JAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) perlahan mengubah cara manusia bekerja. Di industri media, perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari penggunaan AI untuk membuat teks, gambar, atau video, tetapi juga mulai menyentuh bagian yang lebih mendasar: bagaimana pekerjaan direncanakan, diproduksi, didistribusikan, hingga dipantau.
Perubahan ini membuat perusahaan media menghadapi pertanyaan baru. Bukan lagi sekadar apakah AI perlu digunakan, melainkan bagaimana teknologi tersebut dapat ditempatkan dalam alur kerja tanpa menghilangkan peran manusia.
Asisten Profesor Kelompok Keahlian Sumber Daya Manusia dan Pengetahuan di School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Muhammad Yorga Permana, menyebut perkembangan AI membuat organisasi perlu melihat kembali bagaimana pekerjaan dirancang. Menurutnya, AI dapat meningkatkan produktivitas dan membantu pekerja menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, tetapi pada saat yang sama membawa tantangan baru terhadap dunia kerja.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa kehadiran AI tidak berhenti pada penambahan sebuah teknologi baru ke dalam perusahaan. Ada perubahan yang lebih besar, yakni bagaimana manusia, teknologi, dan proses kerja disusun agar dapat berjalan bersama.
Dari Menggunakan AI ke Mengubah Workflow
Dalam operasional media, pekerjaan sering kali terdiri dari rangkaian aktivitas yang berulang. Sebuah materi dapat melewati proses penerimaan order, pengecekan naskah, penyesuaian format, distribusi ke berbagai kanal, pemantauan publikasi, hingga penyusunan laporan.
Baca Juga
Google Flow dan Veo: Cara Membuat Video dengan AI Google dan Produk yang Bisa Digunakan
Selama proses tersebut dilakukan secara manual, pertumbuhan volume pekerjaan biasanya akan diikuti oleh pertumbuhan kebutuhan tenaga dan waktu. Semakin banyak kanal distribusi yang harus dikelola, semakin besar pula pekerjaan administratif yang harus dilakukan.
Di sinilah automation mulai memiliki peran.
Automation memungkinkan aktivitas yang memiliki pola jelas dan dapat diukur untuk dikerjakan oleh sistem. Sementara itu, manusia tetap berada pada bagian yang membutuhkan keputusan, kreativitas, evaluasi, dan penanganan kondisi yang tidak biasa.
Penelitian mengenai penggunaan AI pada media di Indonesia juga menunjukkan arah yang serupa. Studi yang dilakukan terhadap jurnalis televisi Indonesia menemukan bahwa para jurnalis cenderung melihat AI sebagai alat pendukung untuk membantu pekerjaan produksi rutin, sementara fungsi seperti pengambilan keputusan editorial, interpretasi konteks, dan verifikasi tetap dipandang sebagai tanggung jawab manusia.
Dengan demikian, penggunaan AI bukan berarti seluruh proses harus diserahkan kepada mesin. Justru tantangannya adalah menentukan bagian mana yang dapat dibantu teknologi dan bagian mana yang tetap membutuhkan manusia.
Produktivitas Menjadi Salah Satu Alasan
Perubahan tersebut bukan tanpa alasan. Salah satu daya tarik utama AI adalah potensinya untuk meningkatkan produktivitas.
Dalam Indonesia Developer Outlook 2026, Dicoding melaporkan bahwa sembilan dari sepuluh developer profesional yang disurvei merasakan peningkatan produktivitas setelah menggunakan AI generatif dalam alur kerja mereka. Survei tersebut melibatkan 3.163 talenta digital, dengan mayoritas responden melaporkan peningkatan produktivitas antara 20 persen hingga lebih dari 50 persen.
CEO Dicoding Narenda Wicaksono mengatakan AI dapat menjadi akselerator produktivitas, tetapi manusia tetap menjadi elemen utama dalam inovasi teknologi. Pandangan tersebut tercermin dalam tema Indonesia Developer Conference 2026, “Built by Humans, Accelerated by AI.”
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa teknologi dapat mempercepat pekerjaan, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Dalam konteks industri media, peningkatan produktivitas tidak selalu berarti menghasilkan lebih banyak konten. Produktivitas juga dapat berarti mengurangi pekerjaan administratif, mempercepat proses distribusi, mengurangi kesalahan input, atau memberikan lebih banyak waktu kepada tim untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan pemikiran.
Operasional Media yang Semakin Kompleks
Industri media saat ini tidak hanya berhadapan dengan kebutuhan produksi konten. Distribusi juga menjadi bagian penting dari pekerjaan.
Satu materi dapat didistribusikan melalui berbagai platform dengan karakteristik, format, audiens, dan pola konsumsi yang berbeda. Ketika jumlah kanal bertambah, pekerjaan untuk memastikan setiap distribusi berjalan sesuai rencana juga ikut bertambah.
Pada titik tertentu, persoalannya bukan lagi tentang kemampuan seseorang untuk bekerja lebih cepat, melainkan kemampuan sebuah sistem untuk menangani volume pekerjaan yang semakin besar.
Penelitian mengenai evolusi media berbasis AI di Indonesia menunjukkan bahwa penerapan automated journalism telah memengaruhi praktik ruang redaksi, peran profesional, serta cara organisasi media beradaptasi terhadap teknologi. Studi tersebut juga menempatkan efisiensi, etika, dan adaptasi tenaga kerja sebagai tiga aspek penting dalam penerapan teknologi otomatisasi di media.
Penelitian lain terhadap Liputan6.com juga menemukan bahwa AI digunakan tidak hanya untuk membantu produksi konten, tetapi juga untuk memantau topik yang sedang dibicarakan publik dan distribusinya, serta menjadi bagian dari infrastruktur teknologi dalam workflow yang terintegrasi.
Baca Juga
Claude Fable 5.1 dan Mythos 5.1: AI Terbaru Anthropic yang Makin Kuat untuk Coding, Riset, dan Pekerjaan Kompleks
Artinya, AI mulai bergerak dari sekadar alat bantu menjadi bagian dari sistem kerja.
Manusia Tetap Menjadi Pengendali
Meski automation menawarkan efisiensi, bukan berarti semua pekerjaan harus dibuat otomatis.
Dewan Pers melalui Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025 telah menerbitkan pedoman penggunaan AI dalam karya jurnalistik. Pedoman tersebut menempatkan penggunaan AI dalam kerangka etika, transparansi, dan kode etik jurnalistik.
Dalam penerapannya, aspek manusia tetap menjadi bagian penting. Dewan Pers juga menegaskan bahwa proses pembuatan karya jurnalistik dari awal hingga akhir harus melibatkan manusia dan bahwa informasi yang dihasilkan AI tetap perlu diperiksa karena belum tentu benar.
Prinsip tersebut sebenarnya dapat diterapkan lebih luas pada operasional media.
Automation dapat menangani pekerjaan yang sifatnya repetitif. AI dapat membantu mengolah informasi, mengidentifikasi pola, atau mempercepat proses tertentu. Namun keputusan akhir, kontrol kualitas, dan tanggung jawab terhadap hasil pekerjaan tetap membutuhkan manusia.
Karena itu, masa depan operasional media kemungkinan bukan tentang manusia versus AI. Polanya lebih dekat dengan manusia bekerja bersama AI.
Bukan Sekadar Menambahkan Teknologi
Tantangan terbesar perusahaan bukan sekadar memilih tools AI yang akan digunakan. Tantangan sebenarnya adalah memastikan teknologi tersebut masuk ke dalam workflow yang tepat.
Sebuah perusahaan dapat memiliki banyak tools AI, tetapi jika setiap pekerjaan masih dilakukan secara terpisah, data tidak terhubung, dan proses monitoring masih bergantung pada pekerjaan manual, manfaat automation akan menjadi terbatas.
Sebaliknya, ketika proses kerja dirancang sebagai sebuah sistem, AI dapat mengambil peran yang lebih besar.
Order masuk ke sistem. Data divalidasi. Pekerjaan diteruskan ke tahap berikutnya. Distribusi dilakukan sesuai kebutuhan. Status pekerjaan tercatat. Hasilnya dikumpulkan untuk monitoring dan laporan. Manusia kemudian mengambil alih ketika dibutuhkan keputusan atau penanganan khusus.
Perubahan seperti ini membuat automation bukan sekadar teknologi tambahan, tetapi bagian dari desain operasional.
Evolusi Cara Bekerja
Pada akhirnya, perkembangan AI mungkin tidak akan mengubah seluruh pekerjaan manusia dalam satu waktu. Perubahannya justru dapat berlangsung melalui hal-hal kecil yang terjadi setiap hari.
Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam dapat dipersingkat. Aktivitas administratif yang berulang dapat dikurangi. Data yang sebelumnya tersebar dapat dikumpulkan dalam satu sistem. Tim yang sebelumnya sibuk melakukan pekerjaan rutin dapat memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan analisis dan mengambil keputusan.
Karena itu, pertanyaan mengenai AI di dunia kerja tidak lagi cukup dijawab dengan “apakah pekerjaan manusia akan digantikan?”
Pertanyaan yang lebih relevan adalah: bagian mana dari pekerjaan yang seharusnya dilakukan manusia, bagian mana yang dapat dibantu AI, dan bagaimana keduanya dapat bekerja dalam satu sistem?
Bagi industri media, perubahan tersebut dapat menjadi bagian dari evolusi operasional—dari sekadar menyelesaikan pekerjaan secara manual menuju membangun sistem kerja yang lebih terukur, terhubung, dan mampu beradaptasi dengan skala pekerjaan yang terus berkembang.
AI mungkin mempercepat pekerjaan. Namun bagaimana teknologi tersebut benar-benar mengubah cara sebuah organisasi bekerja, tetap ditentukan oleh manusia.













