Jakarta — Media sosial memberikan ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan gagasan, membagikan pengalaman, maupun memperkenalkan kemampuan. Namun, keberadaan sebuah pesan tidak hanya ditentukan oleh apa yang disampaikan. Cara seseorang memilih kata, membangun cerita, hingga berinteraksi dengan audiens turut membentuk bagaimana dirinya dipersepsikan di ruang digital.
Di tengah arus konten yang muncul setiap hari, perhatian audiens menjadi semakin terbatas. Kondisi tersebut membuat komunikasi tidak lagi sekadar menjadi alat untuk menyampaikan informasi, tetapi juga bagian dari bagaimana seseorang memperkenalkan karakter dan identitasnya. Caption, pilihan bahasa, cara bercerita, bahkan respons terhadap komentar dapat menjadi potongan-potongan kecil yang membentuk gambaran tentang seseorang di balik sebuah akun.
Fadila Dwika, lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Ahmad Dahlan yang kini bekerja sebagai Social Media Specialist PublikaLabs, menilai kemampuan komunikasi memiliki peran penting dalam membangun citra melalui media sosial.
“Ketika kita menggunakan media sosial, sebenarnya kita sedang berkomunikasi dengan audiens. Karena itu, cara menyampaikan pesan menjadi penting. Pilihan kata, gaya bahasa, dan cara bercerita bisa membuat pesan yang sama memiliki kesan yang berbeda,” ujar Fadila.
Menurutnya, komunikasi di media sosial tidak berhenti pada persoalan apakah sebuah konten terlihat menarik. Pesan yang ingin disampaikan perlu memiliki kejelasan sekaligus mempertimbangkan siapa yang menjadi audiensnya. Dua konten dengan informasi yang sama dapat menghasilkan respons berbeda ketika disampaikan dengan bahasa, sudut pandang, dan cara bercerita yang berbeda.
“Konten yang bagus bukan hanya soal tampilannya menarik, tetapi juga apakah pesan yang ingin disampaikan bisa diterima oleh audiens. Kita harus tahu siapa yang ingin kita ajak berkomunikasi dan bagaimana cara menyampaikan pesan yang sesuai,” katanya.
Personal Branding Tidak Harus Terlihat Seperti Promosi Diri
Personal branding sering kali dikaitkan dengan pencapaian, keahlian, atau citra profesional yang ingin ditampilkan seseorang. Namun, membangun identitas di media sosial tidak selalu berarti menjadikan setiap unggahan sebagai ruang untuk menunjukkan keberhasilan.
Storytelling dapat membuat pengalaman, pengetahuan, maupun aktivitas sehari-hari menjadi bagian dari identitas yang dibangun secara lebih natural. Cerita mengenai proses belajar, pengalaman bekerja, sudut pandang terhadap suatu persoalan, atau proses menghasilkan sebuah karya dapat memperlihatkan karakter seseorang tanpa harus secara terus-menerus menyebutkan pencapaian.
Fadila melihat personal branding bukan sebagai upaya menciptakan persona baru, melainkan menemukan sisi yang memang dimiliki seseorang dan mengomunikasikannya secara konsisten.
“Personal branding bukan berarti membuat persona yang sepenuhnya berbeda dari diri kita. Justru kita perlu menemukan sisi atau kemampuan yang memang kita miliki, kemudian mengemasnya dengan cara yang bisa diterima oleh audiens,” tutur Fadila.
Pendekatan tersebut membuat personal branding lebih dekat dengan proses komunikasi jangka panjang daripada sekadar aktivitas membuat konten. Identitas tidak terbentuk dari satu unggahan, melainkan dari pola yang terus terlihat melalui topik yang dibicarakan, bahasa yang digunakan, sudut pandang yang dibawa, serta cara seseorang berinteraksi dengan publik.
Konsistensi Membentuk Karakter Akun
Konsistensi tidak selalu berarti menggunakan gaya visual yang sama atau membicarakan topik yang identik dalam setiap unggahan. Dalam konteks personal branding, konsistensi juga dapat muncul dari cara seseorang melihat sebuah persoalan dan bagaimana perspektif tersebut terus hadir dalam berbagai konten.
Seorang profesional, misalnya, dapat membagikan pengalaman kerja sekaligus pandangannya terhadap perkembangan industri. Pelaku usaha dapat menceritakan proses di balik produknya, sementara pekerja kreatif dapat memperlihatkan proses berpikir dan karya yang dihasilkan. Bentuknya berbeda, tetapi semuanya dapat membangun pola yang membantu audiens mengenali karakter akun tersebut.
Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk menunjukkan hasil akhir. Proses, pengalaman, dan cara seseorang memandang sesuatu juga dapat menjadi bagian dari cerita yang membentuk identitas digital.
Jejak Digital Ikut Membentuk Persepsi
Kebebasan untuk berkomunikasi di media sosial juga membawa konsekuensi lain. Setiap unggahan, komentar, maupun interaksi dapat menjadi bagian dari jejak digital yang berpotensi dilihat kembali dan membentuk persepsi dalam jangka panjang.
Karena itu, membangun personal branding tidak selalu berkaitan dengan membuat konten yang terlihat sempurna. Yang lebih penting adalah adanya kesesuaian antara pesan yang ingin dibangun dengan cara seseorang berkomunikasi sehari-hari.
Pada akhirnya, media sosial bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan perhatian paling besar. Cara seseorang menyampaikan gagasan, membangun cerita, menunjukkan keahlian, dan berinteraksi dengan orang lain turut menjadi bagian dari identitas yang terbentuk di ruang digital.
Personal branding kemudian bukan sekadar persoalan bagaimana seseorang ingin terlihat, melainkan bagaimana pola komunikasi yang dilakukan secara konsisten membuat publik mengenali siapa dirinya dan apa yang ingin ia bawa ke dalam percakapan.