Lewati ke konten
Membaca Isu, Memahami Komunikasi

Category Entry Points: Menghubungkan Brand dengan Kebutuhan Konsumen

Memahami Category Entry Points (CEP) membantu brand membangun asosiasi dengan situasi relevan agar lebih mudah muncul dalam ingatan konsumen.

Sylvania Bahar
Sylvania Bahar Penulis · Jumat, 16 Oktober 2026 · 15:38:00 WIB · Editor: Kevin Khanza
Category Entry Points: Menghubungkan Brand dengan Kebutuhan Konsumen
Ilustrasi (Sumber gambar: Magnific)

JAKARTA — Ketika membutuhkan kopi untuk memulai aktivitas pagi, seseorang mungkin langsung teringat pada merek tertentu. Saat ingin memesan makanan tanpa harus keluar rumah, merek layanan pesan antar yang sudah familiar bisa lebih dahulu muncul dalam pikirannya. Respons tersebut terlihat sederhana, tetapi menunjukkan bagaimana ingatan konsumen dapat memengaruhi pilihan terhadap sebuah brand.

Konsumen tidak selalu mengingat semua merek yang pernah mereka lihat atau gunakan. Dalam situasi tertentu, hanya beberapa merek yang muncul lebih dahulu di pikiran, sementara merek lain luput dari ingatan meskipun menawarkan produk atau layanan serupa.

Khusus Member

Masuk untuk melanjutkan membaca

Artikel ini gratis, cukup masuk atau daftar akun member.

Follow news.publikalabs.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Tentang penulis Sylvania Bahar

Sylvania Lucky Bahar merupakan KOL & Media Specialist dengan latar belakang di bidang komunikasi digital dan media. Berpengalaman mengelola social media dan content secara end-to-end, media relations, serta influencer marketing untuk kebutuhan brand dan institusi. Memiliki pengalaman dalam content planning, copywriting, audience engagement, creative production, hingga research dan sourcing KOL untuk mendukung berbagai kebutuhan komunikasi dan campaign. Memiliki ketertarikan pada pengembangan strategi komunikasi dan influencer partnership, dengan fokus membangun kolaborasi yang relevan antara brand, KOL, media, dan audiens.

Ancaman Brand Tak Selalu Datang dari Sentimen Negatif

Brand yang jarang dibicarakan di media dan media sosial sering dianggap aman karena tidak ada sentimen negatif. Namun, kondisi sepi bukan otomatis kabar baik—bisa jadi brand mulai kehilangan relevansi dan ruang di percakapan publik. Media monitoring dan analisis Share of Voice (SOV) diperlukan untuk membaca apakah keheningan itu tanda tenang atau justru peringatan dini.

Lufthy Sintia21 September 20266 menit baca