Lewati ke konten
Memuat cuaca Jakarta...
Strategic Communication Intelligence & Advisory Tentang Kami Kontak
Membaca Isu, Memahami Komunikasi

Manchester City, 115 Tuduhan, dan Persoalan di Balik Angka Keuangan

Kasus Manchester City menunjukkan bagaimana kualitas informasi keuangan, transaksi pihak berelasi, dan Fair Market Value dapat memengaruhi ruang gerak klub.

Ircham Bachtiar
Ircham Bachtiar Penulis · Selasa, 29 September 2026 · 13:05:00 WIB · Editor: Kevin Khanza
Manchester City, 115 Tuduhan, dan Persoalan di Balik Angka Keuangan
Bendera Manchester City

JAKARTA — Di sepak bola, sebuah gol mengubah skor. Namun, di luar lapangan, sebuah angka dalam laporan keuangan dapat menentukan seberapa jauh sebuah klub memiliki ruang untuk bergerak.

Di situlah kasus Manchester City menjadi menarik jika dilihat dari perspektif akuntansi dan pengelolaan keuangan.

Pada Februari 2023, Premier League merujuk Manchester City ke komisi independen atas 115 dugaan pelanggaran aturan finansial. Tuduhan tersebut mencakup dugaan pemberian informasi keuangan yang tidak akurat, termasuk terkait pendapatan sponsor dan biaya operasional, remunerasi pemain dan manajer, kepatuhan terhadap aturan UEFA, Profitability and Sustainability Rules (PSR), serta kewajiban bekerja sama dalam proses investigasi.

Pada September 2026, Reuters melaporkan bahwa Manchester City dilaporkan dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dugaan pelanggaran tersebut. Namun, hasil lengkap belum dipublikasikan, sanksi belum ditetapkan, dan klub menyatakan proses masih berjalan serta berencana mengajukan banding. Manchester City juga tetap mempertahankan posisi bahwa mereka tidak melakukan kesalahan.

Satu Perusahaan,  Laporan Keuangan Bisa Berbeda-beda Baca Juga Satu Perusahaan, Laporan Keuangan Bisa Berbeda-beda

Kasus tersebut menarik bukan semata karena jumlah tuduhannya. Di baliknya terdapat pertanyaan yang sangat dekat dengan dunia akuntansi: seberapa dapat dipercaya angka yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ekonomi sebuah klub?

Bukan Sekadar Soal Klub Kaya

Kesalahpahaman paling sederhana terhadap regulasi finansial sepak bola adalah menganggap persoalannya hanya tentang seberapa banyak uang yang dimiliki klub.

Padahal, regulasi bekerja dengan pertanyaan yang lebih spesifik: dari mana pendapatan berasal, bagaimana transaksi tersebut dilakukan, berapa nilai ekonominya, bagaimana biaya dicatat, dan apakah informasi yang diberikan kepada regulator dapat dipercaya.

Dalam bisnis, uang yang masuk ke rekening memang merupakan fakta ekonomi. Namun, pencatatan dan pengukuran transaksi tidak berhenti pada keberadaan uang tersebut. Ada pertanyaan mengenai substansi transaksi, pihak yang terlibat, periode pengakuan, nilai transaksi, serta bukti yang mendukungnya.

Dalam sepak bola, angka-angka tersebut kemudian dapat digunakan dalam perhitungan kepatuhan terhadap aturan finansial. Karena itu, kualitas informasi keuangan dapat memiliki konsekuensi langsung terhadap ruang gerak sebuah klub.

Angka yang lebih besar di laporan bukan sekadar angka. Ia dapat memengaruhi bagaimana kondisi finansial klub dibaca oleh regulator.

Mengapa Transaksi dengan Pihak Berelasi Menjadi Penting?

Salah satu bagian menarik dalam sistem Premier League adalah Associated Party Transactions (APT).

Premier League menjelaskan bahwa aturan APT dirancang untuk mencegah klub memperoleh keuntungan finansial melalui transaksi dengan pihak yang memiliki hubungan dengan kepemilikan klub apabila transaksi tersebut tidak dilakukan pada Fair Market Value (FMV). Tujuannya berkaitan dengan efektivitas PSR dan upaya menjaga keberlanjutan finansial serta keseimbangan kompetisi.

Sederhananya, bayangkan sebuah klub menerima kontrak sponsorship senilai Rp100 miliar dari perusahaan yang memiliki hubungan dengan pemilik klub.

Kontraknya bisa saja benar-benar ada. Uangnya juga bisa benar-benar dibayarkan. Tetapi masih terdapat pertanyaan lain: apakah Rp100 miliar tersebut mencerminkan nilai pasar yang wajar untuk hak komersial yang diberikan?

Jika transaksi sejenis dengan klub lain memiliki nilai yang jauh lebih rendah, regulator memiliki alasan untuk menelaah lebih jauh bagaimana nilai transaksi tersebut ditentukan.

Premier League menyatakan bahwa dalam penilaian FMV, Board dapat mempertimbangkan penilaian dari ahli independen, informasi yang diberikan klub, serta data pembanding transaksi serupa yang tersedia melalui databank liga.

Jadi, persoalannya bukan sekadar apakah uang tersebut benar-benar berpindah tangan.

Yang juga diperiksa adalah apakah nilai ekonominya dapat dipertanggungjawabkan.

Fair Market Value Bukan Sekadar Harga yang Disepakati

Konsep tersebut memiliki kemiripan dengan pertanyaan yang sering muncul dalam akuntansi: apakah sebuah transaksi dengan pihak berelasi dilakukan pada kondisi yang wajar?

Dalam transaksi biasa, harga terbentuk melalui negosiasi antara pihak-pihak yang relatif independen. Namun, hubungan kepemilikan atau pengaruh tertentu dapat membuat kondisi transaksi menjadi berbeda.

Karena itu, transaksi pihak berelasi membutuhkan perhatian lebih besar. Bukan berarti setiap transaksi dengan pihak berelasi merupakan masalah, tetapi hubungan tersebut membuat proses penentuan nilai dan pengungkapannya menjadi lebih penting.

Penelitian Nguyen Vinh Khuong, Nguyen Thanh Liem, Le Huu Tuan Anh, dan Bui Thi Ngan Dung dalam Pacific Accounting Review pada 2024, misalnya, menemukan hubungan antara transaksi pihak berelasi dan praktik manajemen laba pada perusahaan nonkeuangan di Vietnam. Temuan tersebut tidak berarti setiap transaksi pihak berelasi merupakan manipulasi. Justru, penelitian tersebut menunjukkan mengapa transaksi semacam itu layak mendapat perhatian lebih dalam konteks kualitas pelaporan keuangan.

Dalam praktiknya, semakin kompleks sebuah transaksi, semakin penting pula dokumentasi, bukti pendukung, pembanding, dan proses pengawasan yang memadai.

Dari Angka Laporan ke Ruang Belanja Pemain

Di sinilah hubungan antara akuntansi dan sepak bola mulai terlihat lebih jelas.

Transaksi menghasilkan angka → angka masuk dalam informasi keuangan → informasi digunakan dalam perhitungan finansial → perhitungan memengaruhi ruang kepatuhan klub → ruang finansial ikut memengaruhi keputusan bisnis.

Akuntansi memang tidak menentukan siapa yang mencetak gol. Namun, angka keuangan dapat ikut menentukan seberapa besar ruang yang tersedia untuk mengambil keputusan sebelum pertandingan dimulai.

Premier League sendiri menjelaskan bahwa APT diperlukan untuk menjaga efektivitas PSR, antara lain dengan memastikan pendapatan dan biaya yang digunakan dalam perhitungan finansial tidak diperbesar atau ditekan melalui transaksi dengan pihak yang terkait dengan kepemilikan klub.

Fair Value Akuntansi Bikin Harga Laptop Naik Gila di 2026? Baca Juga Fair Value Akuntansi Bikin Harga Laptop Naik Gila di 2026?

Karena itu, regulasi finansial tidak hanya berbicara mengenai kemampuan klub membayar pemain. Ia juga berbicara mengenai kualitas angka yang digunakan untuk menggambarkan kemampuan tersebut.

Kasus Manchester City Bukan Perkara PSAK atau IFRS

Penting untuk membedakan antara kasus Manchester City dengan audit laporan keuangan perusahaan.

Kasus 115 tuduhan tersebut merupakan perkara kepatuhan terhadap aturan finansial Premier League, bukan perkara apakah laporan keuangan Manchester City telah memenuhi PSAK atau IFRS. Tuduhannya juga mencakup kewajiban memberikan informasi kepada Premier League dan dugaan pelanggaran terhadap berbagai aturan kompetisi.

Dengan demikian, tidak tepat menyederhanakan kasus ini menjadi “Manchester City bermasalah karena akuntansinya”.

Namun, ada irisan yang penting.

Baik regulator olahraga maupun sistem pelaporan keuangan membutuhkan informasi yang dapat dipercaya untuk mengambil keputusan. Jika sebuah angka digunakan sebagai dasar menghitung kondisi finansial, maka kualitas angka tersebut menjadi sangat penting.

Itulah mengapa pertanyaan yang lebih menarik bukan sekadar berapa banyak uang yang dimiliki klub, melainkan apakah angka yang digunakan untuk menggambarkan kondisi finansial klub memang dapat dipertanggungjawabkan.

Mengapa Pihak Berelasi Membutuhkan Perhatian Lebih?

Dalam perusahaan, transaksi dengan pihak berelasi juga memiliki tantangan serupa.

Hubungan antara dua pihak dapat memengaruhi bagaimana transaksi dirancang, dinegosiasikan, dan dinilai. Karena itu, transparansi mengenai siapa pihak yang terlibat menjadi bagian penting dalam memahami sebuah transaksi.

Misalnya, sebuah perusahaan membeli jasa dari entitas yang memiliki hubungan dengan pemegang sahamnya. Transaksi tersebut tidak otomatis salah. Tetapi perusahaan perlu memiliki dasar yang memadai untuk menunjukkan mengapa harga tersebut masuk akal dan bagaimana transaksi tersebut diperlakukan dalam laporan keuangan.

Di sinilah pengendalian internal, dokumentasi, pengungkapan, dan proses audit memainkan peran.

Bukan untuk menganggap seluruh transaksi pihak berelasi sebagai sesuatu yang mencurigakan, tetapi untuk memastikan bahwa hubungan antar-pihak tidak menghilangkan kebutuhan untuk mempertanggungjawabkan nilai ekonominya.

Angka yang Kredibel Menjaga Ruang untuk Mengambil Keputusan

Kasus Manchester City memperlihatkan bahwa angka keuangan pada akhirnya tidak berhenti di laporan.

Angka dapat digunakan untuk menghitung rasio, memenuhi batas regulasi, menentukan kemampuan investasi, dan menjadi dasar berbagai keputusan bisnis. Dalam sepak bola, konsekuensinya terlihat melalui ruang klub dalam mengelola skuad. Dalam perusahaan, konsekuensinya dapat muncul dalam keputusan investasi, pembiayaan, ekspansi, hingga pembagian sumber daya.

Karena itu, kualitas angka menjadi bagian dari kualitas pengambilan keputusan.

Satu transaksi yang nilainya tidak tepat dapat menghasilkan informasi yang keliru. Informasi yang keliru dapat menghasilkan perhitungan yang keliru. Dan perhitungan tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi keputusan bisnis.

Hubungan inilah yang membuat akuntansi jauh lebih penting daripada sekadar kegiatan mencatat uang masuk dan keluar.

Pelajaran Akuntansi dari Lapangan Sepak Bola

Kasus Manchester City menunjukkan bahwa akuntansi dan regulasi finansial memiliki satu kesamaan penting: angka harus memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika transaksi dengan pihak berelasi terjadi, perlu ada kejelasan mengenai pihak yang terlibat dan dasar penentuan nilainya. Ketika nilai transaksi digunakan dalam perhitungan finansial, perlu dipastikan bahwa angka tersebut mencerminkan kondisi yang relevan dengan aturan yang berlaku.

Premier League bahkan memiliki mekanisme khusus untuk menilai APT berdasarkan FMV, termasuk penggunaan ahli independen dan data pembanding transaksi.

Pada akhirnya, persoalan ini tidak hanya relevan bagi klub sepak bola.

Perusahaan dalam industri apa pun menghadapi pertanyaan yang sama ketika angka keuangan menjadi dasar keputusan: apakah angka tersebut benar, apakah nilainya masuk akal, dan apakah informasi yang digunakan benar-benar menggambarkan kondisi ekonomi yang ingin diukur?

Di lapangan, klub membutuhkan pemain untuk mencetak gol. Di ruang keuangan, klub membutuhkan angka yang kredibel untuk menentukan seberapa jauh mereka dapat bergerak.

Karena itu, sebelum berbicara mengenai siapa yang boleh membeli pemain dan berapa besar uang yang boleh dibelanjakan, ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah angka yang menjadi dasar keputusan tersebut memang dapat dipercaya?

Follow news.publikalabs.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Tentang penulis Ircham Bachtiar

Ircham Bachtiar merupakan pengamat isu bisnis dan keuangan dengan latar belakang Akuntansi. Ia memiliki ketertarikan pada bagaimana kinerja, biaya, arus kas, dan berbagai keputusan keuangan dapat memengaruhi keberlangsungan sebuah perusahaan. Latar belakang akademiknya juga membawanya mengeksplorasi berbagai persoalan akuntansi dan pengelolaan bisnis, termasuk analisis biaya produksi dan penetapan harga. Melalui tulisan, Ircham membahas isu bisnis dan keuangan dengan pendekatan yang berusaha menerjemahkan angka dan laporan keuangan menjadi cerita yang lebih mudah dipahami.