JAKARTA — Sebuah perusahaan bisa memiliki sejarah panjang, sederet pencapaian, dan berbagai layanan. Namun, semua informasi tersebut belum tentu membuat orang memahami siapa perusahaan itu sebenarnya.
Persoalannya sering kali bukan pada kurangnya informasi, tetapi pada cara informasi tersebut disampaikan.
Company profile yang hanya menampilkan gedung kantor, jajaran direksi, sejarah perusahaan, daftar produk, dan pencapaian memang mampu menjelaskan banyak hal. Tetapi setelah video selesai, belum tentu ada satu cerita yang tertinggal dalam ingatan penonton.
Di tengah perubahan cara audiens mengonsumsi informasi, company profile mulai membutuhkan pendekatan yang berbeda. Cerita, manusia, proses, dan dampak dapat menjadi cara untuk membuat informasi perusahaan terasa lebih dekat dan memiliki konteks.
Baca Juga
Membangun Positioning Brand dari Pembeda yang Nyata
Storytelling kemudian tidak sekadar menjadi teknik kreatif dalam produksi video. Ia menjadi cara untuk menjawab pertanyaan yang lebih penting: apa yang sebenarnya ingin dipahami audiens tentang sebuah perusahaan?
Company Profile Tidak Cukup Hanya Menjelaskan Perusahaan
Company profile pada dasarnya memang dibuat untuk memperkenalkan perusahaan. Sejarah, visi, misi, layanan, pencapaian, dan angka-angka perusahaan tetap memiliki tempat di dalamnya.
Namun, informasi yang banyak tidak selalu menghasilkan pemahaman yang lebih baik.
Ada perbedaan antara mengatakan bahwa sebuah perusahaan telah berdiri selama 20 tahun dengan memperlihatkan apa yang terjadi selama 20 tahun tersebut.
Misalnya, alih-alih hanya menampilkan tulisan “berdiri sejak 2006”, video dapat membuka cerita dengan foto kantor pertama, wawancara singkat dengan karyawan yang telah bekerja sejak awal, lalu memperlihatkan bagaimana operasi perusahaan berubah dari satu lokasi menjadi jaringan yang lebih besar.
Angka 20 tahun tetap ada. Tetapi sekarang angka tersebut memiliki konteks.
Hal yang sama berlaku untuk pencapaian. Kalimat seperti “telah melayani lebih dari satu juta pelanggan” dapat terasa seperti klaim korporasi jika berdiri sendiri. Namun, video dapat mengambil satu pengalaman pelanggan sebagai pintu masuk: persoalan apa yang mereka hadapi, bagaimana perusahaan membantu, dan apa yang berubah setelah layanan diberikan.
Data tidak hilang. Justru data menjadi lebih mudah dipahami karena ditempatkan di dalam cerita.
Manusia Membuat Cerita Perusahaan Lebih Dekat
Perusahaan pada akhirnya bukan hanya gedung, teknologi, mesin, produk, atau layanan. Di balik semuanya ada manusia yang membuat aktivitas tersebut berjalan.
Seorang engineer dapat menceritakan proses panjang di balik sebuah inovasi. Karyawan di lapangan dapat memperlihatkan bagaimana sebuah standar diterapkan setiap hari. Pelanggan dapat menjelaskan perubahan yang mereka rasakan setelah menggunakan sebuah produk atau layanan.
Bayangkan sebuah perusahaan manufaktur ingin menjelaskan bahwa mereka memiliki standar kualitas yang ketat. Salah satu cara adalah menampilkan teks mengenai sertifikasi dan prosedur pemeriksaan.
Cara lain adalah mengikuti seorang quality control officer selama satu hari kerja. Kamera memperlihatkan bagaimana ia memeriksa produk, menemukan satu ketidaksesuaian, menghentikan proses, lalu membawa temuan tersebut ke tim produksi.
Informasi mengenai standar kualitas tetap tersampaikan. Namun, audiens sekarang melihat bagaimana standar tersebut bekerja dalam kehidupan nyata.
Sudut pandang semacam ini memberikan dimensi yang berbeda terhadap company profile. Perusahaan tidak lagi hanya berbicara tentang dirinya sendiri. Audiens dapat melihat bagaimana perusahaan hadir melalui pengalaman orang-orang yang berinteraksi dengannya.
Visual Harus Membawa Penonton Masuk ke Dalam Cerita
Dalam video company profile, visual seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi untuk narasi.
Ketika narator mengatakan perusahaan memiliki proses kerja yang kompleks, misalnya, video dapat memperlihatkan bagaimana proses tersebut berlangsung. Kamera dapat membawa penonton ke lantai produksi, ruang kerja, lokasi proyek, laboratorium, pusat layanan, atau tempat lain yang menunjukkan aktivitas perusahaan secara nyata.
Bayangkan sebuah perusahaan logistik ingin menjelaskan bahwa mereka mampu mengirim barang dengan cepat. Video dapat saja menampilkan kendaraan, gudang, dan grafik jumlah pengiriman.
Namun, cerita bisa menjadi lebih hidup jika kamera mengikuti satu paket sejak tiba di gudang: barang dipindai, disortir, dipindahkan, dimuat ke kendaraan, lalu sampai ke tangan penerima.
Satu perjalanan kecil tersebut dapat menjelaskan sistem yang jauh lebih besar.
Di sinilah editing memiliki fungsi penting. Urutan gambar, ritme, musik, suara lingkungan, wawancara, dan teks di layar ikut menentukan bagaimana cerita dipahami.
Misalnya, suara mesin, bunyi scanner, langkah pekerja, dan pintu kendaraan yang ditutup dapat menjadi bagian dari pengalaman menonton. Visual tidak lagi hanya menunjukkan bahwa perusahaan bekerja, tetapi membuat audiens merasakan bagaimana pekerjaan itu berlangsung.
Karena itu, produksi company profile tidak berhenti pada pertanyaan “footage apa yang harus diambil?”, tetapi juga “cerita apa yang harus dibangun dari footage tersebut?”
Cerita Tidak Harus Dibuat Dramatis
Ada kecenderungan menganggap storytelling harus selalu memiliki konflik besar, adegan emosional, atau perjalanan yang dramatis.
Padahal, cerita perusahaan tidak selalu seperti itu.
Baca Juga
Less is More: Kenapa Pesan yang Sederhana Jauh Lebih Nempel di Kepala?
Satu masalah yang berhasil diselesaikan. Sebuah inovasi yang lahir dari kebutuhan pelanggan. Perjalanan seorang karyawan. Perubahan cara kerja yang membuat proses menjadi lebih baik. Bahkan sebuah keputusan sulit yang pernah diambil perusahaan dapat menjadi bagian dari cerita.
Contohnya, sebuah perusahaan teknologi dapat menceritakan bagaimana tim produknya menemukan bahwa pengguna di daerah dengan koneksi internet terbatas kesulitan menggunakan layanan. Alih-alih hanya mengatakan “kami berkomitmen menghadirkan inovasi untuk seluruh Indonesia”, video dapat mengikuti proses tim ketika mereka mencari solusi, menguji produk, menerima kegagalan, lalu memperbaikinya.
Tidak ada konflik yang perlu dibuat-buat. Prosesnya sendiri sudah memiliki cerita.
Karena itu, storytelling bukan alasan untuk menciptakan kisah yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Pendekatan ini justru dapat digunakan untuk menemukan cerita yang memang sudah ada tetapi selama ini tertutup oleh bahasa korporasi dan daftar pencapaian.
Di sinilah kredibilitas menjadi penting. Cerita yang terlalu dibuat-buat mungkin terlihat menarik dalam beberapa menit, tetapi dapat kehilangan makna ketika tidak sesuai dengan pengalaman nyata perusahaan.
Company Profile Ikut Membentuk Cara Publik Melihat Brand
Fungsi video company profile pun semakin luas.
Ia dapat digunakan untuk memperkenalkan perusahaan kepada calon klien, menjadi bagian dari komunikasi brand, mendukung employer branding, memperkenalkan perusahaan kepada investor, atau memberikan gambaran kepada publik mengenai aktivitas sebuah organisasi.
Artinya, company profile juga menjadi salah satu titik pertemuan antara perusahaan dan reputasinya.
Apa yang ditampilkan, siapa yang berbicara, cerita apa yang dipilih, hingga bagaimana sebuah pencapaian dijelaskan dapat memengaruhi cara audiens memahami perusahaan.
Perusahaan dapat mengatakan dirinya inovatif. Tetapi proses orang-orang di dalamnya menciptakan inovasi memberikan konteks yang lebih nyata.
Perusahaan dapat mengatakan dirinya berorientasi pada pelanggan. Namun pengalaman pelanggan dapat menunjukkan seperti apa prinsip tersebut diterapkan.
Misalnya, perusahaan jasa keuangan tidak harus memulai video dengan daftar produk tabungan, kredit, dan investasi. Cerita dapat dimulai dari seorang pelaku usaha kecil yang membutuhkan modal untuk memperluas bisnisnya. Dari sana, video baru memperlihatkan bagaimana layanan perusahaan menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Produk tetap disebut. Tetapi produk memiliki fungsi di dalam cerita, bukan menjadi cerita itu sendiri.
Di titik ini, storytelling tidak lagi hanya berkaitan dengan kreativitas produksi. Ia ikut menentukan bagaimana identitas perusahaan diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat dipahami oleh publik.
Yang Perlu Diingat Setelah Video Berakhir
Company profile yang kuat tidak selalu membutuhkan produksi paling mahal, visual paling spektakuler, atau efek paling banyak.
Yang lebih penting adalah adanya alasan mengapa setiap bagian video berada di sana.
Sejarah harus membantu menjelaskan perjalanan. Data harus memberikan bukti. Karyawan harus membawa perspektif. Produk harus menunjukkan solusi. Pencapaian harus menjelaskan dampak.
Bayangkan dua video company profile berdurasi tiga menit.
Video pertama memperlihatkan gedung, direksi, aktivitas kantor, produk, grafik pertumbuhan, penghargaan, dan daftar layanan. Semua informasi penting ada di sana.
Video kedua mengikuti satu persoalan: bagaimana perusahaan membantu seorang pelanggan menyelesaikan masalah yang sebelumnya sulit diatasi. Dari cerita pelanggan tersebut, penonton kemudian melihat orang-orang yang bekerja di balik layanan, proses yang mereka jalankan, teknologi yang digunakan, dan hasil yang akhirnya dicapai.
Keduanya sama-sama dapat menjelaskan perusahaan. Tetapi video kedua memberi audiens sebuah alur untuk memahami informasi.
Itulah fungsi storytelling.
Pada akhirnya, waktu yang dimiliki company profile memang terbatas. Mungkin hanya beberapa menit untuk memperkenalkan sebuah organisasi kepada orang yang belum mengenalnya.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan hanya “Apa yang ingin perusahaan sampaikan?”
Pertanyaannya adalah:
“Apa yang ingin audiens pahami dan ingat setelah video berakhir?”














