JAKARTA — Sebuah perusahaan telah menyiapkan siaran pers, merumuskan pesan utama, dan mendistribusikan informasi kepada berbagai media. Sejumlah pemberitaan kemudian terbit dengan judul dan sudut pandang yang berbeda. Dari sisi jumlah publikasi, kampanye tersebut terlihat berhasil. Namun, ketika isi berita ditelaah lebih jauh, pesan yang ingin disampaikan perusahaan justru tidak muncul secara konsisten.
Sebagian media menyoroti peluncuran produk, media lain mengangkat pernyataan eksekutif, sementara sebagian lainnya memilih aspek berbeda dari pengumuman awal. Nama perusahaan memang muncul di berbagai pemberitaan, tetapi informasi yang ingin ditonjolkan belum tentu menjadi bagian utama dari percakapan publik.
Situasi ini memperlihatkan tantangan mendasar dalam media relations: mendapatkan pemberitaan tidak selalu berarti berhasil menyampaikan pesan.
Bagi perusahaan, publikasi media merupakan salah satu cara untuk membangun awareness, memperkenalkan inovasi, dan memperkuat reputasi. Namun, keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah media yang menerbitkan berita. Cara informasi dipilih, dipahami, dan disajikan kembali oleh redaksi turut menentukan pesan yang akhirnya diterima pembaca.
Baca Juga
Brief Klien Berubah, Apakah Strategi Konten Harus Ikut Berubah?
Karena itu, evaluasi media relations perlu melampaui pertanyaan tentang berapa banyak pemberitaan yang berhasil diperoleh. Perusahaan juga perlu menilai apakah informasi yang disampaikan memiliki konteks dan nilai berita yang membuatnya relevan bagi audiens media.
Mendapatkan Coverage Tidak Sama dengan Mengendalikan Narasi
Dalam komunikasi korporasi, perusahaan biasanya menyiapkan key message sebagai acuan agar informasi yang disampaikan tetap konsisten. Pesan tersebut dapat berkaitan dengan manfaat produk, pencapaian bisnis, komitmen perusahaan, atau kontribusinya terhadap industri.
Namun, pesan yang telah dirumuskan secara internal tidak otomatis menjadi fokus pemberitaan. Media memiliki pertimbangan editorial sendiri dalam menentukan aspek yang paling relevan, informasi yang perlu ditempatkan di awal, serta konteks yang dibutuhkan pembaca untuk memahami sebuah peristiwa.
Akibatnya, satu pengumuman perusahaan dapat menghasilkan beragam sudut pemberitaan.
Misalnya, sebuah perusahaan teknologi mengumumkan peluncuran solusi baru untuk membantu bisnis meningkatkan efisiensi. Perusahaan ingin menekankan manfaat teknologi tersebut bagi operasional pelanggan. Namun, pemberitaan yang muncul justru lebih banyak menyoroti acara peluncuran, pernyataan pimpinan, atau kerja sama bisnis yang menyertai pengumuman tersebut.
Informasi yang disampaikan media belum tentu keliru. Namun, fokus pemberitaan dapat berbeda dari tujuan komunikasi perusahaan.
Perbedaan ini penting untuk dipahami. Keberhasilan media relations tidak dapat dinilai hanya berdasarkan kemunculan nama perusahaan atau produk dalam berita. Tim komunikasi juga perlu memeriksa apakah pesan prioritas muncul, bagaimana pesan tersebut dibingkai, dan konteks apa yang menyertainya.
Dengan kata lain, coverage menunjukkan bahwa informasi memperoleh ruang pemberitaan. Sementara itu, analisis pesan membantu menjelaskan bagaimana informasi tersebut disajikan kepada publik.
Mengapa Pesan Utama Bisa Berubah dalam Pemberitaan?
Perbedaan antara pesan yang direncanakan dan isi pemberitaan dapat muncul karena sejumlah faktor. Salah satunya adalah perbedaan antara bahasa korporasi dan kebutuhan editorial.
Perusahaan cenderung menyusun komunikasi untuk menjelaskan strategi, menonjolkan pencapaian, atau memperkuat posisi brand. Media, di sisi lain, membutuhkan informasi yang memiliki nilai berita, relevan bagi pembaca, dan didukung fakta yang memadai.
Ketika siaran pers terlalu berfokus pada klaim perusahaan tanpa menjelaskan persoalan yang lebih luas, pesan utama berpotensi kehilangan daya tarik editorialnya. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan.
Pertama, sudut pemberitaan (news angle). Sebuah pengumuman dapat memiliki beberapa aspek yang layak diberitakan. Jika perusahaan tidak menjelaskan mengapa informasi tersebut penting bagi publik atau industri, media dapat memilih sudut lain yang dinilai lebih menarik bagi pembacanya.
Kedua, kualitas dan relevansi kutipan. Pernyataan pimpinan dapat memperkuat berita apabila memberikan penjelasan, perspektif, atau informasi yang tidak sekadar mengulang pengumuman. Sebaliknya, kutipan yang terlalu umum dapat membuat pemberitaan lebih berfokus pada seremoni atau klaim promosi.
Ketiga, struktur siaran pers. Informasi terpenting seharusnya mudah ditemukan sejak awal. Jika inti berita tersembunyi di antara banyak informasi pendukung, media mungkin memilih aspek berbeda sebagai fokus utama.
Keempat, konteks yang menyertai informasi. Data pembanding, perkembangan industri, persoalan yang dihadapi publik, atau penjelasan mengenai dampak suatu inovasi dapat membantu wartawan memahami signifikansi sebuah pengumuman.
Faktor-faktor tersebut bukan berarti perusahaan harus mengendalikan cara media menulis berita. Sebaliknya, perusahaan perlu menyiapkan informasi yang kuat, relevan, dan memiliki dasar faktual agar pesan yang ingin disampaikan dapat dipahami dalam konteks editorial yang tepat.
Ketika Judul Berita Berbeda dari Pesan Perusahaan
Judul merupakan salah satu elemen pertama yang dibaca audiens. Dalam banyak situasi, judul juga menentukan aspek mana dari suatu peristiwa yang paling menonjol dalam pemberitaan.
Karena itu, perbedaan antara judul siaran pers dan judul berita dapat menjadi bahan evaluasi yang penting.
Sebuah siaran pers mungkin menekankan inovasi, efisiensi, atau manfaat bagi masyarakat. Namun, media dapat memilih judul yang lebih berfokus pada nilai investasi, pernyataan eksekutif, atau perkembangan industri yang melatarbelakangi pengumuman tersebut.
Perbedaan ini tidak otomatis menunjukkan kegagalan komunikasi. Judul berita merupakan bagian dari keputusan editorial, dan media memiliki kewenangan untuk menentukan judul berdasarkan isi serta fokus liputannya.
Hal yang perlu diperiksa adalah apakah perbedaan tersebut mengubah penekanan informasi secara signifikan.
Jika perusahaan ingin mengomunikasikan manfaat sebuah inovasi, tetapi sebagian besar pemberitaan hanya menonjolkan nilai investasi, tim komunikasi perlu meninjau kembali materi yang telah disiapkan. Apakah manfaat inovasi sudah dijelaskan secara konkret? Apakah tersedia data pendukung? Apakah sudut yang ditawarkan cukup relevan bagi pembaca?
Evaluasi tersebut lebih berguna daripada sekadar menghitung berapa banyak media yang menggunakan judul serupa dengan siaran pers.
Dengan membandingkan judul, paragraf pembuka, kutipan, dan isi berita, tim komunikasi dapat memahami bagian mana dari pesan yang berhasil muncul dan bagian mana yang tidak memperoleh perhatian.
Pesan Konsisten Tidak Berarti Semua Berita Harus Sama
Salah satu kesalahpahaman dalam komunikasi korporasi adalah menganggap konsistensi pesan berarti seluruh media harus menggunakan narasi yang identik.
Padahal, setiap media memiliki karakter pembaca, fokus pemberitaan, dan pendekatan editorial yang berbeda. Media bisnis mungkin tertarik pada dampak suatu kebijakan terhadap industri, sementara media teknologi lebih menyoroti inovasi dan penerapannya.
Keduanya dapat memberitakan peristiwa yang sama dengan sudut berbeda tanpa harus menghilangkan inti informasi yang disampaikan perusahaan.
Konsistensi pesan seharusnya dinilai berdasarkan ketepatan informasi dan keberadaan substansi utama yang relevan, bukan keseragaman judul atau susunan kalimat.
Baca Juga
Cara Menyatukan Beragam Produk dalam Satu Narasi Brand
Untuk mencapainya, perusahaan perlu membedakan pesan inti dari informasi pendukung. Pesan inti menjelaskan hal utama yang ingin dipahami audiens. Sementara itu, data, fakta, konteks industri, contoh penerapan, dan penjelasan narasumber membantu media mengembangkan berita sesuai kebutuhan pembaca.
Pendekatan ini memberi ruang bagi redaksi untuk menyusun pemberitaan secara independen sekaligus menyediakan landasan informasi yang memadai agar substansi pengumuman tidak hilang.
Dengan demikian, strategi komunikasi yang baik tidak berusaha membuat seluruh pemberitaan terdengar sama. Strategi tersebut memastikan informasi yang disampaikan memiliki dasar yang jelas, relevan, dan dapat dipahami dalam berbagai konteks editorial.
Mengukur Keberhasilan Melalui Isi Pemberitaan
Jika evaluasi kampanye hanya berfokus pada jumlah coverage, organisasi berisiko melewatkan pertanyaan yang lebih penting: apakah pemberitaan membantu mencapai tujuan komunikasi?
Integrated Evaluation Framework dari International Association for the Measurement and Evaluation of Communication (AMEC) membedakan keluaran komunikasi (outputs), respons audiens, hasil komunikasi (outcomes), dan dampak yang ingin dicapai. Kerangka ini mendorong praktisi untuk tidak menyamakan aktivitas publikasi dengan keberhasilan komunikasi secara keseluruhan.
Dalam konteks media relations, jumlah publikasi merupakan salah satu indikator output. Sementara itu, analisis isi pemberitaan membantu menilai karakteristik hasil publikasi, termasuk kemunculan pesan utama, konteks yang disajikan, dan kesesuaiannya dengan tujuan komunikasi.
Untuk menerapkan pendekatan tersebut, tim komunikasi dapat membandingkan tiga komponen berikut.
1. Pesan yang direncanakan
Identifikasi pesan utama sebelum distribusi dilakukan. Tentukan pula informasi pendukung yang diperlukan agar pesan tersebut dapat dipahami secara tepat.
2. Pesan yang benar-benar muncul
Telaah judul, paragraf pembuka, kutipan, dan isi pemberitaan. Catat apakah pesan utama muncul secara utuh, sebagian, atau tidak muncul. Perhatikan pula apakah terdapat konteks baru yang mengubah penekanan berita.
3. Relevansi pemberitaan terhadap tujuan komunikasi
Tinjau apakah pemberitaan membantu audiens memahami informasi yang ingin disampaikan. Jika tujuan kampanye adalah menjelaskan manfaat inovasi, misalnya, evaluasi perlu melihat apakah berita membahas manfaat tersebut, bukan sekadar menyebut nama produk.
Hasil analisis dapat disusun dalam matriks yang membandingkan pesan yang direncanakan dengan pesan yang muncul pada setiap media. Dari sana, tim dapat mengidentifikasi pola, seperti informasi yang konsisten diberitakan, pesan yang sering terlewat, atau sudut yang lebih banyak menarik perhatian redaksi.
Namun, kemunculan pesan dalam berita belum membuktikan bahwa pembaca telah memahami atau mempercayainya. Untuk menilai perubahan pemahaman, sikap, atau perilaku, organisasi memerlukan data tambahan yang sesuai dengan tujuan evaluasi.
Pembedaan ini penting agar laporan media relations tidak menarik kesimpulan yang melampaui bukti yang tersedia.
Memperkuat Strategi Sebelum Siaran Pers Dikirim
Evaluasi tidak harus menunggu sampai seluruh pemberitaan terbit. Sejumlah langkah dapat dilakukan sejak tahap perencanaan untuk meningkatkan kejelasan dan relevansi pesan.
Pertama, tetapkan tujuan komunikasi. Apakah pengumuman ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, menjelaskan inovasi, memperkuat reputasi, atau menyampaikan perkembangan bisnis? Tujuan tersebut akan memengaruhi pemilihan pesan dan media yang dituju.
Kedua, susun key message yang jelas dan didukung fakta. Hindari klaim terlalu luas apabila tidak tersedia data untuk menjelaskannya. Pesan yang konkret lebih mudah dikembangkan menjadi informasi yang relevan bagi pembaca.
Ketiga, tentukan news angle berdasarkan kebutuhan audiens. Sebuah inovasi akan lebih mudah dipahami jika dijelaskan melalui persoalan yang ingin diselesaikan, cara kerja solusi, dan relevansinya terhadap perkembangan industri, bukan semata-mata melalui kepentingan promosi perusahaan.
Keempat, sediakan informasi pendukung yang memadai. Data, dokumen, konteks, dan akses kepada narasumber dapat membantu wartawan melakukan verifikasi serta mengembangkan pemberitaan secara lebih mendalam.
Kelima, evaluasi hasil publikasi. Bandingkan pesan yang direncanakan dengan isi berita yang terbit. Temuan tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki materi komunikasi dan pendekatan distribusi pada kampanye berikutnya.
Langkah-langkah ini tidak menjamin setiap media akan mengangkat pesan yang sama. Namun, pendekatan tersebut membantu perusahaan menyampaikan informasi secara lebih jelas sekaligus memahami kebutuhan editorial media.
Dari Jumlah Publikasi Menuju Kualitas Komunikasi
Banyaknya pemberitaan tetap memiliki nilai bagi organisasi. Coverage dapat memperluas paparan informasi dan membuka peluang bagi perusahaan untuk menjangkau audiens yang berbeda.
Namun, jumlah publikasi saja tidak menjawab apakah pesan yang direncanakan telah tersampaikan. Setelah siaran pers dikirim, informasi memasuki proses editorial yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali perusahaan.
Karena itu, strategi media relations tidak cukup berfokus pada distribusi dan pencapaian jumlah publikasi. Strategi tersebut juga perlu memperhatikan kualitas materi, relevansi sudut pemberitaan, kesiapan informasi pendukung, dan evaluasi hasil liputan.
Bagi praktisi komunikasi, setiap coverage dapat menjadi sumber pembelajaran. Judul yang dipilih media, kutipan yang digunakan, serta konteks yang paling banyak diangkat dapat memberikan gambaran mengenai aspek informasi yang dianggap penting oleh redaksi.
Temuan tersebut dapat membantu organisasi memperbaiki strategi komunikasi berikutnya, selama interpretasinya didasarkan pada isi pemberitaan dan tidak sekadar pada asumsi.
Pada akhirnya, tujuan media relations bukan membuat seluruh media mengulang kalimat yang sama. Tujuannya adalah memastikan informasi memiliki substansi yang kuat, relevan bagi publik, dan mendukung tujuan komunikasi organisasi.
Keberhasilan media relations tidak berhenti ketika berita terbit. Evaluasi juga perlu melihat apa yang diberitakan, bagaimana informasi dibingkai, dan sejauh mana hasil publikasi mendukung tujuan komunikasi yang telah ditetapkan.















