Lewati ke konten
Membaca Isu, Memahami Komunikasi

New Media Mengubah Cara Brand Berkomunikasi dengan Publik

New media mengubah cara publik menilai brand. Perusahaan perlu membaca percakapan digital, merespons keluhan, dan menindaklanjuti persoalan di baliknya.

Nabila Ayu
Nabila Ayu Penulis · Selasa, 03 November 2026 · 07:30:00 WIB · Editor: Kevin Khanza
New Media Mengubah Cara Brand Berkomunikasi dengan Publik
Ilustrasi (Sumber gambar: Magnific)

JAKARTA — Sebuah perusahaan mengunggah permintaan maaf di media sosial setelah pelanggan mengeluhkan layanan yang buruk. Dalam beberapa menit, kolom komentar dipenuhi pengalaman serupa. Ada yang menceritakan kejadian lama, ada yang mempertanyakan penjelasan perusahaan, sementara pengguna lain membagikan unggahan tersebut ke akun mereka.

Perusahaan sudah menyampaikan pernyataan resmi. Namun, percakapan terus berjalan dan arah pembahasannya tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh perusahaan.

Situasi seperti ini semakin lazim dalam komunikasi digital. Kehadiran new media mengubah posisi publik dalam hubungan dengan brand. Konsumen tidak hanya menerima informasi, tetapi juga dapat menguji pernyataan perusahaan, membandingkannya dengan pengalaman orang lain, dan menyebarkan penilaian mereka sendiri.

Perubahan tersebut membuat pekerjaan komunikasi jauh lebih rumit daripada mengelola jadwal publikasi atau memastikan konten terunggah tepat waktu. Tim komunikasi harus memahami apa yang sedang dibicarakan, mengapa suatu persoalan mendapat perhatian, dan apakah respons perusahaan sudah menjawab kebutuhan publik.

Setelah Pesan Dipublikasikan, Percakapan Berjalan Sendiri

Dalam pola komunikasi konvensional, perusahaan memiliki kendali lebih besar atas pesan yang disampaikan melalui iklan, siaran pers, atau media massa. Publik memang dapat memberikan tanggapan, tetapi ruang untuk menyebarkan respons secara langsung tidak sebesar sekarang.

Langkah Jitu Membangun Strategi Komunikasi Digital Baca Juga Langkah Jitu Membangun Strategi Komunikasi Digital

Media sosial dan platform digital mengubah keadaan tersebut. Satu unggahan pelanggan dapat memancing tanggapan dari pengguna lain. Pengalaman pribadi kemudian dibandingkan, diperdebatkan, bahkan berkembang menjadi penilaian terhadap perusahaan secara keseluruhan.

Persoalannya, percakapan publik tidak selalu mengikuti pesan yang ingin disampaikan brand. Penjelasan mengenai pembaruan produk, misalnya, bisa tenggelam oleh keluhan tentang layanan pelanggan. Kampanye yang dirancang untuk membangun citra positif juga dapat memunculkan pertanyaan tentang kebijakan perusahaan yang belum terselesaikan.

Di sinilah perbedaan antara menyampaikan pesan dan mengelola komunikasi terlihat. Publikasi merupakan salah satu tahap pekerjaan. Setelah itu, perusahaan perlu memperhatikan respons yang muncul dan menentukan apakah ada persoalan yang harus ditangani.

Praktisi komunikasi tidak cukup hanya memeriksa jumlah komentar atau membalas pertanyaan yang masuk. Mereka perlu membaca isi percakapan. Keluhan yang muncul berulang kali, pertanyaan yang tidak kunjung terjawab, atau perubahan nada pembicaraan dapat menunjukkan adanya persoalan yang lebih besar daripada satu komentar negatif.

Reputasi Tidak Hanya Dibentuk oleh Pernyataan Resmi

Perusahaan dapat mengatur isi siaran pers, materi promosi, dan pernyataan juru bicara. Namun, perusahaan tidak bisa menentukan bagaimana pelanggan menceritakan pengalaman mereka.

Seorang konsumen yang puas mungkin merekomendasikan produk kepada teman-temannya. Sebaliknya, pelanggan yang kecewa dapat mengunggah bukti transaksi, foto, atau rekaman percakapan dengan layanan pelanggan. Unggahan semacam itu bisa menjadi bahan penilaian bagi calon konsumen lain.

Akibatnya, reputasi brand terbentuk dari banyak sumber. Informasi resmi perusahaan tetap berpengaruh, tetapi publik juga mempertimbangkan pengalaman pengguna, ulasan, pemberitaan, dan pembicaraan di komunitas digital.

Bagi tim komunikasi, kondisi ini membuat pemantauan percakapan menjadi pekerjaan penting. Bukan untuk mengawasi setiap komentar, melainkan menemukan pola yang dapat membantu perusahaan memahami persoalan.

Satu keluhan tentang keterlambatan pengiriman mungkin merupakan kasus individual. Namun, jika keluhan serupa muncul dari berbagai pelanggan dan terjadi berulang kali, perusahaan perlu memeriksa kemungkinan adanya masalah dalam proses distribusi.

Perbedaan itu menentukan langkah berikutnya. Keluhan individual mungkin cukup diteruskan kepada layanan pelanggan. Persoalan yang melibatkan banyak konsumen perlu dibicarakan dengan bagian operasional. Jika isu mulai menyebar dan menarik perhatian media, perusahaan mungkin membutuhkan koordinasi komunikasi yang lebih luas.

Tanpa membaca konteks, perusahaan berisiko memperlakukan semua komentar negatif dengan cara yang sama. Padahal, tidak setiap kritik merupakan krisis, dan tidak setiap persoalan dapat diselesaikan melalui jawaban di kolom komentar.

Cepat Merespons Tidak Sama dengan Terburu-buru

Kecepatan penyebaran informasi sering membuat perusahaan merasa harus segera memberikan tanggapan. Tekanan ini dapat dimengerti, terutama ketika sebuah isu mulai ramai dibicarakan. Namun, pernyataan yang dikeluarkan sebelum fakta diperiksa justru bisa menimbulkan persoalan baru.

Dalam situasi tertentu, perusahaan perlu lebih dahulu memastikan kronologi, menghubungi unit yang menangani persoalan, dan mengetahui informasi apa yang boleh disampaikan kepada publik. Tim komunikasi juga perlu memahami siapa yang berwenang memberikan penjelasan agar tidak muncul pernyataan berbeda dari beberapa bagian perusahaan.

Misalnya, ketika beredar keluhan mengenai keamanan produk, tim komunikasi tidak dapat menyusun jawaban hanya berdasarkan komentar yang terlihat di media sosial. Informasi perlu diperiksa bersama bagian terkait. Jika masalahnya menyangkut kualitas produk, penjelasan harus memiliki dasar dari pihak yang memahami proses produksi dan pengawasan mutu.

Social Listening: Cara Brand Memahami Percakapan Publik Baca Juga Social Listening: Cara Brand Memahami Percakapan Publik

Pekerjaan komunikasi dalam situasi seperti ini adalah memastikan informasi yang telah diperiksa dapat disampaikan dengan jelas, pada waktu yang tepat, dan melalui pihak yang berwenang.

Respons cepat memang dapat membantu mengurangi ketidakpastian. Namun, kepercayaan publik lebih bergantung pada ketepatan informasi dan kesesuaian antara pernyataan dengan tindakan perusahaan setelahnya.

Tidak Semua Platform Membutuhkan Pesan yang Sama

Perusahaan kini berhadapan dengan beragam kanal digital. Setiap platform memiliki kebiasaan pengguna dan bentuk interaksi yang berbeda. Cara menyampaikan informasi melalui siaran pers tentu tidak bisa begitu saja dipindahkan ke video pendek atau unggahan media sosial.

Informasi yang membutuhkan konteks mungkin lebih tepat dijelaskan melalui artikel di situs resmi. Pertanyaan pelanggan dapat ditangani melalui kanal layanan. Sementara itu, video pendek bisa digunakan untuk menjelaskan informasi tertentu secara ringkas, selama substansinya tidak hilang.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menyamakan strategi distribusi dengan menggandakan materi. Pesan yang sama diunggah ke semua kanal tanpa mempertimbangkan siapa yang menggunakan platform tersebut dan informasi apa yang mereka butuhkan.

Padahal, konsistensi brand tidak berarti setiap kanal harus memuat kalimat dan format yang identik. Perusahaan perlu menjaga fakta, sikap, dan pesan utamanya, sembari menyesuaikan cara penyampaian.

Keputusan mengenai kanal juga perlu mempertimbangkan situasi. Ketika pelanggan membutuhkan penyelesaian masalah pribadi, balasan terbuka di media sosial belum tentu cukup. Sebaliknya, jika persoalan menyangkut informasi yang keliru dan sudah menyebar luas, penjelasan publik mungkin diperlukan agar klarifikasi dapat diakses lebih banyak orang.

Angka Interaksi Tidak Menjelaskan Seluruh Cerita

Media digital menyediakan banyak data untuk mengevaluasi komunikasi. Tayangan, jangkauan, komentar, pembagian konten, dan sentimen percakapan dapat memberikan gambaran mengenai respons audiens.

Namun, angka yang tinggi tidak selalu menunjukkan keberhasilan. Video promosi yang memperoleh jutaan tayangan belum tentu membuat orang memahami produk. Unggahan dengan ribuan komentar juga belum tentu menghasilkan persepsi yang baik terhadap perusahaan.

Karena itu, angka perlu dibaca bersama isi dan konteks percakapan. Jika sebuah konten memperoleh banyak komentar, tim komunikasi perlu melihat apa yang sebenarnya dibicarakan. Apakah audiens tertarik pada informasi yang disampaikan, mempertanyakan klaim perusahaan, atau justru memperdebatkan hal lain yang tidak berkaitan dengan tujuan kampanye?

Pertanyaan semacam itu lebih berguna daripada sekadar melaporkan kenaikan interaksi. Hasil evaluasi dapat menjadi dasar untuk memperbaiki pesan, memilih format, atau mengubah pendekatan komunikasi berikutnya.

Pemantauan juga dapat memperlihatkan persoalan yang tidak selalu terlihat dalam laporan performa konten. Keluhan yang terus berulang, misalnya, mungkin menunjukkan adanya masalah pada produk atau layanan. Temuan tersebut perlu diteruskan kepada bagian yang dapat melakukan pemeriksaan, bukan hanya disimpan sebagai catatan tim media sosial.

Pekerjaan Komunikasi Tidak Berhenti di Ruang Digital

Percakapan di media sosial sering kali berawal dari persoalan yang terjadi di luar platform. Pelanggan mengeluhkan layanan yang diterima, warga mempertanyakan kegiatan perusahaan, atau konsumen meminta penjelasan mengenai kebijakan tertentu. Media digital hanya menjadi tempat persoalan itu terlihat dan menyebar.

Karena itu, tim komunikasi perlu terhubung dengan bagian lain di dalam perusahaan. Keluhan tentang pengiriman membutuhkan informasi dari operasional. Pertanyaan mengenai produk memerlukan penjelasan dari tim terkait. Persoalan yang menyangkut kebijakan perusahaan perlu diketahui manajemen sebelum respons disampaikan.

Jika komunikasi hanya bertugas merapikan pernyataan tanpa akses terhadap informasi internal, jawabannya akan mudah terputus dari persoalan yang dihadapi publik. Perusahaan mungkin terlihat aktif merespons, tetapi masalah yang menjadi sumber keluhan tetap tidak terselesaikan.

New media membuat jarak antara perusahaan dan publik terasa semakin dekat. Apa yang sebelumnya hanya disampaikan melalui saluran pengaduan kini dapat muncul di ruang terbuka dan menjadi perhatian banyak orang. Bagi perusahaan, keadaan ini menuntut pemahaman yang lebih baik terhadap percakapan publik dan kesiapan untuk menindaklanjutinya.

Brand boleh mengatur pesan yang ingin disampaikan. Namun, penilaian publik akan terus terbentuk dari pengalaman dan tindakan perusahaan sehari-hari. Di ruang digital, pernyataan resmi dapat dibaca dalam hitungan detik; kesesuaiannya dengan kenyataan akan terus diperiksa oleh orang-orang yang berinteraksi dengan brand.

Follow news.publikalabs.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Tentang penulis Nabila Ayu

Nabila Ayu Ambarini adalah praktisi media sosial dengan latar belakang Komunikasi Digital dan Media, dengan ketertarikan pada strategi media sosial, pengembangan konten, komunikasi pemasaran, dan komunikasi digital. Memiliki ketertarikan pada bagaimana kreativitas, strategi, dan pemahaman terhadap audiens dapat dikombinasikan untuk membangun komunikasi dan analisis kinerja konten. Berpengalaman mengelola kebutuhan komunikasi digital untuk berbagai proyek dan industri, mulai dari pengembangan ide hingga eksekusi konten. Memiliki ketertarikan pada bagaimana kreativitas, strategi, dan pemahaman terhadap audiens dapat dikombinasikan untuk membangun komunikasi merek yang relevan dan efektif di media sosial.

Langkah Jitu Membangun Strategi Komunikasi Digital

Strategi komunikasi digital perusahaan perlu menghubungkan teknologi, kepemimpinan, budaya kerja, dan tata kelola agar informasi dipahami dan mendukung tujuan organisasi.

Shopia Dwi Lestari6 jam lalu11 menit baca