Lewati ke konten
Memuat cuaca Jakarta...
Strategic Communication Intelligence & Advisory Tentang Kami Kontak
Membaca Isu, Memahami Komunikasi

Komunikasi Korporasi Tak Lagi Cukup Diukur dari Exposure

Reach dan exposure tetap penting, tetapi keberhasilan komunikasi korporasi juga perlu dilihat dari trust, persepsi, engagement, dan respons stakeholder.

Fatma Kumala
Fatma Kumala Penulis · Kamis, 08 Oktober 2026 · 13:20:00 WIB · Editor: Kevin Khanza
Komunikasi Korporasi Tak Lagi Cukup Diukur dari Exposure
Ilustrasi (Sumber gambar: Magnific)

Jakarta — Perusahaan mulai menghadapi perubahan dalam mengukur keberhasilan komunikasi. Jika sebelumnya jumlah pemberitaan, jangkauan audiens, dan exposure menjadi indikator utama, kini perusahaan dituntut melihat apakah pesan yang disampaikan mampu membangun kepercayaan publik.

Perubahan tersebut terjadi ketika publik semakin berhati-hati dalam menerima informasi. Reuters Institute dalam Digital News Report 2026 mencatat tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap berita turun menjadi 32%, dari 36% pada tahun sebelumnya. Angka tersebut juga berada di bawah rata-rata global sebesar 37%.

Kondisi ini membuat komunikasi korporasi tidak lagi cukup berhenti pada seberapa banyak sebuah pesan dilihat atau diberitakan. Perusahaan perlu memperhatikan bagaimana informasi diterima, sumber yang menyampaikannya, hingga apakah pesan tersebut mampu membangun keyakinan publik.

Head event & partnership Publikalabs Lufthy Sintia, mengatakan perubahan tersebut membuat ukuran keberhasilan komunikasi perlu dilihat secara lebih menyeluruh.

Banyak Followers Belum Tentu Berarti Punya Audiens Baca Juga Banyak Followers Belum Tentu Berarti Punya Audiens

“Reach tetap penting untuk mengetahui seberapa luas pesan kita sampai. Tetapi reach tidak otomatis berarti trust. Kami perlu melihat apakah publik memahami informasi yang disampaikan, apakah mereka percaya terhadap sumbernya, dan bagaimana persepsi terhadap perusahaan setelah komunikasi dilakukan,” kata Sisi di kantor Publikalabs, Bogor 7 Oktober 2026.

Menurutnya, membangun kepercayaan juga membutuhkan konsistensi antara pesan yang disampaikan perusahaan dan pengalaman publik terhadap perusahaan.

“Trust tidak dibangun hanya dari satu kampanye atau satu pemberitaan. Pesan yang kita sampaikan harus sejalan dengan apa yang dilakukan perusahaan. Kalau komunikasi bagus tetapi pengalaman stakeholder tidak sesuai, trust akan sulit dibangun,” jelasnya.

Temuan Edelman Trust Barometer 2026 menunjukkan bahwa kepercayaan juga semakin kuat dipengaruhi oleh orang-orang dan lingkungan yang dianggap dekat oleh publik. Secara global, kepercayaan terhadap figur yang berada dalam lingkaran dekat seperti keluarga, teman, dan rekan kerja meningkat, sementara kepercayaan terhadap sejumlah pemimpin institusi mengalami penurunan. Di Indonesia, Trust Index Edelman tercatat sebesar 73, termasuk salah satu yang tertinggi di antara 28 negara yang disurvei.

Sisi menilai perubahan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi korporasi perlu melihat trust sebagai hasil dari proses yang lebih panjang, bukan sekadar dampak dari satu aktivitas komunikasi.

“Exposure menjawab pertanyaan tentang seberapa banyak orang yang melihat pesan. Sementara trust menjawab pertanyaan yang berbeda: apakah publik mempercayai informasi tersebut dan perusahaan yang menyampaikannya. Karena itu, keduanya tidak bisa diperlakukan sebagai ukuran yang sama”, katanya.

Menurutnya, perusahaan juga perlu mulai memperhatikan kualitas hubungan dengan audiens.

Membangun Keahlian Brand lewat Konten yang Konsisten Baca Juga Membangun Keahlian Brand lewat Konten yang Konsisten

“Ketika publik memiliki banyak sumber informasi, perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan frekuensi muncul di media. Kredibilitas, konsistensi, transparansi, dan relevansi menjadi bagian dari proses membangun kepercayaan,” katanya.

Dengan demikian, perubahan KPI komunikasi bukan berarti perusahaan harus meninggalkan reach atau exposure. Keduanya tetap dibutuhkan untuk mengetahui seberapa jauh pesan dapat menjangkau publik.

Namun, ukuran tersebut perlu dilengkapi dengan indikator yang menunjukkan kualitas hubungan, seperti persepsi, engagement, respons stakeholder, hingga tingkat kepercayaan terhadap perusahaan.

Pada akhirnya, komunikasi korporasi tidak lagi hanya mengejar berapa banyak orang yang melihat, tetapi juga berapa banyak yang percaya terhadap apa yang mereka lihat.

Follow news.publikalabs.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Tentang penulis Fatma Kumala

Fatma Kumala merupakan pemerhati perkembangan komunikasi dan masyarakat di era digital. Ia tertarik pada bagaimana teknologi menghadirkan cara-cara baru dalam berkomunikasi, membangun hubungan, menyampaikan pengalaman, dan memahami informasi. Melalui tulisan, Fatma mengeksplorasi perubahan perilaku yang muncul dari perkembangan digital serta bagaimana perubahan tersebut memengaruhi hubungan antara masyarakat, media, dan organisasi.