JAKARTA — Seberapa besar media sosial dapat mengubah cara seseorang memandang sebuah risiko? Pertanyaan ini semakin relevan ketika isu kesehatan, keamanan, lingkungan, hingga reputasi organisasi berkembang di ruang digital. Informasi yang beredar tidak hanya memengaruhi apa yang diketahui seseorang, tetapi juga dapat berkaitan dengan cara mereka menilai kemungkinan dan tingkat keparahan suatu risiko.
Penelitian dari Nanjing University menunjukkan bahwa hubungan antara paparan media sosial dan persepsi risiko tidak selalu berlangsung secara langsung. Cara seseorang memandang pengaruh media terhadap orang lain serta persepsinya terhadap norma sosial juga dapat berperan dalam proses tersebut.
Penelitian berjudul How Social Media Amplifies HPV Risk: Applying the Influence of Presumed Media Influence Model to the Risk Amplification Framework ditulis oleh Yuxin Li, Ruofei Gao, Tianyu Li, dan Nainan Wen dari School of Journalism and Communication, Nanjing University. Studi ini diterbitkan dalam Journal of Risk Research, Volume 28, Issue 1, halaman 59–77, dan dipublikasikan secara daring pada 9 April 2025.
Mengungkap Hubungan Media dan Persepsi Risiko
Penelitian tersebut menggunakan survei terhadap 890 perempuan di China berusia 18–34 tahun. Para peneliti menggabungkan dua kerangka konseptual, yaitu Social Amplification of Risk Framework (SARF) dan Influence of Presumed Media Influence (IPMI), untuk memahami hubungan antara paparan media sosial dan persepsi risiko infeksi human papillomavirus (HPV).
Penelitian ini mengkaji dua dimensi persepsi risiko. Pertama, perceived susceptibility, yaitu persepsi seseorang mengenai kemungkinan dirinya terkena infeksi HPV. Kedua, perceived severity, yakni persepsi mengenai tingkat keparahan risiko tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan media sosial memiliki hubungan positif dengan persepsi kerentanan terhadap HPV. Namun, penelitian tidak menemukan hubungan yang signifikan antara paparan media sosial dan persepsi mengenai tingkat keparahan HPV.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa paparan informasi mengenai suatu risiko tidak selalu berkaitan dengan peningkatan seluruh dimensi persepsi risiko secara bersamaan. Dalam penelitian ini, paparan media sosial berkaitan dengan persepsi mengenai kemungkinan seseorang terkena HPV, tetapi tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan persepsi mengenai seberapa serius risiko tersebut.
Dengan demikian, pengaruh media sosial terhadap persepsi risiko perlu dipahami melalui beberapa dimensi, bukan hanya berdasarkan seberapa sering seseorang terpapar informasi.
Ketika Audiens Memperhatikan Pengaruh Media terhadap Orang Lain
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah peran perceived media influence on peers, yaitu persepsi seseorang mengenai pengaruh media terhadap orang-orang di sekitarnya.
Peneliti menemukan bahwa persepsi tersebut memiliki hubungan tidak langsung dengan dua dimensi persepsi risiko, yakni kerentanan terhadap HPV dan tingkat keparahan yang dirasakan. Hubungan tidak langsung ini berlangsung melalui perceived vaccination norms, atau persepsi mengenai norma vaksinasi.
Artinya, dalam konteks penelitian tersebut, persepsi risiko tidak hanya berkaitan dengan informasi yang diterima seseorang secara langsung. Persepsi mengenai bagaimana orang lain dipengaruhi media dan bagaimana norma vaksinasi dipahami juga menjadi bagian dari mekanisme yang diteliti.
Temuan ini relevan untuk memahami dinamika komunikasi digital. Audiens tidak hanya berhadapan dengan informasi, tetapi juga dengan berbagai respons sosial terhadap informasi tersebut. Komentar, diskusi, unggahan ulang, dan percakapan antarpengguna dapat menjadi bagian dari lingkungan sosial tempat seseorang menafsirkan suatu isu.
Meski demikian, hasil penelitian perlu dipahami sesuai ruang lingkupnya. Studi ini berfokus pada persepsi risiko HPV di kalangan perempuan China berusia 18–34 tahun. Hasilnya tidak dapat langsung dianggap berlaku sama untuk semua isu, kelompok masyarakat, atau platform digital.
Penelitian ini tetap memberikan perspektif penting untuk mengkaji hubungan antara persepsi terhadap pengaruh media, norma sosial, dan cara audiens menilai risiko.
Ramai Dibicarakan Belum Tentu Berarti Risikonya Dipahami
Temuan tersebut memberikan pelajaran bagi praktisi komunikasi: tingginya volume percakapan mengenai sebuah isu tidak otomatis menggambarkan bagaimana publik memahami isu tersebut.
Sebuah isu dapat menghasilkan ribuan mention, komentar, dan unggahan ulang. Namun, angka-angka tersebut belum menjelaskan secara utuh apa yang dipercaya audiens, bagaimana mereka menafsirkan risiko, atau apakah percakapan yang berkembang berkaitan dengan perubahan persepsi tertentu.
Sebagian audiens mungkin melihat suatu isu sebagai ancaman yang semakin dekat. Audiens lain bisa saja lebih berfokus pada tingkat keparahannya, mempertanyakan informasi yang beredar, atau menilai isu tersebut tidak relevan dengan situasi mereka.
Karena itu, volume percakapan perlu dibaca bersama konteksnya. Praktisi komunikasi dapat menelaah tema pembicaraan, sentimen, narasi dominan, aktor yang terlibat, serta perubahan pola percakapan dari waktu ke waktu.
Pendekatan ini memperluas fungsi media monitoring. Pemantauan tidak berhenti pada penghitungan jumlah pemberitaan atau mention, tetapi dilanjutkan dengan analisis untuk memahami isu yang berkembang dan kemungkinan implikasinya terhadap komunikasi organisasi.
Untuk memahami konsep dasarnya, pembaca juga dapat membaca artikel internal berjudul "Apa Itu Media Monitoring? Fungsi, Manfaat, Cara Kerja, dan Mengapa Perusahaan Membutuhkannya".
Dari Media Monitoring ke Risk Intelligence
Dalam konteks komunikasi perusahaan, pendekatan ini dapat diterapkan untuk membantu membaca perkembangan isu produk, keselamatan, lingkungan, layanan, maupun reputasi. Tujuannya bukan menganggap bahwa seluruh dinamika persepsi publik dapat diketahui hanya melalui data media, melainkan menggunakan data tersebut sebagai salah satu dasar untuk memahami risiko komunikasi.
Selain mengetahui seberapa banyak orang membicarakan suatu isu, perusahaan dapat mengajukan sejumlah pertanyaan lanjutan.
Apa yang sebenarnya dipercaya publik? Apakah percakapan menunjukkan kekhawatiran terhadap risiko tertentu? Apakah ada narasi yang semakin dominan? Akun atau figur mana yang berperan dalam penyebaran informasi? Apakah respons publik didasarkan pada pengalaman langsung, informasi dari pihak lain, atau interpretasi terhadap percakapan yang berkembang?
Pertanyaan tersebut membantu organisasi bergerak dari sekadar mengamati aktivitas digital menuju analisis yang lebih strategis.
Dalam praktiknya, data media monitoring dapat menjadi salah satu masukan untuk menentukan apakah organisasi perlu memberikan edukasi, menyampaikan klarifikasi, meningkatkan keterlibatan dengan audiens, atau menyiapkan respons terhadap potensi krisis. Keputusan tetap perlu mempertimbangkan verifikasi fakta, konteks isu, dan sumber informasi lain yang relevan.
Pendekatan ini berkaitan dengan risk intelligence, yaitu upaya mengolah berbagai informasi yang relevan untuk membantu organisasi mengenali, memahami, dan mengantisipasi risiko. Dalam komunikasi, nilai tambahnya terletak pada kemampuan menghubungkan sinyal digital dengan konteks persoalan, bukan sekadar menyajikan angka percakapan.
Dengan demikian, media monitoring dapat menjadi bagian dari proses membaca risiko komunikasi. Data tidak hanya digunakan untuk mengetahui apa yang sedang ramai dibicarakan, tetapi juga membantu mengidentifikasi pola dan menentukan informasi tambahan yang dibutuhkan sebelum organisasi mengambil keputusan.