Jakarta — Sebuah media tidak selalu tumbuh hanya dari nama perusahaan, konten, atau kanal distribusinya. Dalam banyak kasus, ada figur yang ikut membentuk cara publik mengenali media tersebut. Nama, gaya komunikasi, karakter, dan komunitas yang dibangun seorang figur dapat menjadi bagian dari pengalaman audiens terhadap sebuah brand media.
Di Indonesia, Narasi dengan Najwa Shihab serta Vindes dengan Vincent Rompies dan Desta menjadi contoh menarik dari hubungan antara figur dan brand media atau entertainment. Figur-figur tersebut tidak hanya hadir di depan kamera, tetapi juga menjadi bagian dari identitas yang berkembang bersama konten dan komunitasnya.
Karena itu, perubahan pada figur atau struktur perusahaan tidak selalu berhenti sebagai persoalan internal. Perubahan tersebut dapat menjadi bagian dari percakapan publik dan memunculkan pertanyaan yang lebih luas: seberapa kuat sebuah brand media ketika figur yang selama ini melekat dengannya mengalami perubahan?
Dua Perubahan, Dua Konteks
Narasi memberikan salah satu gambaran mengenai hubungan antara perubahan korporasi dan identitas media.
Pada September 2026, PT Global Digital International (GDI), entitas investasi di bawah GDP Venture yang terafiliasi dengan Grup Djarum, mengambil alih pengendalian PT Narasi Citra Sahwahita. Berdasarkan laporan yang mengutip dokumen korporasi, GDI menguasai 6.910 dari 6.911 saham Narasi, atau sekitar 99,99 persen. Nilai transaksi belum dipublikasikan.
Namun, perubahan kepemilikan tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan perubahan terhadap identitas editorial Narasi. Situs resmi Narasi masih mencantumkan Najwa Shihab sebagai anggota Dewan Redaksi dan menggambarkan Narasi sebagai media yang menjalankan program perbincangan, reportase, dokumenter, opini, komunitas, serta berbagai aktivitas digital dan offline.
Konteks berbeda terlihat pada Vindes. Pada Agustus 2026, Desta mengumumkan keputusannya untuk keluar dari Vindes Corp setelah sekitar lima tahun membangun perusahaan tersebut bersama Vincent Rompies. Vindes kemudian menyatakan aktivitas perusahaan tetap berjalan bersama Vincent dan tim.
Dua peristiwa tersebut tidak dapat disamakan. Pada Narasi, perubahan berkaitan dengan struktur kepemilikan perusahaan, sementara pada Vindes perubahan menyangkut keluarnya salah satu figur pendiri. Namun, keduanya memperlihatkan satu persoalan yang relevan bagi bisnis media: ketika figur telah menjadi bagian dari identitas brand, perubahan figur dapat menjadi bagian dari pengalaman publik terhadap brand tersebut.
Figur, Konten, dan Audiens
Head of Business Development PublikaLabs Abdillah melihat hubungan antara figur dan media sebagai sesuatu yang lebih kompleks daripada sekadar keberadaan seorang wajah di layar.
“Ketika figur sudah menjadi bagian dari identitas sebuah media, ada hubungan yang terbentuk antara figur, konten, dan audiens. Ketika salah satu unsur berubah, publik akan melihat apakah pengalaman yang mereka kenal masih tetap sama,” kata Abdillah.
Hubungan tersebut terbentuk secara bertahap. Audiens mengenal figur melalui konten, kemudian mengasosiasikan karakter figur tersebut dengan pengalaman ketika mengonsumsi media. Dalam jangka panjang, asosiasi itu dapat membuat batas antara personal brand dan media menjadi semakin tipis.
Namun, kedekatan tersebut tidak berarti seluruh audiens mengikuti sebuah media hanya karena figur tertentu. Basis audiens dapat terbentuk dari kombinasi figur, kualitas konten, format program, komunitas, serta identitas media yang berkembang dari waktu ke waktu.
Karena itu, angka subscriber atau followers saja tidak cukup untuk menjelaskan seberapa besar ketergantungan sebuah media terhadap figur tertentu.
Apakah Audiens Mengikuti Orang atau Brand?
Media digital memiliki banyak ukuran untuk membaca hubungan dengan audiens, mulai dari subscriber, views, reach, engagement, hingga pertumbuhan komunitas. Namun, angka-angka tersebut tidak secara otomatis menjawab pertanyaan mengenai sumber kedekatan audiens.
Pertanyaan yang lebih mendasar justru berada pada perilaku audiens setelah terjadi perubahan. Apakah program tetap dicari? Apakah konten dengan format yang sama masih memperoleh perhatian? Apakah audiens tetap berinteraksi dengan kanal resmi? Atau justru percakapan lebih banyak berpindah kepada akun personal figur?
Head of Marketing Communication PublikaLabs Kevin Khanza melihat figur sebagai salah satu pintu masuk yang kuat dalam membangun kedekatan dengan audiens.
“Figur bisa mempercepat terbentuknya kedekatan dengan audiens. Tetapi dalam jangka panjang, kedekatan itu perlu ikut melekat pada brand. Kalau tidak, ketika figur berubah, sebagian hubungan dengan audiens juga berpotensi ikut berubah,” ujar Kevin.
Dengan demikian, perubahan figur dapat menjadi momentum untuk melihat apakah hubungan audiens selama ini lebih banyak dibangun oleh orang, konten, atau brand.
Personal Brand yang Menjadi Aset Sekaligus Tantangan
Dalam bisnis media, personal brand memiliki dua sisi. Di satu sisi, figur dapat mempercepat awareness, membangun kedekatan, dan membawa komunitas yang sudah terbentuk. Di sisi lain, semakin kuat asosiasi antara figur dan perusahaan, semakin besar kebutuhan untuk memastikan identitas perusahaan memiliki fondasi yang dapat berdiri sendiri.
Persoalan tersebut membuat personal brand tidak hanya relevan bagi komunikasi eksternal. Ia juga berhubungan dengan brand architecture: bagaimana hubungan antara figur, program, konten, komunitas, dan corporate brand disusun sehingga masing-masing memiliki fungsi yang jelas.
Figur dapat menjadi wajah. Program menjadi produk konten. Komunitas membangun hubungan. Sementara corporate brand menjadi payung yang menjaga seluruh pengalaman tersebut tetap terhubung.
Karena itu, media yang tumbuh bersama figur perlu memastikan bahwa nilai yang dibawa figur perlahan menjadi bagian dari nilai brand, bukan berhenti sebagai atribut personal.
Perubahan Tidak Selalu Berarti Kehilangan Identitas
Perubahan kepemilikan Narasi menunjukkan sisi lain dari persoalan tersebut. Pergantian atau perubahan struktur di belakang perusahaan tidak otomatis berarti identitas media berubah.
Situs resmi Narasi masih mencantumkan Najwa Shihab dalam Dewan Redaksi dan tetap menggambarkan Narasi melalui berbagai bentuk konten serta aktivitas komunitasnya. Dengan demikian, perubahan korporasi dan perubahan brand merupakan dua hal yang dapat berjalan dengan kecepatan berbeda.
Struktur kepemilikan dapat berubah lebih cepat daripada persepsi publik terhadap sebuah media. Karena itu, perubahan di belakang layar tetap membutuhkan komunikasi yang jelas mengenai apa yang berubah, apa yang tetap sama, dan ke mana brand akan bergerak selanjutnya.
Abdillah melihat kejelasan tersebut sebagai bagian penting dari pengelolaan brand.
“Perubahan di belakang layar tidak selalu menjadi masalah. Yang menjadi masalah ketika publik tidak lagi memahami apa yang tetap sama dan apa yang berubah,” katanya.
Dalam konteks media yang memiliki figur kuat, komunikasi perubahan menjadi semakin penting karena publik tidak hanya berhubungan dengan institusi, tetapi juga dengan sosok yang selama ini menjadi bagian dari pengalaman mereka terhadap brand.
Vindes dan Tantangan Setelah Figur Berubah
Pada Vindes, perubahan terjadi pada salah satu figur pendiri yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari identitas perusahaan. Vindes menyatakan aktivitas perusahaan tetap berjalan bersama Vincent Rompies dan tim setelah Desta keluar.
Keluarnya Desta sendiri belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bagaimana performa Vindes akan berubah. Respons publik terhadap pengumuman tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap perubahan figur, tetapi perhatian terhadap sebuah peristiwa tidak sama dengan ukuran keberlangsungan brand.
Hal yang lebih menarik justru dapat dilihat setelah fase pengumuman berlalu. Apakah audiens tetap mengikuti konten Vindes? Apakah program-programnya tetap memiliki daya tarik? Apakah karakter yang selama ini dikenal publik tetap terasa meskipun komposisi figur berubah?
Pertanyaan tersebut membutuhkan waktu untuk dijawab melalui perilaku audiens, bukan hanya reaksi pada saat perubahan diumumkan.
Brand Media Diuji Setelah Figur Berubah
Figur dapat menjadi aset besar bagi sebuah media karena membawa sesuatu yang tidak mudah dibangun: pengenalan, karakter, kredibilitas, dan komunitas. Dalam tahap awal pertumbuhan, kekuatan tersebut bahkan dapat mempercepat sebuah media menemukan audiensnya.
Namun, semakin kuat hubungan antara figur dan media, semakin penting pula bagi perusahaan untuk membangun identitas yang tidak sepenuhnya bergantung pada satu orang.
Kekuatan sebuah media tidak hanya terlihat ketika figur utamanya masih berada di sana. Kekuatan tersebut justru lebih mudah diamati ketika terjadi perubahan.
Apakah audiens masih mengenali media tersebut? Apakah kontennya masih memiliki alasan untuk diikuti? Apakah karakter brand tetap terasa? Dan yang paling penting, apakah hubungan yang selama ini terbentuk ternyata berada pada figur atau sudah berkembang menjadi hubungan dengan media itu sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban yang sama untuk setiap perusahaan. Namun, perubahan figur memberikan kesempatan bagi sebuah media untuk melihat kembali fondasi brand yang telah dibangunnya.
Sebab pada akhirnya, figur dapat membawa audiens datang untuk pertama kali. Tetapi keberlangsungan sebuah media bergantung pada apakah audiens menemukan alasan untuk tetap tinggal setelah figur tersebut berubah.