Lewati ke konten
Memuat cuaca Jakarta...
Strategic Communication Intelligence & Advisory Tentang Kami Kontak
Membaca Isu, Memahami Komunikasi

Aset Rp100 Miliar Bisa Bernilai Rp150 Miliar, Mengapa?

Ircham Bachtiar
Ircham Bachtiar Penulis · Selasa, 22 September 2026 · 17:06:00 WIB · Editor: Kevin Khanza
Aset Rp100 Miliar Bisa Bernilai Rp150 Miliar, Mengapa?
Ilustrasi

JAKARTA - Bayangkan sebuah perusahaan membeli tanah dan bangunan seharga Rp100 miliar sepuluh tahun lalu. Transaksinya jelas: perusahaan mengeluarkan Rp100 miliar dan memperoleh aset dengan nilai perolehan yang sama. Sepuluh tahun kemudian, kawasan di sekitar properti berkembang, harga tanah meningkat, dan aset yang dahulu dibeli Rp100 miliar secara ekonomi mungkin kini bernilai Rp150 miliar.

Pertanyaannya sederhana, tetapi penting bagi laporan keuangan: angka mana yang seharusnya menggambarkan aset tersebut—Rp100 miliar atau Rp150 miliar?

Di sinilah perbedaan antara historical cost dan fair value menjadi relevan. Keduanya menawarkan cara pandang berbeda terhadap nilai aset, dan masing-masing memiliki fungsi dalam pelaporan keuangan.

Akuntansi yang Mencatat Masa Lalu

Historical cost berangkat dari sesuatu yang konkret: berapa biaya yang benar-benar dikeluarkan perusahaan ketika memperoleh sebuah aset. Jika perusahaan membeli aset seharga Rp100 miliar, angka tersebut menjadi dasar pencatatan berdasarkan biaya perolehan. Pendekatan ini memiliki keunggulan karena berasal dari transaksi nyata dan dapat ditelusuri melalui dokumen pembelian.

Satu Perusahaan,  Laporan Keuangan Bisa Berbeda-beda Baca Juga Satu Perusahaan, Laporan Keuangan Bisa Berbeda-beda

Persoalan muncul ketika kondisi ekonomi berubah. Tanah yang dibeli sepuluh tahun lalu mungkin mengalami kenaikan nilai yang signifikan, tetapi angka biaya perolehannya tetap merujuk pada transaksi yang terjadi satu dekade sebelumnya.

Dengan demikian, historical cost sangat kuat dalam menjawab pertanyaan: berapa yang dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh aset tersebut?

Namun, pengguna laporan keuangan dapat memiliki pertanyaan berbeda: berapa nilai aset tersebut jika dilihat berdasarkan kondisi pasar pada saat ini?

Pertanyaan kedua membawa pembahasan pada fair value.

Ketika Akuntansi Melihat Nilai Sekarang

Fair value tidak sekadar berarti “harga pasar” dalam pengertian sederhana. Dalam PSAK 113, nilai wajar merupakan harga yang akan diterima untuk menjual aset atau dibayarkan untuk mengalihkan liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran.

Dengan kata lain, fair value berusaha menangkap nilai berdasarkan kondisi pasar pada saat pengukuran, bukan semata-mata berdasarkan harga ketika aset pertama kali diperoleh.

Perbedaan cara pandang tersebut dapat disederhanakan sebagai berikut. Historical cost menjawab pertanyaan tentang sejarah transaksi, sedangkan fair value berusaha memberikan informasi mengenai nilai berdasarkan kondisi pasar pada tanggal pengukuran.

Keduanya bukan sekadar menghasilkan angka yang berbeda. Keduanya memberikan informasi yang berbeda kepada pengguna laporan keuangan. Karena itu, akuntansi modern tidak sepenuhnya meninggalkan historical cost dan menggantinya dengan fair value. Standar akuntansi menggunakan pendekatan pengukuran yang beragam: sebagian pos tetap menggunakan biaya perolehan atau biaya diamortisasi, sementara pos tertentu menggunakan fair value sesuai ketentuan standar yang berlaku.

Properti Menjadi Contoh yang Sangat Jelas

Properti investasi merupakan salah satu contoh yang cukup mudah untuk melihat bagaimana konsep tersebut bekerja. PSAK 240, yang sebelumnya dikenal sebagai PSAK 13, mengatur akuntansi properti investasi. Setelah pengakuan awal, entitas dapat menggunakan model biaya atau model nilai wajar untuk properti investasi sesuai ketentuan standar.

Dalam model nilai wajar, perubahan nilai properti dapat diakui dalam laba rugi. PT PP (Persero) Tbk, misalnya, dalam laporan keuangannya menjelaskan bahwa properti investasi pada awalnya diukur berdasarkan biaya perolehan dan selanjutnya menggunakan nilai wajar. Keuntungan atau kerugian akibat perubahan nilai wajarnya diakui dalam laba rugi pada periode terjadinya. Penentuan nilai tersebut juga melibatkan penilai independen yang memiliki kualifikasi profesional dan pengalaman yang relevan.

Artinya, laporan keuangan tidak hanya menyimpan informasi mengenai berapa harga properti ketika dibeli. Dengan model nilai wajar, laporan keuangan juga dapat mencerminkan perubahan nilai ekonominya dari waktu ke waktu.

Di titik ini, angka akuntansi menjadi lebih dinamis. Namun, muncul pertanyaan berikutnya: jika properti tersebut tidak diperdagangkan setiap hari, dari mana angka Rp150 miliar berasal?

Siapa yang Menentukan Rp150 Miliar?

Fair value bukan angka yang muncul begitu saja. PSAK 113 menggunakan hierarki nilai wajar untuk menunjukkan seberapa kuat dasar informasi yang digunakan dalam pengukuran.

Secara sederhana, hierarki tersebut terdiri dari tiga tingkat.

Manchester City, 115 Tuduhan, dan Persoalan di Balik Angka Keuangan Baca Juga Manchester City, 115 Tuduhan, dan Persoalan di Balik Angka Keuangan

Level 1: menggunakan harga kuotasian yang tersedia di pasar aktif untuk aset atau liabilitas yang identik. Karena harga berasal dari pasar aktif, informasi pada tingkat ini merupakan input yang paling mudah diamati.

Level 2: menggunakan input yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung, tetapi bukan harga kuotasian yang termasuk dalam Level 1. Pengukuran dapat menggunakan informasi pasar untuk aset atau transaksi yang memiliki karakteristik tertentu yang dapat dibandingkan.

Level 3: menggunakan input yang tidak dapat diamati secara langsung. Pada tingkat ini, teknik valuasi dan asumsi tertentu memiliki peran yang lebih besar. Karena itu, transparansi mengenai metode, asumsi, dan informasi yang digunakan menjadi semakin penting.

Penelitian Mehnaz, Rahman, dan Kabir dalam Managerial Auditing Journal (2022), misalnya, menemukan bahwa pengungkapan tambahan terkait fair value Level 3 pada perusahaan real estat dapat memengaruhi bagaimana investor menilai penyesuaian fair value, terutama dalam kondisi ketidakpastian pasar.

Artinya, pembahasan mengenai fair value bukan hanya soal berapa nilainya, tetapi juga seberapa kuat dasar yang digunakan untuk menghasilkan angka tersebut.

Nilai Lebih Relevan, tetapi Bukan Tanpa Risiko

Di sinilah fair value memiliki daya tarik sekaligus tantangannya.

Historical cost memberikan jejak transaksi yang relatif jelas. Angka tersebut dapat ditelusuri kembali pada biaya yang benar-benar dikeluarkan ketika aset diperoleh. Fair value, di sisi lain, dapat memberikan informasi yang lebih dekat dengan kondisi ekonomi saat ini ketika pengukuran tersebut relevan dan dapat dilakukan sesuai standar.

Namun, semakin jauh sebuah pengukuran dari harga pasar yang dapat diamati secara langsung, semakin besar kebutuhan terhadap teknik valuasi, asumsi, dan pengungkapan. Karena itu, fair value tidak otomatis berarti lebih “benar” daripada historical cost.

Keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda. Historical cost membantu pengguna memahami sejarah transaksi dan biaya perolehan aset. Fair value membantu memberikan gambaran mengenai nilai berdasarkan kondisi pasar pada tanggal pengukuran.

Persoalannya bukan memilih angka yang lebih tinggi, tetapi memahami informasi apa yang sedang disajikan oleh masing-masing metode.

Rp100 Miliar atau Rp150 Miliar?

Jawabannya tidak sesederhana memilih angka yang paling mencerminkan kenaikan nilai aset. Akuntansi modern justru berusaha menjawab pertanyaan yang lebih penting: informasi seperti apa yang paling relevan bagi pengguna laporan keuangan dalam memahami posisi ekonomi perusahaan?

Dalam kondisi tertentu, biaya perolehan dapat memberikan informasi yang kuat karena memiliki dasar transaksi yang jelas dan dapat ditelusuri. Dalam kondisi lain, fair value dapat memberikan gambaran yang lebih relevan mengenai kondisi pasar pada tanggal pelaporan.

Itulah sebabnya laporan keuangan modern tidak hanya menjadi catatan mengenai transaksi masa lalu. Pada pos-pos tertentu, laporan keuangan juga berusaha menunjukkan bagaimana nilai ekonomi aset berubah seiring waktu.

Ketika sebuah aset yang dahulu dibeli Rp100 miliar kini dinilai Rp150 miliar, sejarah transaksinya tidak berubah. Perusahaan tetap mengeluarkan Rp100 miliar ketika aset tersebut dibeli. Yang berubah adalah cara nilai ekonominya dapat diukur dan disajikan berdasarkan kondisi yang relevan pada saat pelaporan.

Di situlah perbedaan historical cost dan fair value menjadi penting: bukan tentang memilih masa lalu atau masa kini, tetapi tentang memahami pertanyaan ekonomi yang ingin dijawab oleh sebuah angka dalam laporan keuangan.

Follow news.publikalabs.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Tentang penulis Ircham Bachtiar

Ircham Bachtiar merupakan pengamat isu bisnis dan keuangan dengan latar belakang Akuntansi. Ia memiliki ketertarikan pada bagaimana kinerja, biaya, arus kas, dan berbagai keputusan keuangan dapat memengaruhi keberlangsungan sebuah perusahaan. Latar belakang akademiknya juga membawanya mengeksplorasi berbagai persoalan akuntansi dan pengelolaan bisnis, termasuk analisis biaya produksi dan penetapan harga. Melalui tulisan, Ircham membahas isu bisnis dan keuangan dengan pendekatan yang berusaha menerjemahkan angka dan laporan keuangan menjadi cerita yang lebih mudah dipahami.