Lewati ke konten
Memuat cuaca Jakarta...
Strategic Communication Intelligence & Advisory Tentang Kami Kontak
Membaca Isu, Memahami Komunikasi

Social Media Tidak Lagi Sekadar Tempat Bersosialisasi

Social media 2026 bukan lagi sekadar ruang bersosialisasi. Video, creator, dan algoritma mengubah cara audiens menemukan informasi dan membentuk percakapan.

Shopia Dwi Lestari
Shopia Dwi Lestari Penulis · Selasa, 29 September 2026 · 12:32:00 WIB · Editor: Kevin Khanza
Social Media Tidak Lagi Sekadar Tempat Bersosialisasi
Ilustrasi Social Media (Sumber gambar: Magnific)

Apakah social media masih bisa disebut sekadar tempat untuk bersosialisasi?

Pertanyaan tersebut semakin sulit dijawab dengan sederhana. Social media kini tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi dengan teman atau keluarga, tetapi juga menjadi tempat menemukan berita, menonton video, mengikuti isu, mencari penjelasan, hingga membangun hubungan dengan figur publik dan creator.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa fungsi social media telah bergeser dari sekadar ruang interaksi menjadi bagian penting dari ekosistem informasi. Laporan Digital News Report 2026 yang diterbitkan Reuters Institute for the Study of Journalism, University of Oxford, bahkan menunjukkan bahwa social media dan jaringan video untuk pertama kalinya menjadi cara yang paling banyak digunakan untuk mengakses berita secara online di 48 pasar yang diteliti. Secara global, 54% responden menggunakan social media dan video networks sebagai sumber berita, sedikit lebih tinggi dibandingkan website dan aplikasi organisasi berita yang berada di angka 51%.

Perubahan tersebut bukan sekadar soal semakin banyaknya orang menggunakan social media. Yang berubah adalah posisi social media dalam perjalanan sebuah informasi dari sumber menuju audiens.

Audiens Tidak Selalu Datang kepada Media

Selama bertahun-tahun, social media identik dengan aktivitas berbagi kehidupan, membangun koneksi, dan berkomunikasi dengan orang lain. Kini, platform yang sama telah menjadi salah satu pintu masuk utama untuk menemukan informasi.

Membangun Keahlian Brand lewat Konten yang Konsisten Baca Juga Membangun Keahlian Brand lewat Konten yang Konsisten

Dalam laporan Reuters Institute, perubahan tersebut berkaitan dengan meningkatnya platformisation dalam konsumsi berita. Audiens semakin sering menemukan informasi melalui platform pihak ketiga seperti social media dan jaringan video, alih-alih secara langsung mengunjungi website atau aplikasi organisasi media.

Artinya, audiens tidak selalu datang kepada media. Media justru perlu hadir di tempat audiens menghabiskan waktunya.

Pola yang sama berlaku bagi brand dan organisasi. Pesan yang hanya tersedia di website perusahaan belum tentu menjadi pesan pertama yang ditemukan publik. Sebuah isu mengenai brand dapat lebih dulu muncul di TikTok, Instagram, YouTube, atau melalui seorang creator sebelum audiens pernah mengunjungi kanal resmi perusahaan.

Video Menjadi Jalan Masuk Informasi

Salah satu perubahan paling terlihat terjadi pada konsumsi video.

Sebanyak 77% responden global dalam Digital News Report 2026 mengatakan mengonsumsi video berita online setiap minggu. Untuk pertama kalinya, mayoritas responden di seluruh 48 pasar yang diteliti mengakses berita melalui video online.

Video dalam konteks ini juga tidak lagi identik dengan televisi. YouTube, TikTok, dan Instagram telah menjadi bagian dari ruang konsumsi informasi sehari-hari.

Secara global, 34% responden menggunakan YouTube untuk mengakses berita, 26% menggunakan Instagram, dan 20% menggunakan TikTok. Facebook masih berada di angka 43%. Namun, angka global tersebut tidak berarti pola penggunaan setiap platform sama di semua negara.

Indonesia menjadi salah satu pasar yang menarik untuk diperhatikan. Lebih dari 40% responden Indonesia dalam laporan tersebut mengatakan menggunakan TikTok untuk mengakses berita dalam sepekan terakhir.

Bagi industri komunikasi, perubahan ini berarti informasi tidak lagi selalu dicari melalui format yang sama. Cara publik menerima sebuah pesan semakin dipengaruhi oleh format dan lingkungan platform tempat pesan tersebut ditemukan.

Creator Mengubah Cara Informasi Terasa Dekat

Perubahan berikutnya datang dari semakin kuatnya posisi creator.

Sekitar 27% responden global mendapatkan berita dari individual creator atau influencer yang berfokus pada berita, sementara 46% mendapatkan berita dari creator dalam kategori yang lebih luas. Laporan tersebut juga menemukan bahwa creator dinilai lebih menghibur, mudah dipahami, dan relatable dibandingkan organisasi berita tradisional, meskipun rata-rata dinilai lebih rendah dalam aspek kepercayaan dan independensi.

Temuan tersebut memperlihatkan sesuatu yang lebih luas daripada sekadar persaingan antara creator dan media. Audiens tidak selalu mencari sumber yang paling formal. Mereka juga mencari figur yang dapat membuat informasi terasa dekat, mudah dipahami, dan relevan dengan pengalaman sehari-hari.

Bagi brand, perubahan tersebut memperluas pengertian tentang komunikasi. Pesan yang benar tetap penting, tetapi cara pesan tersebut dikemas, disampaikan, dan masuk ke dalam percakapan publik juga semakin menentukan bagaimana informasi diterima.

Creator dalam konteks ini dapat berperan bukan hanya sebagai distributor pesan, tetapi juga sebagai penerjemah informasi dan pembentuk konteks bagi audiens.

Strategi Konten Tidak Bisa Lagi Seragam

Perubahan perilaku audiens juga memengaruhi cara organisasi menentukan platform distribusi.

Laporan Journalism, Media, and Technology Trends and Predictions 2026 menunjukkan bahwa publisher menempatkan YouTube sebagai salah satu prioritas utama dalam strategi distribusi, disusul TikTok dan Instagram. Sebaliknya, Facebook dan X mengalami penurunan prioritas, sementara LinkedIn mendapat perhatian lebih besar terutama untuk publikasi spesialis dan bisnis.

Angka tersebut tidak berarti sebuah platform tertentu telah kehilangan relevansinya. Yang berubah adalah fungsi dan prioritas setiap platform dalam strategi distribusi.

YouTube memiliki karakter kuat sebagai ruang video dengan durasi dan format yang beragam. TikTok menjadi ruang discovery dan short-form video. Instagram tetap kuat sebagai ruang visual, sedangkan LinkedIn memiliki konteks yang lebih dekat dengan profesional dan bisnis.

Karena karakter tersebut berbeda, strategi “satu konten untuk semua platform” semakin sulit dipertahankan. Satu gagasan dapat tetap sama, tetapi cara gagasan tersebut dikemas perlu menyesuaikan lingkungan tempat audiens menemukannya.

Dari Followers ke Attention

Perubahan paling mendasar mungkin bukan terletak pada platform mana yang paling populer, melainkan pada cara perhatian audiens diperoleh.

Dari Cara Bicara ke Personal Branding di Media Sosial Baca Juga Dari Cara Bicara ke Personal Branding di Media Sosial

Dulu, salah satu ukuran penting social media adalah jumlah followers. Semakin besar jumlah pengikut, semakin besar pula potensi sebuah akun menjangkau audiensnya.

Kini, seseorang tidak harus menjadi follower untuk menemukan sebuah konten.

Algoritma rekomendasi memungkinkan sebuah video muncul kepada orang yang sebelumnya tidak pernah mengenal akun tersebut. Karena itu, akun dengan basis followers yang relatif kecil tetap dapat memperoleh jangkauan besar apabila kontennya dianggap relevan oleh sistem rekomendasi.

Followers tetap memiliki nilai, terutama sebagai indikator hubungan yang telah terbentuk. Namun, angka tersebut tidak lagi cukup untuk membaca keberhasilan komunikasi di social media.

Reach, watch time, retention, engagement, sentiment, conversation, serta bagaimana sebuah isu bergerak dari satu platform ke platform lain perlu dibaca secara bersamaan. Perhatian menjadi sesuatu yang lebih dinamis daripada sekadar jumlah orang yang menekan tombol follow.

Apa Artinya bagi Brand?

Perubahan tersebut membawa setidaknya tiga konsekuensi bagi brand.

Pertama, konten perlu dirancang berdasarkan karakter platform. Konten Instagram tidak otomatis cocok untuk TikTok, sementara konten LinkedIn tidak harus diperlakukan sama dengan konten Instagram. Perbedaan karakter audiens, format, dan sistem rekomendasi membuat satu gagasan membutuhkan pendekatan yang berbeda di setiap kanal.

Kedua, creator tidak lagi sekadar menjadi channel tambahan. Mereka telah menjadi bagian dari ekosistem informasi yang dapat mendistribusikan pesan, menerjemahkan isu, sekaligus membentuk konteks yang diterima audiens.

Ketiga, monitoring tidak cukup hanya menghitung jumlah mention. Ketika percakapan tersebar melalui video, creator, dan berbagai platform, yang perlu dibaca bukan hanya seberapa banyak sebuah brand disebut, tetapi bagaimana narasinya berkembang, siapa yang membentuknya, bagaimana publik merespons, dan dari mana percakapan tersebut mulai bergerak.

Di titik inilah social media monitoring perlu berkembang menjadi social media intelligence.

Memahami Ekosistem, Bukan Sekadar Platform

Pertanyaan strategis bagi brand tidak lagi berhenti pada, “Harus aktif di platform mana?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: di mana audiens menemukan percakapan tentang brand, siapa yang membentuk percakapan tersebut, dan bagaimana narasinya berkembang?

Perbedaannya cukup mendasar.

Mengetahui jumlah mention menunjukkan seberapa sering sebuah brand muncul. Mengetahui siapa yang membicarakannya menunjukkan aktor yang membentuk percakapan. Membaca perpindahan narasi antarplatform membantu melihat bagaimana sebuah isu berkembang, berubah, atau memperoleh momentum.

Dengan cara pandang tersebut, social media tidak lagi dilihat sebagai kumpulan akun yang harus diisi konten secara rutin. Ia menjadi sebuah ekosistem percakapan yang terus bergerak.

Brand dapat memulai sebuah pesan, tetapi tidak selalu menentukan di mana pesan tersebut berakhir. Sebuah konten dapat dipotong, dibahas ulang, ditafsirkan creator, diperbincangkan komunitas, lalu muncul kembali dalam bentuk yang berbeda di platform lain.

Social Media 2026 Bukan Sekadar Persoalan Platform

Digital News Report 2026 memperlihatkan bahwa perubahan terbesar dalam social media bukan sekadar perpindahan pengguna dari satu platform ke platform lain. Yang berubah adalah cara manusia menemukan informasi.

Audiens semakin menemukan berita melalui video, creator, algoritma rekomendasi, dan platform pihak ketiga. Bahkan informasi dapat muncul di hadapan seseorang tanpa harus dicari secara aktif.

Karena itu, strategi komunikasi tidak cukup hanya menentukan platform mana yang harus digunakan. Yang perlu dipahami adalah bagaimana informasi bergerak di dalam ekosistem tersebut.

Social media pada akhirnya bukan lagi sekadar tempat untuk bersosialisasi. Ia telah menjadi ruang tempat perhatian diperebutkan, informasi ditemukan, opini terbentuk, dan reputasi berkembang.

Bagi brand, tantangannya bukan sekadar hadir di social media, tetapi memahami bagaimana brand hadir di dalam percakapan yang terus bergerak.

Sebab di era ketika audiens tidak lagi harus mengikuti sebuah akun untuk menemukan pesannya, memiliki followers bukan lagi akhir dari strategi komunikasi. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana sebuah pesan ditemukan, dipercaya, dibicarakan, dan bergerak dari satu orang ke orang lainnya.

Follow news.publikalabs.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Tentang penulis Shopia Dwi Lestari

Shopia adalah praktisi media partner dan komunikasi yang sehari-hari bergelut dengan reputation, client, dan deadline. Ia memiliki ketertarikan pada marketing, consumer behavior, digital communication, dan hubungan antara brand dengan audiens. Pengalamannya dalam penulisan akademik juga membawanya mengeksplorasi berbagai persoalan pemasaran dan perilaku konsumen, termasuk melalui tulisan "Pengaruh Viral Marketing, Electronic Word of Mouth, dan Halal Label terhadap Keputusan Pembelian Konsumen" yang telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Di luar aktivitas profesionalnya, Shopia gemar tidur, ngopi, belajar Mandarin, dan bermusik.