Windah Basudara Soroti Algoritma Lewat Gerakan #CuekinBuzzer

Windah Basudara (Sumber gambar: instagram.com/windahbasudara)
Penulis: Putri Jilan
Jumat, 06 November 2026 | 11:00:00 WIB

JAKARTA — Ketika menemukan konten yang dianggap provokatif atau menyesatkan di media sosial, sebagian pengguna biasanya memilih membantah, berkomentar, atau terlibat dalam perdebatan. Namun, gerakan bertagar #CuekinBuzzer yang ramai dibicarakan pada awal November 2026 justru mengajak masyarakat mengambil langkah berbeda: berhenti memberikan perhatian kepada konten semacam itu.

Gerakan ini mendapat perhatian setelah kreator konten dan streamer Windah Basudara mengunggah pesan bertajuk “#cuekinbuzzer Belajar dari Brasil” melalui akun Instagram miliknya. Dalam unggahan tersebut, ia mengajak pengguna media sosial untuk tidak memberikan interaksi kepada konten buzzer maupun unggahan yang mengandung informasi menyesatkan. Sebaliknya, perhatian diarahkan kepada konten yang mengangkat kepentingan publik.

Ajakan tersebut kemudian menyebar dan memunculkan diskusi mengenai cara kerja algoritma media sosial. Sebab, interaksi yang dimaksudkan untuk membantah sebuah unggahan belum tentu menghentikan penyebarannya. Dalam sistem rekomendasi, aktivitas pengguna dapat menjadi salah satu sinyal yang dipertimbangkan platform ketika mendistribusikan konten.

Di balik gerakan ini terdapat rujukan pada strategi komunikasi politik digital dari Brasil yang dikenal sebagai Janonisme atau Janonismo Cultural. Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana perhatian dan aktivitas pengguna dapat menjadi bagian dari persaingan distribusi informasi di ruang digital.

Mengapa Warganet Diminta Berhenti Berkomentar?

Salah satu pesan utama #CuekinBuzzer adalah mengurangi interaksi terhadap unggahan yang dinilai provokatif atau mengandung informasi menyesatkan.

Selama ini, komentar negatif dan bantahan kerap dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap konten yang tidak disukai. Namun, sistem rekomendasi media sosial tidak selalu memahami maksud di balik komentar tersebut. Aktivitas itu tetap tercatat sebagai interaksi pengguna.

Hal ini perlu dilihat dalam konteks cara kerja masing-masing platform. Instagram, misalnya, mempertimbangkan sejumlah sinyal seperti waktu menonton, tanda suka, dan jumlah konten yang dikirim atau dibagikan. TikTok memperhitungkan interaksi pengguna, informasi video, serta pengaturan akun dan perangkat. Sementara YouTube menggunakan sinyal seperti klik, durasi menonton, tanggapan survei, suka, tidak suka, dan pembagian video.

Artinya, tidak ada satu rumus sederhana yang berlaku untuk semua platform. Banyaknya komentar juga tidak otomatis membuat sebuah konten viral. Namun, interaksi tetap menjadi salah satu unsur yang dapat memengaruhi rekomendasi dan distribusi konten.

Inilah yang menjadi dasar ajakan #CuekinBuzzer. Pengguna didorong untuk tidak ikut memperbesar aktivitas pada unggahan yang dianggap tidak layak mendapatkan perhatian.

Pendekatan tersebut bukan berarti kritik atau koreksi informasi harus dihentikan. Masyarakat tetap dapat membantah informasi keliru melalui sumber yang kredibel dan kanal yang tepat. Yang perlu dipertimbangkan adalah apakah perdebatan di kolom komentar justru membuat unggahan yang dipersoalkan semakin banyak mendapat perhatian.

Belajar dari Brasil: Mengenal Janonismo Cultural

Inspirasi gerakan ini berkaitan dengan pendekatan komunikasi politik digital yang diperkenalkan oleh politikus Brasil, André Janones. Ia menggunakan istilah Janonismo Cultural untuk menggambarkan strategi komunikasi yang memanfaatkan media sosial, pesan emosional, meme, dan mobilisasi pendukung secara terorganisasi.

Dalam pendekatan tersebut, media sosial tidak hanya digunakan untuk menyampaikan pernyataan politik. Para pendukung juga didorong mengambil bagian dalam penyebaran pesan melalui aktivitas digital yang terkoordinasi.

Salah satu contoh penerapannya terlihat dalam pemilihan presiden Brasil 2026 melalui saluran WhatsApp bernama Exército do Lula atau Pasukan Lula. Saluran yang dikelola Janones itu menjadi salah satu pusat mobilisasi pendukung Luiz Inácio Lula da Silva menjelang putaran kedua pemilihan presiden.

Menurut laporan Al Jazeera pada 27 Oktober 2026, jumlah pengikut saluran tersebut meningkat dari sekitar 60 ribu setelah putaran pertama menjadi hampir 11 juta pada hari pemungutan suara putaran kedua. Para pendukung menerima berbagai instruksi, mulai dari membagikan video kampanye, mempromosikan tagar, mengajak orang lain bergabung, hingga menyebarkan pesan melalui jaringan pertemanan.

Strategi Janones juga mencakup upaya mengarahkan aktivitas pendukung agar memperkuat konten yang mereka dukung, tanpa ikut meningkatkan interaksi pada unggahan lawan politik yang bersifat provokatif. Namun, Janonisme tidak semata-mata berarti mengabaikan konten lawan. Pendekatan tersebut merupakan bagian dari strategi komunikasi dan mobilisasi digital yang lebih luas.

Penting pula untuk membedakan konteks politik Brasil dengan gerakan #CuekinBuzzer di Indonesia. Keduanya memiliki persinggungan dalam cara mengelola perhatian dan interaksi digital, tetapi tidak serta-merta merupakan gerakan dengan tujuan, struktur, atau mekanisme yang sama.

Algoritma Tidak Selalu Memahami Maksud Pengguna

Persoalan utama dalam fenomena ini terletak pada perbedaan antara maksud pengguna dan sinyal yang diterima sistem rekomendasi.

Ketika seseorang memberikan komentar pada sebuah unggahan, platform dapat mencatat aktivitas tersebut sebagai interaksi. Namun, sistem tidak selalu memahami apakah komentar itu berisi dukungan, kritik, ketidaksetujuan, atau kemarahan.

Setiap platform memiliki mekanisme rekomendasi yang berbeda. Instagram mempertimbangkan sinyal seperti waktu menonton, suka, dan pengiriman konten. TikTok memperhitungkan interaksi pengguna, informasi video, serta pengaturan akun. Sementara itu, YouTube menggunakan sejumlah indikator untuk memperkirakan video yang sesuai dengan kebiasaan dan minat pengguna.

Karena itu, anggapan bahwa semakin banyak komentar pasti membuat sebuah unggahan semakin viral terlalu menyederhanakan cara kerja algoritma. Distribusi konten dipengaruhi oleh banyak sinyal yang bobotnya dapat berbeda sesuai platform, fitur, dan karakter pengguna.

Meski demikian, aktivitas pengguna tetap berperan dalam ekosistem distribusi informasi. Ketika sebuah unggahan terus memperoleh perhatian dan dibagikan, konten tersebut berpeluang menjangkau kelompok pengguna lain. Orang yang sebelumnya tidak mengenal suatu isu pun dapat ikut terpapar melalui rekomendasi atau pembagian dari pengguna lain.

Inilah alasan perilaku pengguna menjadi bagian penting dalam pembahasan #CuekinBuzzer. Keputusan untuk berkomentar, membagikan, atau mengabaikan konten bukan sekadar aktivitas individual, tetapi juga dapat memengaruhi perjalanan sebuah informasi di ruang digital.

Bukan Hanya Berhenti Berinteraksi, tetapi Mengalihkan Perhatian

#CuekinBuzzer tidak hanya mengajak masyarakat mengurangi interaksi terhadap konten tertentu. Ada pesan lain yang tidak kalah penting, yakni mengarahkan perhatian kepada informasi yang memiliki nilai bagi kepentingan publik.

Dalam unggahan yang dibagikan Windah Basudara, contoh konten yang perlu mendapat perhatian antara lain informasi mengenai kebakaran hutan dan lahan, dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat, serta persoalan kebijakan publik.

Pendekatan ini mengubah cara pandang terhadap aktivitas digital. Pengguna tidak hanya diminta mengabaikan unggahan yang dianggap menyesatkan, tetapi juga didorong untuk memberikan ruang lebih besar kepada informasi yang relevan.

Dalam ekosistem media sosial, perhatian merupakan sumber daya yang diperebutkan. Tanda suka, komentar, waktu menonton, dan pembagian konten menjadi bagian dari aktivitas yang dapat dipertimbangkan sistem rekomendasi. Mengalihkan interaksi kepada informasi yang lebih bermanfaat merupakan salah satu cara pengguna berpartisipasi dalam menentukan konten yang ingin mereka lihat dan sebarkan.

Namun, konten yang mengangkat isu publik tetap perlu diperiksa kebenarannya. Popularitas sebuah unggahan tidak otomatis menjamin akurasi informasi. Masyarakat perlu memeriksa sumber, memahami konteks, dan membedakan fakta dari opini sebelum ikut menyebarkannya.

Pelajaran bagi Kreator dan Brand

Fenomena #CuekinBuzzer memberikan gambaran bahwa keberhasilan sebuah konten tidak hanya bergantung pada materi yang diproduksi. Respons audiens, percakapan yang muncul, dan aktivitas pembagian konten turut memengaruhi bagaimana pesan bergerak di media sosial.

Bagi kreator, hal ini menjadi pengingat bahwa perhatian audiens perlu dibangun melalui konten yang relevan. Namun, banyaknya interaksi tidak selalu mencerminkan keberhasilan komunikasi. Sebuah unggahan dapat ramai karena kontroversi, kesalahpahaman, atau perdebatan yang justru merugikan pembuatnya.

Bagi brand, fenomena ini menunjukkan pentingnya membaca konteks di balik angka engagement. Komentar yang banyak belum tentu menunjukkan persepsi positif. Sebuah unggahan bisa memperoleh ribuan respons karena kritik, keluhan, atau ketidakpercayaan terhadap perusahaan.

Karena itu, evaluasi performa media sosial perlu melihat lebih jauh dari jumlah suka, komentar, dan jangkauan. Perusahaan perlu memahami sentimen, topik yang memicu percakapan, sumber keluhan, serta bagaimana publik memaknai pesan yang disampaikan.

Dalam situasi ketika isu negatif berkembang, respons yang terlalu agresif juga berpotensi memperbesar perhatian terhadap persoalan tersebut. Perusahaan perlu memantau percakapan, memverifikasi informasi, dan menentukan respons berdasarkan konteks serta tingkat risikonya.

Di sinilah pentingnya membedakan engagement dan dampak komunikasi. Konten yang ramai belum tentu berhasil membangun pemahaman, kepercayaan, atau persepsi yang diharapkan.

Apakah #CuekinBuzzer Bisa Mengubah Cara Pengguna Bermedia Sosial?

Gerakan #CuekinBuzzer memperlihatkan bahwa pengguna memiliki ruang untuk menentukan konten mana yang ingin diperhatikan, dibagikan, atau diabaikan. Mereka bukan sekadar penerima informasi, tetapi juga bagian dari ekosistem yang ikut membentuk distribusi konten.

Meski begitu, perubahan perilaku pengguna tidak otomatis mengubah keseluruhan sistem algoritma. Platform tetap memiliki kebijakan dan mekanisme rekomendasi masing-masing. Dampak gerakan seperti ini juga bergantung pada konsistensi partisipasi dan kebiasaan pengguna setelah momentum tagar mereda.

Jika masyarakat semakin terbiasa memeriksa informasi sebelum berinteraksi, tidak mudah terpancing provokasi, dan lebih selektif membagikan konten, ruang digital berpeluang menjadi lebih sehat.

Pada akhirnya, #CuekinBuzzer membuka diskusi tentang bagaimana perhatian masyarakat menjadi bagian dari persaingan distribusi informasi. Di tengah media sosial yang terus berlomba menarik perhatian, pengguna memiliki pilihan untuk menentukan konten mana yang layak mendapat ruang. Tidak semua unggahan perlu ditanggapi dengan perdebatan. Dalam situasi tertentu, mengalihkan perhatian kepada informasi yang lebih bermanfaat justru menjadi respons yang lebih berarti.

Reporter: Putri Jilan