JAKARTA — Sebuah brand bisa muncul dalam puluhan, bahkan ratusan pemberitaan dalam satu periode. Dari sisi angka, kondisi ini terlihat positif. Nama brand semakin sering muncul, jumlah media yang memberitakan bertambah, dan potensi jangkauannya ikut meningkat.
Namun, banyaknya pemberitaan belum tentu berarti brand berhasil memenangkan percakapan media.
Jumlah coverage hanya menunjukkan seberapa sering brand muncul dalam pemberitaan. Untuk memahami maknanya, perusahaan perlu melihat lebih jauh: di mana brand diberitakan, apa yang dibicarakan, bagaimana sentimennya, dan pesan apa yang akhirnya sampai kepada publik.
Ketika Jumlah Berita Tidak Cukup
Coverage menjadi salah satu indikator yang paling mudah diamati dalam aktivitas komunikasi media. Perusahaan dapat mengetahui berapa banyak berita yang terbit dan seberapa sering nama brand muncul dalam pemberitaan.
Baca Juga
Social Media Monitoring vs Social Listening: Apa Bedanya?
Data tersebut tetap penting. Namun, jumlah berita saja belum cukup untuk menjelaskan apakah pemberitaan benar-benar mendukung tujuan komunikasi perusahaan.
Bayangkan dua brand sama-sama mendapatkan 300 pemberitaan dalam satu bulan. Brand pertama banyak diberitakan karena peluncuran produk dan inovasi. Brand kedua memperoleh perhatian serupa karena masalah layanan yang menjadi pembicaraan publik.
Secara angka, keduanya sama-sama mendapatkan eksposur. Namun, konteks dan implikasinya terhadap reputasi dapat sangat berbeda.
Karena itu, monitoring pemberitaan tidak cukup berhenti pada pertanyaan “berapa banyak?”. Perusahaan juga perlu memahami “apa yang diberitakan?” dan “bagaimana brand dibicarakan?”
Share of Voice Menunjukkan Posisi dalam Percakapan
Dalam industri dengan banyak pemain, jumlah pemberitaan juga perlu dibandingkan dengan kompetitor. Di sinilah Share of Voice (SoV) dapat membantu.
SoV memberikan gambaran mengenai porsi pemberitaan atau percakapan media yang diperoleh sebuah brand dibandingkan dengan kompetitor dalam kategori atau industri yang sama. Penghitungannya perlu menggunakan cakupan data dan metode yang konsisten agar perbandingan tetap relevan.
Misalnya, dari 1.000 pemberitaan yang teridentifikasi mengenai suatu industri, sebuah brand memperoleh 400 pemberitaan. Jika seluruh pemberitaan tersebut masuk dalam cakupan pengukuran yang sama, brand tersebut memiliki porsi coverage sebesar 40%.
Namun, angka tersebut tetap perlu dibaca bersama konteks pemberitaannya.
Apakah berita membahas produk, inovasi, dan kinerja bisnis? Atau justru didominasi persoalan yang berpotensi merugikan reputasi?
SoV dapat menunjukkan seberapa besar ruang yang diperoleh brand dalam percakapan media. Namun, indikator ini tidak dengan sendirinya menjelaskan apakah pemberitaan tersebut berdampak positif terhadap persepsi publik.
Media yang Memberitakan Juga Perlu Diperhatikan
Tidak semua pemberitaan memiliki relevansi yang sama terhadap tujuan komunikasi.
Satu berita di media yang menjadi rujukan utama target audiens dapat memiliki nilai strategis yang berbeda dibandingkan puluhan berita di media dengan audiens yang kurang sesuai.
Karena itu, media monitoring juga perlu melihat di mana brand muncul.
Media nasional, media bisnis, media industri, media lokal, dan media dengan audiens khusus memiliki karakteristik berbeda. Kontribusi masing-masing terhadap tujuan komunikasi pun dapat berbeda.
Misalnya, perusahaan ingin membangun reputasi sebagai pemain penting dalam industri tertentu. Dalam kondisi tersebut, pemberitaan di media yang menjadi rujukan pelaku industri dapat lebih relevan dibandingkan sekadar mengejar jumlah coverage sebanyak mungkin.
Artinya, jumlah pemberitaan tetap penting, tetapi relevansi media turut menentukan nilai strategisnya.
Sentimen Mengubah Cara Membaca Angka
Selain jumlah dan relevansi media, sentimen menjadi bagian penting dalam membaca hasil monitoring.
Baca Juga
Isu yang Tak Viral Belum Tentu Aman bagi Perusahaan
Pemberitaan positif, netral, dan negatif dapat memberikan gambaran berbeda mengenai bagaimana sebuah brand atau isu dibicarakan.
Misalnya, sebuah brand mendapatkan 200 pemberitaan dalam satu periode. Jika pemberitaan tersebut banyak membahas inovasi produk dan pencapaian perusahaan, tingginya coverage dapat menjadi sinyal positif bagi aktivitas komunikasinya.
Sebaliknya, jika jumlah serupa muncul karena keluhan pelanggan atau isu negatif, lonjakan pemberitaan justru dapat menjadi sinyal yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Itulah sebabnya peningkatan jumlah berita tidak selalu berarti reputasi membaik.
Exposure dan persepsi merupakan dua hal yang berbeda.
Brand bisa sering dibicarakan, tetapi belum tentu dibicarakan dengan cara yang sesuai dengan tujuan komunikasinya. Bahkan, sentimen saja juga tidak cukup untuk menyimpulkan kondisi reputasi secara menyeluruh. Tema, konteks, sumber pemberitaan, dan perkembangan isu tetap perlu diperhatikan.
Dari Monitoring Menjadi Insight
Media monitoring menjadi lebih berguna ketika data yang dikumpulkan tidak berhenti sebagai angka.
Prosesnya dapat digambarkan melalui alur:
Data → Analysis → Insight → Action
Data menunjukkan apa yang terjadi, mulai dari jumlah coverage, media yang memberitakan, topik, sentimen, hingga posisi brand dibandingkan kompetitor.
Data tersebut kemudian dianalisis untuk menemukan pola. Dari pola itu, perusahaan dapat memperoleh insight yang membantu menjelaskan situasi komunikasi.
Misalnya, jumlah pemberitaan meningkat, tetapi pesan utama perusahaan jarang muncul. Dalam situasi lain, sebagian besar pemberitaan mungkin berasal dari media tertentu karena sebuah isu sedang berkembang.
Insight tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya. Apakah perusahaan perlu memperkuat media amplification? Apakah angle komunikasi perlu disesuaikan? Apakah ada isu yang membutuhkan respons? Atau justru terdapat momentum yang dapat dikembangkan menjadi cerita berikutnya?
Pada tahap inilah media monitoring mulai memberikan nilai strategis: bukan hanya mencatat apa yang telah terjadi, tetapi juga membantu perusahaan memahami pilihan tindakan yang tersedia.
Bukan Sekadar Siapa yang Paling Banyak Diberitakan
Dalam komunikasi media, menjadi brand yang paling banyak diberitakan dapat menjadi pencapaian. Namun, jumlah coverage sebaiknya tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
Perusahaan perlu melihat gambaran yang lebih lengkap: seberapa besar Share of Voice yang diperoleh, media mana yang memberitakan, apa konteks pemberitaannya, bagaimana sentimennya, dan pesan apa yang muncul dalam percakapan publik.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya mengetahui berapa banyak pemberitaan yang diperoleh, tetapi juga memahami kualitas dan arah percakapan yang berkembang di sekitarnya.
Pada akhirnya, tujuan media monitoring bukan sekadar menghitung berapa kali sebuah brand disebut. Tujuannya adalah membantu perusahaan memahami bagaimana brand hadir dalam percakapan media, apa makna pemberitaan tersebut, dan langkah apa yang dapat diambil berdasarkan temuan itu.













