JAKARTA — Sebelum memutuskan membeli produk, bekerja sama, menghadiri sebuah acara, atau bahkan melamar pekerjaan, seseorang dapat melakukan satu hal sederhana: mencari nama perusahaan tersebut di Google.
Dalam beberapa detik, berbagai informasi tentang perusahaan dapat muncul. Mulai dari website resmi, pemberitaan media, media sosial, ulasan, profil pihak ketiga, hingga artikel yang diterbitkan bertahun-tahun lalu.
Di sinilah pencarian Google menjadi menarik dari perspektif komunikasi. Bukan karena Google secara langsung menentukan reputasi sebuah perusahaan, melainkan karena informasi yang ditemukan publik dapat menjadi salah satu bagian dari proses mereka membentuk kesan dan memahami sebuah perusahaan.
Sebelum Mengenal Brand, Publik Bisa Mencarinya Lebih Dulu
Perilaku publik dalam mencari informasi tentang brand terus berkembang. Meski media sosial semakin berperan dalam proses discovery, mesin pencari masih menjadi salah satu sumber yang digunakan masyarakat untuk menemukan informasi mengenai brand.
Laporan Digital 2026 dari We Are Social mencatat bahwa 38,3% pengguna internet di Indonesia berusia 16 tahun ke atas menggunakan search engine sebagai sumber untuk menemukan brand.
Angka tersebut menunjukkan bahwa mesin pencari masih memiliki posisi dalam perjalanan seseorang ketika ingin mengetahui sebuah brand.
Artinya, komunikasi perusahaan tidak hanya berlangsung ketika perusahaan membuat kampanye, mengunggah konten media sosial, atau menerbitkan informasi melalui kanal resminya.
Komunikasi juga dapat dimulai ketika seseorang mengetik nama perusahaan di kolom pencarian.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya:
“Apakah perusahaan kita muncul di Google?”
Melainkan:
“Apa yang muncul ketika nama perusahaan kita dicari?”
Perusahaan Tidak Sepenuhnya Mengontrol Apa yang Ditemukan Publik
Perusahaan memiliki berbagai kanal resmi untuk menyampaikan informasi. Website dapat digunakan untuk menjelaskan profil dan layanan, sementara media sosial menjadi ruang untuk berkomunikasi secara langsung dengan publik.
Namun, hasil pencarian tidak hanya berisi informasi dari kanal yang dikelola perusahaan.
Publik dapat menemukan pemberitaan media, artikel pihak ketiga, ulasan, forum, konten media sosial, hingga informasi lama yang masih tersedia secara online.
Kondisi tersebut membuat ruang digital menjadi lebih kompleks. Perusahaan mungkin ingin dikenal sebagai organisasi yang inovatif, profesional, atau memiliki kontribusi positif. Namun, ketika seseorang mencari informasi secara mandiri, ia dapat menemukan berbagai sumber dengan sudut pandang yang berbeda.
Bukan berarti setiap informasi tersebut akan langsung menentukan reputasi perusahaan. Namun, kumpulan informasi yang ditemukan dapat memberikan konteks berbeda bagi seseorang yang sedang mencoba memahami perusahaan tersebut.
Informasi Lama Masih Bisa Menjadi Bagian dari Pencarian
Ada satu aspek yang sering luput diperhatikan: informasi lama.
Sebuah berita yang diterbitkan beberapa tahun lalu mungkin masih muncul ketika nama perusahaan dicari. Begitu pula dengan artikel, profil, atau konten pihak ketiga yang belum diperbarui.
Bagi orang yang telah memahami konteksnya, informasi tersebut mungkin hanya merupakan bagian dari perjalanan perusahaan. Namun bagi seseorang yang baru pertama kali mengenal perusahaan, informasi lama dapat menjadi bagian dari kesan awal yang terbentuk.
Karena itu, mengelola komunikasi digital bukan hanya tentang apa yang sedang dikomunikasikan perusahaan hari ini.
Ada pertanyaan lain yang perlu diperhatikan:
“Jejak informasi apa yang masih dapat ditemukan publik tentang perusahaan kita?”
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika informasi digital memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada momentum publikasinya.
Dari Apa yang Ingin Disampaikan Menjadi Apa yang Ditemukan
Dalam komunikasi korporasi, perusahaan biasanya memulai dari pesan yang ingin disampaikan.
Apa yang ingin publik ketahui? Apa yang ingin dibangun? Apa yang ingin ditonjolkan?
Namun, ketika publik dapat mencari informasi secara mandiri, perspektif tersebut perlu dilengkapi. Bukan hanya apa yang ingin perusahaan sampaikan, tetapi juga apa yang kemungkinan akan ditemukan ketika publik mencari tahu.
Keduanya tidak selalu sama.
Sebuah perusahaan dapat secara konsisten mengomunikasikan pencapaian dan program positif. Pada saat yang sama, publik mungkin menemukan pemberitaan lama atau informasi dari pihak lain yang memberikan konteks berbeda.
Di sinilah komunikasi strategis tidak cukup hanya melihat owned media atau kanal yang dikelola perusahaan sendiri. Perlu ada pemahaman mengenai keseluruhan informasi yang beredar dan dapat ditemukan publik.
Salah satu cara sederhana untuk membaca situasi tersebut adalah melalui empat tahap: Search, Context, Perception, dan Communication.
1. Search dimulai dari apa yang mungkin dicari publik. Bukan hanya nama perusahaan, tetapi juga nama produk, layanan, pimpinan, lokasi, maupun isu yang berkaitan dengan perusahaan.
2. Context kemudian melihat informasi yang muncul. Dari mana sumbernya? Kapan informasi tersebut dipublikasikan? Apa topiknya? Apakah masih relevan dengan kondisi perusahaan saat ini?
3. Perception berkaitan dengan kesan yang berpotensi terbentuk dari kumpulan informasi tersebut. Tahap ini bukan berarti perusahaan dapat mengetahui secara pasti apa yang dipikirkan setiap orang. Namun, pola informasi yang muncul dapat menjadi bahan untuk memahami bagaimana perusahaan hadir di ruang digital.
4. Terakhir adalah Communication. Pada tahap ini, perusahaan dapat melihat apakah ada informasi yang perlu diperjelas, diperbarui, atau dikomunikasikan kembali.
Jika terdapat kesenjangan antara identitas yang ingin dibangun dan informasi yang ditemukan publik, kondisi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi strategi komunikasi perusahaan.
Bukan Sekadar Soal Berada di Posisi Teratas
Melihat pencarian Google dari perspektif komunikasi bukan berarti perusahaan harus selalu mengejar posisi teratas dalam hasil pencarian.
Visibilitas memang penting, tetapi apa yang terlihat juga tidak kalah penting.
Perusahaan dapat memiliki banyak konten digital. Namun, jika informasi tersebut tidak relevan, tidak aktual, atau tidak membantu publik memahami perusahaan, banyaknya konten belum tentu memberikan konteks yang lebih baik.
Sebaliknya, informasi yang jelas, relevan, aktual, dan berasal dari sumber yang kredibel dapat membantu publik memperoleh gambaran yang lebih utuh.
Karena itu, mengelola kehadiran digital tidak berhenti pada pertanyaan:
“Bagaimana agar perusahaan muncul di Google?”
Pertanyaan yang lebih strategis adalah:
“Ketika publik mencari tahu tentang perusahaan kita, apakah mereka menemukan informasi yang membantu mereka memahami siapa kita?”
Reputasi Digital Dimulai dari Apa yang Ditemukan Publik
Publik tidak selalu mengenal perusahaan melalui kampanye besar atau iklan. Dalam banyak situasi, perkenalan pertama dapat terjadi melalui sebuah pencarian sederhana.
Beberapa tautan yang muncul mungkin terlihat sepele. Namun, bagi seseorang yang belum mengenal perusahaan tersebut, informasi-informasi itu dapat menjadi potongan awal untuk memahami siapa perusahaan, apa yang pernah dilakukan, dan bagaimana perusahaan dibicarakan oleh pihak lain.
Karena itu, komunikasi strategis tidak hanya perlu memikirkan apa yang perusahaan publikasikan, tetapi juga apa yang publik temukan ketika mereka mencari tahu.
Sebab, di tengah arus informasi yang semakin terbuka, reputasi bukan hanya tentang cerita yang ingin disampaikan perusahaan.
Reputasi juga berkaitan dengan cerita apa yang ditemukan publik.