Lewati ke konten
Membaca Isu, Memahami Komunikasi

AI Search dan Masa Depan Public Relations di Indonesia

AI mengubah cara publik menemukan informasi. Simak dampaknya terhadap strategi PR, SEO, dan pengelolaan reputasi perusahaan.

Fatma Kumala
Fatma Kumala Penulis · Jumat, 16 Oktober 2026 · 11:00:00 WIB · Editor: Kevin Khanza
AI Search dan Masa Depan Public Relations di Indonesia
Ilustrasi AI Search (Sumber gambar: Magnific)

BOGOR — Cara publik mencari informasi terus berubah. Perusahaan tidak lagi cukup mengandalkan mesin pencari tradisional untuk memastikan informasi tentang mereka ditemukan. Ketika masyarakat mulai mengajukan pertanyaan langsung kepada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pekerjaan public relations (PR) ikut berkembang. Tantangannya bukan sekadar memastikan informasi perusahaan tersedia di internet, melainkan membangun informasi yang kredibel, mudah dipahami, dan berpeluang menjadi rujukan sistem AI.

Perubahan ini sejalan dengan semakin cepatnya adopsi AI di Indonesia. Laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat bahwa 80% pengguna di Indonesia berinteraksi dengan alat atau fitur berbasis AI setiap hari. Sebanyak 51% pengguna menyebut efisiensi waktu untuk riset dan perbandingan sebagai salah satu alasan utama menggunakan AI, sedangkan 35% memanfaatkannya untuk memperoleh rekomendasi yang lebih personal.

Perubahan perilaku tersebut juga mulai memengaruhi aktivitas pencarian informasi. Sejak September 2025, Google menghadirkan AI Mode di Google Search Indonesia. Fitur ini memungkinkan pengguna mengajukan pertanyaan kompleks dan memperoleh jawaban berbasis AI yang memanfaatkan informasi dari berbagai sumber di web. Dengan pendekatan tersebut, pengguna dapat memperoleh gambaran awal tentang suatu topik tanpa harus membuka banyak halaman secara terpisah.

Dampaknya terhadap perilaku pencarian juga terlihat dalam analisis Pew Research Center. Berdasarkan pengamatan terhadap 68.879 pencarian Google pada Maret 2025, sekitar 18% pencarian menghasilkan ringkasan AI (AI summary). Ketika ringkasan tersebut muncul, pengguna mengklik hasil pencarian tradisional hanya pada 8% kunjungan, dibandingkan 15% ketika ringkasan AI tidak muncul. Sementara itu, hanya 1% kunjungan yang berakhir dengan klik pada tautan di dalam ringkasan AI.

Strategi Komunikasi Digital Harus Lebih dari Sekadar Memilih Kanal Baca Juga Strategi Komunikasi Digital Harus Lebih dari Sekadar Memilih Kanal

Perubahan ini membawa implikasi baru bagi komunikasi korporasi. Jika sebelumnya keberhasilan PR digital banyak diukur melalui kemunculan berita di media daring atau posisi informasi di halaman pertama Google, kini muncul pertanyaan lain: apakah informasi mengenai perusahaan cukup kredibel dan relevan untuk dijadikan rujukan ketika publik mengajukan pertanyaan kepada AI?

Staff Production Planning & Inventory Control PublikaLabs, Viona, menilai bahwa perubahan tersebut mendorong perusahaan untuk lebih serius memperhatikan kualitas dan struktur informasi yang diproduksi.

“Sekarang orang tidak selalu mencari informasi dengan cara mengetik keyword lalu membuka satu per satu website. Mereka bisa langsung bertanya ke AI dan mendapatkan rangkuman. Artinya, perusahaan harus memastikan informasi mengenai mereka tersedia dengan jelas, konsisten, dan berasal dari sumber yang bisa dipercaya. Kalau informasi yang beredar tidak lengkap atau tidak konsisten, AI juga bisa menangkap konteks yang berbeda,” katanya di kantor PublikaLabs, Bogor, pada 15 Oktober 2026.

Menurut Viona, perubahan cara mencari informasi tidak berarti optimasi mesin pencari (search engine optimization/SEO) kehilangan relevansinya. Sebaliknya, PR perlu memperluas pendekatan dari sekadar mengejar peringkat di mesin pencari menjadi upaya memastikan informasi dapat dipahami oleh mesin sekaligus manusia.

“PR menurut saya tetap harus bicara soal visibility, tetapi sekarang visibility-nya tidak hanya bagaimana kita muncul di Google. Kita juga perlu memikirkan bagaimana brand atau perusahaan direpresentasikan ketika seseorang bertanya tentang kita melalui AI. Jadi kualitas informasi, kredibilitas sumber, konsistensi pesan, dan bagaimana sebuah informasi dibicarakan di berbagai platform menjadi semakin penting,” katanya.

PR dan Pengelolaan Ekosistem Informasi

Perubahan tersebut memperluas peran PR dalam mengelola ekosistem informasi perusahaan. Siaran pers, artikel media, situs web resmi, laporan tahunan, konten digital, hingga informasi yang dipublikasikan pihak ketiga dapat membentuk jejak informasi yang memengaruhi pemahaman publik terhadap sebuah perusahaan.

Dalam konteks ini, kuantitas konten tidak lagi cukup menjadi tolok ukur. Informasi yang saling bertentangan, tidak mencantumkan sumber yang jelas, atau hanya berisi klaim promosi dapat menyulitkan publik maupun sistem AI dalam memahami konteks perusahaan secara utuh.

Data Konsumen: Kunci Relevansi atau Sumber Kekhawatiran? Baca Juga Data Konsumen: Kunci Relevansi atau Sumber Kekhawatiran?

Perkembangan ini juga mulai tercermin dalam perangkat pengukuran di ekosistem pencarian. Google disebut meluncurkan laporan performa AI generatif di Search Console secara global pada Agustus 2026. Fitur tersebut memungkinkan pemilik situs memantau tayangan dari fitur AI generatif di Google Search, termasuk halaman yang memperoleh tayangan serta distribusinya berdasarkan perangkat dan negara.

Jika informasi peluncuran tersebut terkonfirmasi, kehadiran fitur ini menunjukkan bahwa visibilitas dalam pengalaman pencarian berbasis AI mulai memperoleh ruang dalam pengukuran performa digital. Bagi perusahaan, hal ini membuka kebutuhan untuk mengevaluasi bukan hanya seberapa banyak konten diproduksi, tetapi juga seberapa kuat nilai informasi dan kredibilitas sumber yang dimilikinya.

Meski demikian, visibilitas di ruang AI menghadirkan tantangan tersendiri. Jawaban yang dihasilkan AI tidak selalu identik dengan informasi dari sumber aslinya. Sistem dapat merangkum sejumlah sumber, memilih informasi tertentu, atau menyajikan jawaban dengan konteks yang tidak sepenuhnya sejalan dengan maksud perusahaan.

Karena itu, tugas PR ke depan bukan sekadar memperbanyak publikasi, melainkan membangun information footprint atau jejak informasi yang kuat. Upaya ini mencakup menjaga konsistensi informasi di berbagai kanal, memperkuat sumber resmi, menghasilkan konten yang menjawab kebutuhan publik, serta memastikan informasi penting mengenai perusahaan tersedia dalam format yang mudah ditemukan dan dipahami.

“Menurut saya, yang berubah bukan fungsi PR-nya, tetapi cara kita memastikan informasi perusahaan sampai ke publik. Kalau dulu kita berpikir bagaimana membuat orang membaca berita kita, sekarang kita juga harus berpikir bagaimana ketika orang bertanya tentang perusahaan kita, informasi yang muncul bisa merepresentasikan perusahaan dengan benar,” tutur Viona.

Mengukur Keberhasilan PR di Era AI

Semakin luasnya penggunaan AI untuk riset dan rekomendasi membuat batas antara mesin pencari, media, dan asisten AI semakin beririsan. Publik dapat mengenal sebuah perusahaan bukan hanya karena membaca siaran pers atau mengunjungi situs resminya, tetapi juga karena nama perusahaan tersebut muncul dalam jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepada AI.

Menjelang 2027, kondisi ini mendorong PR untuk memperluas indikator keberhasilan komunikasi digital. Media coverage, visibilitas di mesin pencari, engagement, dan trafik situs tetap penting. Namun, indikator tersebut perlu dilengkapi dengan evaluasi terhadap konsistensi, kredibilitas, dan keterjangkauan informasi perusahaan dalam ekosistem pencarian berbasis AI.

Bagi PublikaLabs, perubahan ini memperkuat pentingnya pendekatan komunikasi yang menghubungkan media relations, konten SEO, amplifikasi digital, dan pengelolaan informasi perusahaan. Tujuannya bukan sekadar membuat merek terlihat di berbagai kanal, melainkan membangun jejak digital yang konsisten, kredibel, dan relevan sehingga informasi mengenai perusahaan dapat dipahami dengan tepat oleh publik maupun teknologi AI.

Follow news.publikalabs.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Tentang penulis Fatma Kumala

Fatma Kumala merupakan pemerhati perkembangan komunikasi dan masyarakat di era digital. Ia tertarik pada bagaimana teknologi menghadirkan cara-cara baru dalam berkomunikasi, membangun hubungan, menyampaikan pengalaman, dan memahami informasi. Melalui tulisan, Fatma mengeksplorasi perubahan perilaku yang muncul dari perkembangan digital serta bagaimana perubahan tersebut memengaruhi hubungan antara masyarakat, media, dan organisasi.