahami informasi. Melalui tulisan, Fatma mengeksplorasi perubahan perilaku yang muncul dari perkembangan digital serta bagaimana perubahan tersebut memengaruhi hubungan antara masyarakat, media, dan organisasi.

Mengapa Akun Kecil Bisa Mengubah Percakapan Publik?

Jumlah followers bukan satu-satunya ukuran pengaruh. Akun kecil dapat membentuk percakapan ketika memiliki relevansi, kredibilitas, dan kedekatan dengan komunitas.

Putri Jilan21 September 20268 menit baca