JAKARTA — Perusahaan teknologi hampir selalu memiliki sesuatu untuk diceritakan. Mulai dari produk baru, inovasi, data, fitur, investasi, transformasi digital, hingga berbagai pencapaian bisnis.
Namun, informasi yang dianggap penting oleh perusahaan belum tentu memiliki daya tarik yang sama bagi media. Persoalannya sering kali bukan karena informasi tersebut tidak bernilai, melainkan karena inti ceritanya belum terlihat.
Di sinilah story pitching menjadi penting. Perusahaan tidak hanya perlu menentukan informasi apa yang ingin disampaikan, tetapi juga menemukan alasan mengapa informasi tersebut relevan untuk diberitakan.
Informasi Lengkap Belum Tentu Menjadi Cerita
Dari sudut pandang perusahaan, sebuah inovasi dapat memiliki penjelasan yang panjang. Ada proses pengembangan, teknologi yang digunakan, data pendukung, fitur yang dihasilkan, hingga berbagai pencapaian yang ingin ditampilkan.
Baca Juga
Media Relations dan Pentingnya Membangun Kepercayaan
Seluruh informasi tersebut dapat memiliki nilai. Namun, media memiliki pertimbangan editorial yang berbeda.
Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab lebih dahulu: apa yang baru, mengapa hal tersebut penting, dan siapa yang terdampak?
Tanpa jawaban yang jelas, informasi yang sebenarnya menarik dapat kehilangan daya tarik karena inti ceritanya tertutup oleh terlalu banyak detail.
Karena itu, tantangan dalam story pitching bukan sekadar menyediakan informasi sebanyak mungkin. Perusahaan juga perlu menemukan bagian dari informasi tersebut yang memiliki relevansi dan nilai berita.
Sederhana Bukan Berarti Dangkal
Menyederhanakan cerita bukan berarti menghilangkan substansi. Sebaliknya, proses tersebut membantu menentukan informasi mana yang perlu ditempatkan sebagai inti dan mana yang berfungsi sebagai pendukung.
Salah satu kerangka sederhana yang dapat digunakan adalah:
Apa yang terjadi → Mengapa penting → Apa dampaknya
Misalnya, sebuah perusahaan mengembangkan teknologi untuk mempercepat proses layanan. Cerita tidak harus langsung dimulai dengan penjelasan mengenai sistem atau teknologi yang digunakan.
Pitch dapat dimulai dari persoalan yang selama ini dihadapi pengguna, kemudian menjelaskan solusi yang dikembangkan perusahaan dan perubahan yang terjadi setelah teknologi tersebut diterapkan.
Detail teknis tetap dibutuhkan. Namun, informasi tersebut menjadi lebih mudah dipahami ketika konteks dan relevansinya telah terlihat sejak awal.
Satu Aktivitas Bisa Memiliki Banyak Angle
Satu aktivitas perusahaan dapat menghasilkan lebih dari satu kemungkinan cerita.
Peluncuran produk, misalnya, dapat dibaca sebagai cerita mengenai inovasi. Aktivitas yang sama juga dapat dilihat dari perubahan perilaku konsumen, perkembangan industri, persaingan pasar, hingga solusi terhadap persoalan tertentu.
Di sinilah story pitching tidak hanya berbicara mengenai apa yang ingin disampaikan perusahaan, tetapi juga angle mana yang paling relevan dengan media yang dituju.
Media teknologi mungkin lebih tertarik pada inovasi atau teknologi di balik produk. Media bisnis dapat melihat pengaruhnya terhadap industri atau strategi perusahaan. Sementara media konsumen mungkin lebih tertarik pada perubahan yang dirasakan pengguna.
Artinya, satu aktivitas tidak harus dikemas menjadi satu cerita yang sama untuk seluruh media.
Perusahaan dapat mempertahankan fakta yang sama, tetapi memilih sudut yang berbeda berdasarkan konteks editorial dan audiens masing-masing media.
Tidak Semua Informasi Harus Masuk dalam Satu Pitch
Salah satu tantangan dalam menyusun pitch adalah keinginan untuk memasukkan seluruh informasi yang dimiliki perusahaan.
Baca Juga
Era Creator Bikin Korporasi Ubah Cara Sampaikan Pesan
Tujuannya dapat dipahami. Perusahaan ingin memastikan tidak ada data, fitur, pencapaian, atau pesan penting yang terlewat.
Namun, semakin banyak informasi yang dimasukkan, semakin besar pula kemungkinan inti cerita menjadi sulit ditemukan.
Story pitching yang efektif bukan berarti menyampaikan semuanya sekaligus. Yang lebih penting adalah menentukan informasi mana yang menjadi pintu masuk cerita dan informasi mana yang digunakan untuk memperkuatnya.
Ketika angle utama sudah jelas, data, fakta, kutipan narasumber, dan detail teknis dapat ditempatkan sebagai bukti pendukung.
Dengan demikian, informasi tidak bersaing untuk mendapatkan perhatian dalam satu pitch, tetapi bekerja bersama untuk memperkuat satu cerita.
Dari Kepentingan Perusahaan ke Relevansi Publik
Perbedaan antara informasi perusahaan dan cerita media juga terletak pada sudut pandangnya.
Perusahaan secara alami melihat sebuah aktivitas berdasarkan kepentingan internal: apa yang diluncurkan, apa yang berhasil dicapai, berapa investasi yang dikeluarkan, atau teknologi apa yang dikembangkan.
Media perlu melihat konteks yang lebih luas.
Peluncuran fitur menjadi lebih relevan ketika dapat menjelaskan perubahan perilaku pengguna. Investasi teknologi memperoleh konteks ketika menunjukkan perubahan dalam industri. Data internal dapat menjadi cerita ketika membantu membaca fenomena yang sedang terjadi.
Dengan kata lain, pertanyaannya bergeser dari “Apa yang ingin perusahaan sampaikan?” menjadi “Mengapa informasi ini penting bagi publik?”
Pergeseran tersebut dapat membantu perusahaan menemukan nilai cerita tanpa harus membesar-besarkan informasi yang dimiliki.
Dari Informasi Menjadi Cerita
Pada akhirnya, banyak perusahaan sebenarnya tidak kekurangan bahan komunikasi. Tantangannya adalah menemukan cerita di balik informasi tersebut.
Story pitching bukan tentang membuat inovasi terdengar lebih besar daripada kenyataannya. Bukan pula tentang mencari judul sensasional agar sebuah informasi mendapatkan perhatian.
Yang dibutuhkan adalah menemukan hubungan antara apa yang dilakukan perusahaan, mengapa hal tersebut penting, dan siapa yang merasakan dampaknya.
Karena itu, cerita yang sederhana tidak berarti miskin informasi.
Sederhana berarti mengetahui informasi mana yang perlu disampaikan terlebih dahulu agar nilai sebuah cerita dapat terlihat.















