JAKARTA — Dalam bisnis barang konsumsi, penjualan sering dianggap sebagai garis akhir. Produk diproduksi, dikirim ke distributor atau toko, dibeli konsumen, lalu pendapatan dicatat. Dari sudut pandang akuntansi, transaksi memang dapat diakui ketika persyaratan pengakuan pendapatan terpenuhi, sementara biaya persediaan yang terkait dengan penjualan diakui sebagai beban pokok penjualan.
Namun, dari sudut pandang manajemen biaya, perjalanan sebuah produk belum tentu selesai ketika transaksi terjadi. Setelah meninggalkan pabrik, produk masih membawa konsekuensi ekonomi berupa risiko retur, potongan harga, rabat, biaya distribusi, penanganan produk yang tidak terjual, hingga penarikan produk yang mendekati kedaluwarsa. Perusahaan yang hanya melihat biaya sampai produk keluar dari pabrik berpotensi kehilangan sebagian informasi mengenai biaya sebenarnya untuk menghasilkan keuntungan.
Perspektif product life cycle costing menawarkan cara pandang yang lebih luas. Alan S. Dunk dalam Management Accounting Research menjelaskan bahwa analisis biaya siklus hidup membantu perusahaan melihat biaya produk secara lebih menyeluruh, mulai dari perencanaan, produksi, distribusi hingga aktivitas setelah produk berada di pasar. Pendekatan ini dapat membantu perusahaan memahami profitabilitas produk sekaligus membuat keputusan harga dengan informasi biaya yang lebih lengkap.
Sari Roti dan Produk yang Memiliki Umur Simpan
Gambaran tersebut relevan untuk industri makanan seperti PT Nippon Indosari Corpindo Tbk atau Sari Roti. Produk roti memiliki umur simpan yang membatasi waktu untuk menjual dan mengonsumsinya. Semakin lama produk berada dalam jaringan distribusi, semakin besar kemungkinan produk mendekati tanggal kedaluwarsa dan harus ditarik dari pasar.
Baca Juga
Satu Perusahaan, Laporan Keuangan Bisa Berbeda-beda
Laporan Keuangan Tahunan 2024 Sari Roti menunjukkan bahwa produk yang mendekati tanggal kedaluwarsa ditarik kembali dari pasar. Nilai produk yang ditarik pada 2024 tercatat Rp767 miliar, dibandingkan Rp729 miliar pada 2023 dan Rp494 miliar pada 2022. Perusahaan menyatakan produk tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak, sedangkan kemasannya diserahkan untuk didaur ulang.
Angka Rp767 miliar tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Nilai tersebut bukan berarti seluruhnya merupakan beban atau kerugian yang langsung muncul dalam laporan laba rugi, melainkan nilai produk yang ditarik dari pasar sebagaimana dilaporkan perusahaan. Namun, secara manajerial, angka tersebut tetap penting karena menunjukkan adanya aktivitas dan sumber daya yang berkaitan dengan produk setelah masuk ke pasar.
Di sinilah umur simpan menjadi bagian dari persoalan biaya. Untuk produk dengan masa simpan pendek, keputusan produksi tidak dapat dipisahkan dari keputusan distribusi. Produksi yang terlalu tinggi memang dapat meningkatkan potensi penjualan, tetapi juga memperbesar jumlah produk yang berisiko tidak terserap sebelum masa simpannya berakhir. Sebaliknya, produksi yang terlalu rendah dapat membuat perusahaan kehilangan peluang penjualan.
Persoalannya akhirnya bukan sekadar berapa banyak produk yang berhasil dijual, tetapi berapa biaya dan risiko yang muncul sepanjang perjalanan produk hingga benar-benar menghasilkan nilai ekonomi.
Retur Bukan Sekadar Produk yang Kembali
Retur sering diperlakukan sebagai persoalan operasional. Produk kembali ke perusahaan, kemudian dipisahkan, dihancurkan, dijual sebagai bahan lain, atau diproses melalui mekanisme tertentu. Padahal, arus retur juga dapat menjadi sumber informasi untuk pengambilan keputusan.
Penelitian Gökbayrak, Kayış, dan Güllü dalam International Journal of Production Economics menunjukkan bahwa informasi mengenai arus retur dapat digunakan dalam pengambilan keputusan persediaan. Dengan memasukkan pola retur ke dalam keputusan inventori, perusahaan dapat memperoleh gambaran yang lebih baik dibandingkan jika arus tersebut diabaikan.
Artinya, retur seharusnya tidak berhenti sebagai angka administratif. Jika suatu produk memiliki tingkat retur lebih tinggi daripada produk lain, perusahaan dapat menelusuri penyebabnya: apakah volume produksinya terlalu besar, distribusinya terlalu jauh, permintaannya tidak stabil, umur simpannya terlalu pendek, atau pola penjualannya berbeda antarwilayah.
Dari sini, akuntansi manajemen memiliki peran yang lebih strategis. Data biaya dan retur dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan yang lebih penting: produk mana yang benar-benar menghasilkan keuntungan setelah konsekuensi ekonominya diperhitungkan?
Dari Biaya Produksi ke Profitabilitas Produk
Perusahaan biasanya memiliki data biaya produksi yang cukup rinci. Bahan baku, tenaga kerja, energi, overhead, dan berbagai komponen produksi dapat dihitung. Namun, angka tersebut baru menggambarkan satu bagian dari perjalanan produk.
Baca Juga
Manchester City, 115 Tuduhan, dan Persoalan di Balik Angka Keuangan
Pendekatan life-cycle costing memperluas perhatian tersebut dengan melihat biaya sepanjang siklus hidup produk. Salah satu manfaat pendekatan ini adalah membantu perusahaan mengidentifikasi cost drivers, yaitu faktor yang mendorong munculnya biaya. Pada perusahaan makanan, faktor tersebut dapat berkaitan dengan volume produksi, pola permintaan, distribusi, umur simpan, retur, hingga karakteristik kanal penjualan.
Karena itu, evaluasi profitabilitas produk seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Berapa margin produk ini?” Pertanyaan yang lebih jauh adalah: “Aktivitas dan risiko apa saja yang harus ditanggung agar produk ini benar-benar menghasilkan margin tersebut?”
Pertanyaan kedua membuat perhatian bergeser dari sekadar biaya produksi menuju keseluruhan aktivitas yang membentuk biaya.
Penjualan Bukan Garis Akhir
Kinerja Sari Roti pada 2025 menunjukkan mengapa hubungan antara penjualan dan profitabilitas perlu dibaca secara hati-hati. Berdasarkan data resmi perusahaan, pendapatan 2025 mencapai sekitar Rp3,76 triliun, sedangkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp258,5 miliar. Pada 2024, pendapatan mencapai sekitar Rp3,93 triliun dan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sekitar Rp362,6 miliar.
Perubahan tersebut tentu dipengaruhi berbagai faktor dan tidak dapat disimpulkan hanya dari persoalan retur atau produk kedaluwarsa. Justru di situlah pentingnya melihat bisnis melalui rantai yang lebih lengkap: penjualan, biaya produksi, distribusi, umur simpan, retur, dan aktivitas setelah produk masuk pasar.
Bagi akuntansi manajemen, angka penjualan hanyalah salah satu bagian dari cerita. Produk mungkin sudah berpindah tangan, tetapi konsekuensi ekonominya belum tentu berhenti pada saat transaksi tercatat.
Perusahaan yang mampu menghubungkan data penjualan dengan produksi, distribusi, retur, umur simpan, dan biaya terkait akan memiliki gambaran yang lebih utuh mengenai profitabilitas produknya. Pada akhirnya, produk memang dapat sudah terjual secara akuntansi, tetapi perjalanan ekonominya belum tentu selesai.
Justru di antara dua titik itulah banyak informasi penting mengenai biaya, risiko, dan profitabilitas tersembunyi.












