Lewati ke konten
Membaca Isu, Memahami Komunikasi

Shanghai University: Komunikasi Krisis Harus Transparan dan Nyata

Bagaimana perusahaan menjaga kepercayaan saat krisis? Simak riset tentang komunikasi autentik, transparansi pesan, dan tindakan korektif.

Shopia Dwi Lestari
Shopia Dwi Lestari Penulis · Jumat, 16 Oktober 2026 · 08:00:00 WIB · Editor: Kevin Khanza
Shanghai University: Komunikasi Krisis Harus Transparan dan Nyata
Shanghai University

JAKARTA — Ketika sebuah perusahaan mengalami krisis, publik tidak hanya ingin mengetahui apa yang terjadi. Mereka juga ingin memahami apakah perusahaan bersikap terbuka mengenai masalah tersebut dan memiliki komitmen untuk memperbaikinya.

Penelitian yang diterbitkan dalam Chinese Journal of Communication pada 2026 menunjukkan bahwa komunikasi krisis yang transparan, terutama ketika disertai komitmen untuk melakukan koreksi, dapat meningkatkan efektivitas respons krisis dan kepercayaan terhadap integritas organisasi.

Khusus Member

Masuk untuk melanjutkan membaca

Artikel ini gratis, cukup masuk atau daftar akun member.

Follow news.publikalabs.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Tentang penulis Shopia Dwi Lestari

Shopia adalah praktisi media partner dan komunikasi yang sehari-hari bergelut dengan reputation, client, dan deadline. Ia memiliki ketertarikan pada marketing, consumer behavior, digital communication, dan hubungan antara brand dengan audiens. Pengalamannya dalam penulisan akademik juga membawanya mengeksplorasi berbagai persoalan pemasaran dan perilaku konsumen, termasuk melalui tulisan "Pengaruh Viral Marketing, Electronic Word of Mouth, dan Halal Label terhadap Keputusan Pembelian Konsumen" yang telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Di luar aktivitas profesionalnya, Shopia gemar tidur, ngopi, belajar Mandarin, dan bermusik.