Ketika Media Bukan Lagi Satu-Satunya Pintu Menuju Publik

Ilustrasi Publik (Sumber gambar: Magnific)
Penulis: Fatma Kumala
Selasa, 15 September 2026 | 18:20:00 WIB

BOGOR — Cara publik menemukan dan menerima informasi terus berubah. Jika sebelumnya media nasional menjadi salah satu pintu utama bagi perusahaan untuk membangun awareness dan reputasi, kini perhatian publik tersebar ke lebih banyak titik: portal berita, media sosial, creator, opinion leader, hingga komunitas digital dengan karakter audiens yang semakin spesifik.

Perubahan tersebut bukan sekadar bertambahnya jumlah kanal komunikasi. Yang ikut berubah adalah cara publik menemukan informasi, memilih sumber, dan membentuk persepsi terhadap sebuah isu atau organisasi.

Reuters Institute dalam Digital News Report 2026 mencatat 64% masyarakat Indonesia mendapatkan berita melalui platform sosial seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, dan TikTok. Laporan yang sama juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dan jaringan video sebagai sumber berita semakin menonjol di Indonesia.

Pada saat yang sama, laporan Reuters Institute mengenai news creators and influencers di Indonesia menunjukkan bahwa 44% responden secara rutin memperhatikan creator atau influencer ketika menggunakan jejaring sosial dan video untuk mendapatkan informasi, sementara 25% memperhatikan news brands atau jurnalis. Angka tersebut menggambarkan bahwa creator telah menjadi salah satu sumber perhatian dalam ekosistem informasi digital, meskipun tidak berarti mereka menggantikan media berita.

Skala ekosistem digital Indonesia juga semakin besar. DataReportal mencatat sekitar 230 juta pengguna internet dan 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada akhir 2025. Data tersebut menggunakan periode pengukuran yang berbeda dari survei Reuters Institute, sehingga angka-angka tersebut sebaiknya dibaca sebagai gambaran ekosistem digital, bukan sebagai ukuran populasi yang dapat dijumlahkan satu sama lain.

Kondisi tersebut membuat komunikasi korporasi tidak cukup hanya memikirkan bagaimana mendapatkan coverage. Pemberitaan di media nasional tetap memiliki fungsi penting sebagai sumber informasi dan legitimasi, tetapi sebuah berita juga dapat menjadi titik awal bagi percakapan lain ketika dibagikan, diterjemahkan, dikomentari, atau dikembangkan kembali oleh creator dan komunitas.

Menurut Sylvania Bahar, KOL Specialist PublikaLabs, perubahan tersebut membuat pemilihan creator tidak lagi cukup didasarkan pada jumlah followers.

“Di 2026, perusahaan perlu melihat creator berdasarkan relevansi dan audience fit. Creator memiliki hubungan yang lebih dekat dengan audiensnya. Tantangannya adalah bagaimana pesan korporasi dapat diterjemahkan secara natural tanpa kehilangan substansi,” katanya di Bogor, Rabu (16/9/2026).

Pendekatan serupa berlaku ketika perusahaan berkomunikasi dengan komunitas. Nilai sebuah komunitas tidak hanya ditentukan oleh jumlah anggotanya, tetapi juga oleh kesamaan minat, kedalaman interaksi, dan relevansi isu yang dibicarakan. Isu seperti sustainability, teknologi, finansial, UMKM, hingga inovasi dapat memperoleh respons berbeda ketika dibawa ke komunitas dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda.

Anju Mahendra, Penanggung Jawab Redaksi PublikaLabs, menilai perubahan tersebut membuat keberhasilan komunikasi tidak lagi cukup dibaca dari jumlah pemberitaan.

“Berita yang tayang seharusnya bukan akhir dari komunikasi. Setelah berita muncul, kita perlu melihat bagaimana pesan tersebut bergerak, siapa yang membicarakannya, dan apakah percakapan itu sampai kepada audiens yang tepat,” katanya.

Menurut Anju, media nasional, creator, dan komunitas tidak harus diposisikan sebagai kanal yang saling menggantikan. Ketiganya dapat memainkan fungsi yang berbeda dalam ekosistem komunikasi: media dapat menyediakan konteks dan kredibilitas jurnalistik, creator menghadirkan kedekatan dengan audiens tertentu, sementara komunitas menyediakan ruang percakapan yang lebih spesifik dan berkelanjutan.

“Tantangan komunikasi korporasi pada 2026 akhirnya bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan coverage, tetapi bagaimana membuat sebuah pesan tetap relevan ketika berpindah dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya,” lanjut Anju.

Dengan kondisi tersebut, komunikasi korporasi semakin membutuhkan kemampuan untuk memahami perjalanan sebuah pesan setelah dipublikasikan. Sebuah pemberitaan dapat menjadi bahan bagi creator, dibicarakan kembali oleh komunitas, atau menemukan audiens baru melalui media sosial. Sebaliknya, percakapan yang bermula dari creator atau komunitas juga dapat berkembang menjadi isu yang kemudian mendapat perhatian media.

Cara kerja semacam ini membuat komunikasi tidak lagi berjalan dalam satu garis lurus dari perusahaan menuju media lalu publik. Pesan dapat bergerak melalui berbagai titik, diterjemahkan oleh aktor yang berbeda, dan memperoleh makna baru ketika memasuki komunitas atau platform yang berbeda.

Melihat perubahan tersebut, PublikaLabs memosisikan komunikasi korporasi bukan hanya sebagai aktivitas mendapatkan pemberitaan, tetapi juga sebagai upaya memahami dan mengelola perjalanan pesan di berbagai titik perhatian publik. Dengan jaringan media online, homeless media, creator, opinion leader, dan komunitas, pendekatan tersebut diarahkan untuk menghubungkan jangkauan media dengan kedekatan creator serta relevansi komunitas.

Dengan demikian, satu pesan korporasi tidak harus berhenti sebagai sebuah berita. Pesan tersebut dapat berkembang menjadi percakapan yang lebih luas selama tetap relevan dengan konteks, audiens, dan ekosistem tempat pesan itu bergerak.

Reporter: Fatma Kumala