Lewati ke konten
Memuat cuaca Jakarta...
Strategic Communication Intelligence & Advisory Tentang Kami Kontak
Membaca Isu, Memahami Komunikasi

Isu yang Tak Viral Belum Tentu Aman bagi Perusahaan

Isu yang belum viral belum tentu aman bagi brand. Kenali pola percakapan, perubahan narasi, dan sinyal awal sebelum sebuah isu berkembang lebih besar.

Putri Jilan
Putri Jilan Penulis · Senin, 21 September 2026 · 12:00:00 WIB · Editor: Kevin Khanza
Isu yang Tak Viral Belum Tentu Aman bagi Perusahaan
Ilustrasi

JAKARTA — Perusahaan sering kali baru memberi perhatian ketika sebuah isu sudah ramai. Jumlah komentar meningkat, unggahan mulai dibagikan, media ikut memberitakan, lalu nama brand muncul di berbagai kanal. Pada titik itu, isu terlihat cukup besar untuk dianggap sebagai persoalan.

Padahal, perubahan persepsi terhadap sebuah brand tidak selalu dimulai dari percakapan yang besar.

Jilan, praktisi digital marketing dengan latar belakang Teknik Industri, melihat percakapan kecil yang muncul berulang kali sebagai salah satu sinyal yang perlu diperhatikan. Menurutnya, persoalannya bukan apakah satu komentar negatif cukup besar untuk disebut sebagai krisis, melainkan apakah mulai terlihat pola yang menunjukkan adanya perubahan dalam persepsi audiens.

“Brand sering kali baru memberikan perhatian ketika sebuah isu sudah ramai. Padahal, percakapan yang masih kecil tetapi muncul berulang kali bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang mulai berubah dalam persepsi audiens,” katanya.

Tidak Semua Isu Dimulai dari Viral

Dalam ekosistem digital, sebuah brand tidak hanya berhadapan dengan pesan yang dibuat melalui kanal resminya. Pengalaman pelanggan, komentar pengguna, percakapan komunitas, hingga unggahan kreator dapat ikut membentuk persepsi terhadap brand.

Media Punya Makin Banyak Data, Tapi Belum Tentu Makin Paham Publik Baca Juga Media Punya Makin Banyak Data, Tapi Belum Tentu Makin Paham Publik

Skalanya pun tidak selalu langsung besar.

Sebuah keluhan pelanggan dapat dimulai dari satu pengguna. Pengguna lain kemudian menceritakan pengalaman serupa. Percakapan berkembang di sebuah komunitas, muncul kembali di platform lain, lalu pada titik tertentu menarik perhatian akun dengan jangkauan lebih besar.

Pada tahap awal, jumlah percakapan mungkin belum terlihat signifikan. Yang justru perlu diperhatikan adalah pengulangan narasi.

“Bukan berarti setiap komentar negatif harus dianggap sebagai masalah besar. Yang perlu diperhatikan adalah apakah ada pola yang mulai terbentuk,” kata Jilan.

Pola tersebut dapat terlihat dari tema yang berulang, perubahan nada percakapan, munculnya kelompok audiens baru, atau perpindahan pembicaraan dari satu platform ke platform lainnya.

Dengan kata lain, viralitas adalah salah satu titik dalam perjalanan sebuah isu, bukan selalu titik awalnya.

Ramai di Mana?

Persoalan menjadi semakin kompleks karena audiens digital tidak berkumpul di satu tempat.

Laporan Digital 2026: Indonesia dari We Are Social dan Meltwater mencatat terdapat 180 juta social media user identities di Indonesia pada Oktober 2025. Laporan yang sama mencatat bahwa pengguna Indonesia rata-rata menggunakan 7,7 platform media sosial setiap bulan. Angka tersebut menggambarkan betapa tersebarnya aktivitas masyarakat di berbagai ruang digital.

Artinya, sebuah percakapan yang tidak terlihat besar di satu platform belum tentu tidak berarti bagi kelompok audiens tertentu.

Jilan melihat kondisi tersebut membuat ukuran “ramai” menjadi relatif. Ketika audiens menggunakan banyak platform, percakapan mengenai sebuah brand juga dapat muncul dalam konteks yang berbeda-beda.

“Ketika audiens menggunakan banyak platform, percakapan tentang sebuah brand juga tidak selalu muncul di satu tempat. Karena itu, brand perlu memahami konteks percakapannya, bukan hanya melihat apakah sebuah isu sudah viral atau belum,” ujarnya.

Satu kelompok audiens dapat membicarakan isu secara intensif, sementara kelompok lain bahkan belum mengetahui bahwa isu tersebut sedang berkembang.

Karena itu, tidak munculnya sebuah isu di halaman utama atau trending topic bukan berarti isu tersebut tidak memiliki pengaruh.

Algoritma Membuat Percakapan Semakin Terpecah

Cara informasi didistribusikan di platform digital turut membuat kondisi tersebut semakin kompleks.

Dalam diskusi di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya pada 10 September 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan bahwa distribusi informasi semakin bergeser dari ruang redaksi ke algoritma platform digital. Menurutnya, interaksi pengguna menjadi data yang dipelajari sistem machine learning untuk menentukan konten yang kembali ditampilkan kepada pengguna. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan fenomena echo chamber, ketika seseorang lebih sering menerima informasi yang sesuai dengan preferensi dan perilaku sebelumnya.

Bagi brand, perubahan ini memiliki konsekuensi penting.

Sebuah isu tidak harus terlihat besar secara keseluruhan untuk menjadi besar di dalam komunitas tertentu. Algoritma dapat membuat percakapan tertentu semakin intens di antara kelompok pengguna yang memiliki minat atau pengalaman serupa, sementara percakapan tersebut belum tentu terlihat oleh publik yang lebih luas.

Karena itu, pertanyaan “Apakah isu ini sudah viral?” bisa menjadi pertanyaan yang terlalu sederhana.

Pertanyaan yang lebih berguna adalah: di antara siapa isu ini berkembang, apa yang mereka bicarakan, dan apakah percakapan tersebut mulai menyebar ke kelompok lain?

Yang Perlu Dicari Bukan Sekadar Angka

Dalam praktik komunikasi digital, viralitas memang menjadi indikator yang mudah dilihat. Jumlah tayangan, komentar, share, atau kemunculan sebuah topik dalam percakapan publik dapat memberikan gambaran mengenai besarnya perhatian.

Namun, angka tersebut baru menunjukkan skala.

Untuk memahami apakah sebuah isu perlu diperhatikan, brand perlu melihat apa yang ada di balik angka tersebut. Siapa yang memulai percakapan? Apa pengalaman yang mereka ceritakan? Apakah ada narasi yang terus berulang? Siapa yang kemudian memperkuatnya? Apakah percakapan berpindah platform? Dan apakah nada pembicaraan mulai berubah?

Banyak Diberitakan Belum Tentu Reputasi Perusahaan Membaik Baca Juga Banyak Diberitakan Belum Tentu Reputasi Perusahaan Membaik

Jilan melihat kemampuan membaca percakapan menjadi semakin penting karena digital marketing tidak lagi hanya berkaitan dengan bagaimana pesan disampaikan.

“Komunikasi digital bukan hanya soal bagaimana brand menyampaikan pesan. Kita juga perlu melihat bagaimana audiens merespons dan bagaimana respons tersebut berkembang menjadi percakapan,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, social listening bukan sekadar mencari unggahan yang paling banyak mendapatkan engagement. Ia juga perlu digunakan untuk menemukan perubahan kecil yang berulang dan mungkin belum terlihat sebagai sebuah tren besar.

Tidak Semua Percakapan Perlu Dijawab

Membaca isu lebih awal bukan berarti perusahaan harus merespons setiap komentar negatif.

Justru, kemampuan membedakan antara percakapan biasa dan sinyal yang perlu diperhatikan menjadi bagian penting dari strategi komunikasi.

“Kalau setiap komentar langsung dianggap krisis, brand bisa menjadi terlalu reaktif. Sebaliknya, kalau semua percakapan dianggap tidak penting sampai viral, brand juga bisa terlambat membaca perubahan,” kata Jilan.

Dalam kondisi tertentu, sebuah keluhan cukup ditangani melalui layanan pelanggan. Dalam situasi lain, perusahaan mungkin perlu memberikan klarifikasi. Namun ketika isu mulai melibatkan lebih banyak kelompok, berpindah platform, atau menunjukkan pola yang konsisten, pendekatan komunikasinya dapat membutuhkan perhatian yang berbeda.

Karena itu, keputusan untuk merespons sebaiknya tidak hanya didasarkan pada jumlah percakapan. Konteks, pola, sumber percakapan, dan potensi dampaknya sama pentingnya.

Yang Terjadi Sebelum Viral

Fragmentasi platform membuat perjalanan sebuah isu tidak selalu mudah dilihat.

Sebuah keluhan yang awalnya muncul di kolom komentar dapat dibagikan kembali ke platform berbasis video. Di sana, pengalaman yang sama dapat dikemas menjadi cerita yang berbeda. Orang lain kemudian memberikan pengalaman serupa, sementara kreator atau akun dengan audiens lebih besar dapat memberikan konteks baru.

Isunya memang berpindah platform, tetapi bukan hanya tempatnya yang berubah. Maknanya juga dapat berubah.

Karena itu, Jilan menilai kecenderungan menjadikan viralitas sebagai indikator utama dapat membuat brand kehilangan bagian penting dari perjalanan sebuah percakapan.

“Viral memang mudah dilihat karena angkanya besar. Tetapi yang lebih menarik bagi brand adalah apa yang terjadi sebelum sebuah percakapan menjadi viral,” ujarnya.

Ketika sebuah isu sudah mencapai jutaan tayangan, perhatian publik biasanya telah terbentuk. Media dapat mulai memberitakan, kreator ikut membicarakan, dan masyarakat mulai membangun persepsi masing-masing.

Sebaliknya, ketika percakapan masih berada pada tahap awal, perusahaan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memahami akar persoalan. Bukan berarti perusahaan harus langsung melakukan intervensi, tetapi setidaknya mengetahui bahwa percakapan tersebut sedang berkembang.

Dari Noise Menjadi Signal

Perubahan pola konsumsi media membuat pekerjaan digital marketing tidak lagi berhenti pada membuat konten dan mengukur performanya. Ada kebutuhan untuk memahami lingkungan percakapan tempat sebuah brand hidup.

Audiens dapat berpindah platform. Algoritma dapat mengubah distribusi informasi. Pengalaman pelanggan dapat berubah menjadi cerita yang dikonsumsi ribuan orang.

Dalam kondisi tersebut, percakapan kecil dapat menjadi informasi yang bernilai apabila dibaca dalam konteks yang tepat.

Pada Juli 2026, Nezar Patria juga menekankan pentingnya kemampuan humas membaca data, memetakan aktor dan narasi, serta memahami penyebaran isu sebagai bagian dari komunikasi di ruang digital. Menurutnya, kemampuan tersebut dapat membantu organisasi menyusun strategi komunikasi yang lebih tepat sasaran.

Prinsip tersebut relevan bagi brand. Yang perlu dipetakan bukan hanya seberapa besar sebuah percakapan, tetapi siapa yang terlibat, narasi apa yang berkembang, bagaimana percakapan bergerak, dan apakah pola tersebut menunjukkan perubahan dalam cara audiens melihat brand.

“Brand tidak harus takut terhadap setiap isu kecil. Yang penting adalah punya kemampuan untuk membedakan mana yang hanya noise dan mana yang mulai menjadi signal,” kata Jilan.

Pada akhirnya, isu yang tidak viral belum tentu aman. Begitu pula isu yang viral belum tentu selalu menjadi ancaman terbesar.

Yang lebih penting adalah memahami bagaimana sebuah percakapan terbentuk, siapa yang terlibat, narasi apa yang berkembang, dan apakah pola tersebut menunjukkan perubahan dalam persepsi audiens.

Sebab, di ruang digital, sebuah isu tidak selalu menjadi penting setelah semua orang membicarakannya.

Terkadang, tanda paling awal justru muncul ketika hanya sedikit orang yang mulai membicarakannya—dan percakapan itu tidak berhenti.

Follow news.publikalabs.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Tentang penulis Putri Jilan

Putri Jilan adalah praktisi digital marketing dengan latar belakang Teknik Industri. Ia memiliki ketertarikan pada perkembangan digital, pemasaran, perilaku audiens, dan cara brand membangun komunikasi di tengah perubahan kebiasaan konsumen. Dengan perhatian pada hubungan antara strategi dan perilaku audiens, Jilan mengeksplorasi bagaimana sebuah brand hadir, berinteraksi, dan membangun relevansi di berbagai kanal digital.