Bukan Sekadar Formal, Begini Rilis Pers yang Layak Dilirik Media

Ilustrasi (Sumber gambar: Magnific)
Penulis: Lufthy Sintia
Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:50:00 WIB

JAKARTA — Banyak brand mengira rilis pers yang baik adalah rilis yang panjang, formal, dan dikirim kepada sebanyak mungkin wartawan. Padahal, banyaknya informasi tidak otomatis membuat sebuah rilis layak dibaca. Di tengah arus informasi yang terus masuk ke ruang redaksi, sebuah rilis harus mampu menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apa yang membuat kabar ini penting bagi publik?

Wartawan menerima berbagai informasi setiap hari, mulai dari rilis perusahaan, agenda institusi, perkembangan industri, hingga informasi yang muncul dari media sosial. Karena itu, persoalannya sering kali bukan apakah perusahaan memiliki sesuatu untuk diumumkan, melainkan apakah pengumuman tersebut memiliki nilai berita dan disampaikan dengan cara yang relevan bagi pembaca.

Produk baru, ekspansi bisnis, kerja sama, penghargaan, laporan kinerja, hingga program keberlanjutan pada dasarnya bisa menjadi bahan berita. Namun, tidak semua aktivitas perusahaan otomatis memiliki nilai jurnalistik. Cara sebuah perusahaan melihat dan membingkai peristiwa menjadi penting karena wartawan tidak membutuhkan materi promosi, melainkan informasi yang dapat dikembangkan menjadi berita.

Nilai Berita Menentukan Apakah Rilis Layak Dibaca

Langkah pertama bukan membuka dokumen dan mulai menulis. Langkah pertama adalah menentukan mengapa kabar tersebut layak diketahui publik.

Pertanyaan sederhananya: mengapa orang di luar perusahaan perlu peduli dengan kabar ini? Apakah ada perubahan yang berdampak pada konsumen? Apakah terdapat data baru? Apakah peristiwa tersebut berkaitan dengan perkembangan industri? Apakah ada persoalan yang sedang menjadi perhatian publik? Atau ada perspektif baru yang belum banyak dibahas?

Pertanyaan tersebut membantu memisahkan informasi yang hanya penting bagi internal perusahaan dari informasi yang memiliki relevansi lebih luas. Sebuah perusahaan mungkin menganggap pembukaan kantor baru sebagai pencapaian besar. Namun, bagi media, nilai beritanya bisa muncul ketika ekspansi tersebut berkaitan dengan pertumbuhan industri, investasi, penyerapan tenaga kerja, perubahan perilaku konsumen, atau perkembangan suatu wilayah.

Dengan kata lain, nilai berita tidak selalu terletak pada apa yang dilakukan perusahaan, tetapi pada mengapa peristiwa tersebut berarti bagi publik.

Judul dan Lead Menentukan Arah Cerita

Setelah nilai berita ditemukan, tantangan berikutnya adalah menyampaikannya dengan cepat. Judul dan paragraf pembuka menjadi bagian penting karena dari sana wartawan dapat menilai apakah sebuah rilis memiliki informasi yang cukup menarik untuk diteruskan.

Inti berita sebaiknya tidak disembunyikan di tengah rilis. Apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan atau di mana peristiwa berlangsung, serta mengapa informasi tersebut penting perlu muncul sedini mungkin. Bahasa yang digunakan juga sebaiknya sederhana dan spesifik, bukan dipenuhi istilah korporasi yang hanya dipahami oleh orang internal.

Kalimat seperti “perusahaan terus berkomitmen menghadirkan solusi inovatif terbaik bagi masyarakat” mungkin terdengar familiar dalam komunikasi korporasi, tetapi belum memberikan informasi yang cukup untuk menjadi berita. Sebaliknya, angka, perubahan kebijakan, fakta baru, keputusan bisnis, atau dampak konkret terhadap publik biasanya memberikan titik masuk yang lebih jelas bagi wartawan.

Rilis pers pada dasarnya bukan tempat untuk menyembunyikan berita. Berita justru perlu diletakkan di depan.

Rilis yang Baik Memudahkan Kerja Wartawan

Ada satu aspek yang sering dilupakan: rilis pers bukan hanya harus menarik, tetapi juga harus mudah digunakan.

Wartawan membutuhkan informasi yang dapat diverifikasi dan dikembangkan. Karena itu, data pendukung, konteks, kutipan narasumber, latar belakang perusahaan, serta narahubung yang jelas dapat membantu proses tersebut. Kutipan juga sebaiknya tidak hanya berisi slogan atau pernyataan normatif, tetapi memberikan perspektif yang memiliki substansi.

Kutipan seperti “kami sangat bangga dan optimistis dengan langkah ini” mungkin tidak banyak membantu apabila tidak disertai alasan, data, atau pandangan yang lebih spesifik. Kutipan yang menjelaskan mengapa sebuah keputusan diambil, perubahan apa yang terjadi, atau apa dampaknya terhadap industri akan memiliki nilai editorial yang lebih besar.

Hal yang sama berlaku untuk data. Angka yang muncul dalam rilis sebaiknya memiliki konteks dan sumber yang jelas. Jika terdapat data industri atau hasil penelitian, asal informasi perlu dapat ditelusuri sehingga wartawan tidak harus menghabiskan waktu untuk mencari kembali dasar dari sebuah klaim.

Semakin sedikit pekerjaan administratif yang harus dilakukan untuk memahami sebuah rilis, semakin besar peluang informasi tersebut berkembang menjadi berita.

Singkat Bukan Berarti Kehilangan Informasi

Panjang rilis juga perlu diperhatikan. Tidak ada ukuran mutlak bahwa setiap rilis harus selalu selesai dalam satu halaman, tetapi informasi yang terlalu panjang tanpa prioritas justru dapat mengaburkan berita utama.

Informasi terpenting sebaiknya berada di bagian awal, sementara konteks tambahan dapat ditempatkan setelahnya. Detail yang tidak terlalu penting bagi pemahaman awal tidak perlu memenuhi paragraf pembuka.

Prinsipnya bukan sekadar “buat sesingkat mungkin”, melainkan “buat sepadat mungkin.”

Rilis yang ringkas tetapi kehilangan konteks tetap menyulitkan wartawan. Sebaliknya, rilis yang cukup lengkap tetapi memiliki struktur informasi yang jelas akan jauh lebih mudah dipahami. Yang perlu dihindari adalah panjang yang muncul karena pengulangan pesan korporasi, bukan karena kebutuhan informasi.

Timing Juga Menentukan Nilai Sebuah Rilis

Kabar yang menarik tetap memiliki peluang lebih kecil untuk diperhatikan apabila dikirim tanpa mempertimbangkan konteks dan ritme kerja media.

Waktu pengiriman perlu mempertimbangkan kapan sebuah informasi paling relevan, kapan wartawan dan editor biasanya bekerja, serta apakah ada peristiwa lain yang sedang mendominasi perhatian media. Dalam situasi tertentu, rilis yang dikirim terlalu cepat sebelum informasi siap justru dapat menghasilkan informasi yang belum lengkap. Sebaliknya, rilis yang terlambat dapat kehilangan momentum.

Timing juga berkaitan dengan news cycle. Isu yang sedang berkembang bisa berubah dalam hitungan jam. Jika sebuah perusahaan memiliki informasi yang relevan dengan isu tersebut, keterlambatan komunikasi dapat membuat kesempatan editorial terlewat.

Karena itu, pekerjaan media relations bukan hanya mengetahui apa yang harus dikirim, tetapi juga kapan informasi tersebut memiliki relevansi paling tinggi.

Materi Pendukung Bukan Sekadar Pelengkap

Foto, infografik, data ringkas, profil narasumber, hingga materi visual lain dapat memperkuat sebuah rilis. Bagi media, materi tersebut bukan sekadar bonus, melainkan bagian dari ekosistem informasi yang membantu proses produksi berita.

Foto yang relevan dan memiliki kualitas baik dapat membantu kebutuhan visual. Data yang disusun secara ringkas dapat memudahkan verifikasi. Informasi mengenai narasumber dapat membantu editor menentukan siapa yang relevan untuk dikutip atau diwawancarai lebih lanjut.

Namun, kelengkapan materi tetap perlu disertai kerapian. Lampiran yang terlalu banyak, penamaan file yang tidak jelas, atau materi yang sulit diakses justru menambah pekerjaan.

Tujuannya bukan memberikan sebanyak mungkin bahan, tetapi memberikan bahan yang tepat dan siap digunakan.

Media Relations Tidak Berhenti pada Pengiriman Rilis

Di titik ini, terlihat bahwa pekerjaan media relations jauh lebih luas daripada membuat rilis pers dan menekan tombol send.

Sebuah rilis mungkin memiliki informasi yang menarik, tetapi tetap membutuhkan pemahaman mengenai karakter media, relevansi isu, momentum, kebutuhan redaksi, dan hubungan dengan wartawan. Karena itu, distribusi rilis sebaiknya tidak hanya berbasis daftar kontak sebanyak mungkin.

Wartawan yang meliput sektor ekonomi tentu memiliki kebutuhan informasi yang berbeda dengan wartawan teknologi, gaya hidup, atau politik. Memahami beat dan karakter media membuat pendekatan menjadi lebih relevan sekaligus mengurangi praktik mengirimkan informasi yang sebenarnya tidak berkaitan dengan liputan mereka.

Hubungan media juga dibangun dari kualitas interaksi yang konsisten. Jika setiap komunikasi hanya muncul ketika perusahaan memiliki sesuatu untuk dipublikasikan, relasi tersebut berisiko menjadi transaksional. Sebaliknya, pemahaman terhadap kebutuhan redaksi memungkinkan komunikasi berlangsung lebih kontekstual, bahkan ketika tidak ada rilis yang sedang didorong.

Rilis Pers Adalah Titik Awal, Bukan Tujuan Akhir

Pada akhirnya, rilis pers tidak seharusnya diperlakukan sebagai produk komunikasi yang selesai ketika sudah dikirim. Rilis adalah salah satu pintu masuk bagi informasi perusahaan untuk masuk ke ruang redaksi dan berkembang menjadi cerita yang memiliki relevansi bagi publik.

Karena itu, ukuran keberhasilannya bukan sekadar berapa banyak email yang terkirim atau berapa banyak wartawan yang menerima dokumen. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah informasi tersebut memiliki nilai berita, apakah media memahami konteksnya, apakah narasumber siap memberikan perspektif, dan apakah informasi tersebut dapat berkembang menjadi pemberitaan yang relevan.

Di sinilah peran agensi PR dan praktisi media relations menjadi penting. Bukan hanya menulis rilis dengan bahasa yang formal, tetapi menemukan sudut berita, menyusun informasi, memahami kebutuhan media, menentukan momentum, menyiapkan narasumber, dan membangun hubungan yang memungkinkan sebuah isu berkembang menjadi cerita.

Rilis pers bukan sekadar pengumuman tentang apa yang dilakukan perusahaan. Rilis yang baik memberi alasan kepada media untuk menceritakan mengapa hal tersebut penting.

Reporter: Lufthy Sintia