BOGOR — Jumlah pengikut tidak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan perusahaan ketika memilih creator untuk mendukung komunikasi maupun kampanye. Di tengah audiens digital yang semakin beragam, kesesuaian karakter audiens dengan target komunikasi menjadi faktor penting, selain besarnya jumlah followers.
Perubahan ini mendorong perusahaan untuk melihat creator bukan sekadar sebagai kanal untuk memperoleh jangkauan, melainkan juga sebagai figur yang memiliki kedekatan dengan audiens tertentu dan mampu menyampaikan pesan secara relevan.
Digital Marketing PublikaLabs, Putri Jilan Anisah, mengatakan jumlah followers tetap dapat digunakan sebagai indikator awal dalam memetakan creator. Namun, angka tersebut tidak secara otomatis menunjukkan kesesuaian seorang creator dengan kebutuhan komunikasi perusahaan.
“Followers tetap menjadi salah satu indikator, tetapi bukan satu-satunya. Yang lebih penting adalah melihat siapa audiensnya, apakah sesuai dengan target yang ingin dijangkau, bagaimana engagement-nya, dan apakah karakter creator tersebut relevan dengan pesan yang ingin disampaikan,” kata Jilan di kantor PublikaLabs, (13/10/2026).
Baca Juga
Kreator, Media, dan Brand: Siapa yang Membentuk Persepsi Publik?
Menurutnya, creator dengan jumlah pengikut lebih sedikit dapat memiliki nilai komunikasi yang lebih tinggi apabila memiliki audiens yang spesifik dan tingkat keterlibatan yang kuat.
“Misalnya sebuah brand ingin menyampaikan isu tertentu, creator dengan audiens yang memang memiliki ketertarikan terhadap isu tersebut bisa jadi lebih relevan dibanding creator dengan followers jauh lebih besar tetapi audiensnya tidak sesuai,” jelasnya.
Pertimbangan serupa juga terlihat dalam praktik kemitraan untuk kegiatan atau acara. Event Partnership Sozo, Lutfi, mengatakan jumlah followers masih menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih creator, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan peluang kerja sama.
“Kurang lebih masih memperhatikan, tapi tidak menutup kemungkinan untuk tidak bergabung dalam event tersebut. Selagi masih bisa mendapatkan value, akan terus mengikuti,” ujarnya.
Menurut Lutfi, peluang kolaborasi tidak selalu ditentukan oleh besarnya jumlah pengikut. Creator dengan skala audiens yang berbeda tetap berpeluang dipilih selama kerja sama tersebut menawarkan nilai yang relevan.
“Tetap dipilih karena peluang bisa dari mana saja,” katanya.
Followers Tetap Relevan, tetapi Bukan Penentu Tunggal
Jilan menilai, pendekatan tersebut membuat perusahaan perlu mengevaluasi creator secara lebih menyeluruh sebelum menentukan pilihan. Selain jangkauan, perusahaan perlu memperhatikan kesesuaian audiens, kualitas interaksi, karakter konten, dan kredibilitas creator pada isu yang akan disampaikan.
Baca Juga
Konten Bagus Tidak Selalu Harus Ramai, Makna Lebih Penting
“Yang kita cari bukan hanya reach, tetapi audience fit. Kita perlu melihat apakah audiensnya sesuai, bagaimana kualitas interaksinya, seperti apa konten yang biasa dibuat, dan apakah creator tersebut punya credibility di isu yang akan dibawa,” tambah Jilan.
Dengan demikian, jumlah followers tetap relevan sebagai salah satu indikator, tetapi tidak cukup untuk menentukan keberhasilan sebuah kolaborasi.
“Kalau hanya melihat followers, kita mungkin tahu seberapa besar potensi jangkauannya, tetapi belum tahu apakah pesan kita benar-benar sampai dan diterima oleh orang yang tepat,” tutupnya.
Pergeseran ini mencerminkan perubahan pendekatan dalam creator marketing, dari strategi yang berorientasi pada jangkauan (reach-based approach) menuju pendekatan yang turut mempertimbangkan relevansi audiens, keterlibatan (engagement), kredibilitas, dan kesesuaian dengan tujuan komunikasi.
Dengan pendekatan tersebut, pertanyaan dalam memilih creator tidak lagi terbatas pada “berapa banyak pengikutnya?”, tetapi juga mencakup siapa yang mengikutinya, apa yang menjadi perhatian audiens, dan seberapa relevan figur tersebut dengan pesan yang ingin disampaikan.
Pendekatan berbasis relevansi ini juga menjadi bagian dari strategi PublikaLabs dalam membantu perusahaan menjangkau audiens digital. Melalui pemetaan KOL dan creator, creator partnership, serta digital amplification, pemilihan figur komunikasi dapat mempertimbangkan kesesuaian audiens, karakter konten, tingkat keterlibatan, dan konteks pesan, bukan semata-mata jumlah pengikut.












