JAKARTA — Aksi mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil pada 28 Oktober 2026 kembali menyoroti penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Jakarta, ribuan demonstran berkumpul di kawasan Bundaran HI untuk menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah, termasuk penanganan kebakaran dan kabut asap yang berdampak pada masyarakat.
Salah satu tuntutan utama demonstran adalah penetapan karhutla di Sumatra dan Kalimantan sebagai bencana nasional. Mereka menilai persoalan ini membutuhkan penanganan yang lebih serius, terutama karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga meluas ke sektor kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Pemerintah menyatakan penanganan terus dilakukan melalui pengerahan personel, pemadaman, dan penyelidikan terhadap pihak-pihak yang diduga bertanggung jawab atas kebakaran. Namun, aksi tersebut menunjukkan bahwa tuntutan masyarakat tidak berhenti pada upaya pemadaman. Publik juga meminta kejelasan mengenai langkah pemerintah dan penanganan dampak yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Situasi ini menjadi ujian bagi komunikasi pemerintah: bagaimana menjelaskan perkembangan penanganan tanpa mengabaikan persoalan yang masih dirasakan masyarakat?
Penurunan Titik Panas Belum Menjawab Semua Persoalan
Kementerian Kehutanan melaporkan jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi turun menjadi 79 titik secara nasional berdasarkan pemantauan hingga 27 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB. Sehari sebelumnya, jumlahnya tercatat sebanyak 93 titik.
Baca Juga
Pengurangan Ekspor Gas ke Singapura, Untungkah bagi Indonesia?
Di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla—Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, dan Riau—pemantauan tersebut tidak menemukan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Meski demikian, Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hasil pemantauan satelit tidak otomatis menandakan seluruh kebakaran telah padam. Di sejumlah lokasi, petugas masih melakukan pemadaman, pembasahan, dan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa, terutama di lahan gambut.
Sementara itu, data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menunjukkan luas kumulatif lahan terbakar mencapai sekitar 202 ribu hektare hingga 15 Oktober 2026. Pada periode yang sama, tercatat 295.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak.
Angka-angka tersebut memiliki periode pengukuran berbeda dan tidak bisa dibandingkan secara langsung. Namun, data itu memperlihatkan bahwa penanganan karhutla mencakup persoalan yang lebih luas daripada jumlah titik panas pada satu waktu tertentu.
Bagi pemerintah, perkembangan positif dalam pemadaman tetap penting untuk disampaikan. Namun, masyarakat juga perlu mendapat informasi tentang kondisi wilayah terdampak, risiko kesehatan, serta langkah perlindungan yang masih dibutuhkan.
Ketika Pernyataan Resmi Berhadapan dengan Pengalaman Warga
Dalam situasi krisis, pemerintah dan masyarakat kerap melihat persoalan dari titik yang berbeda. Pemerintah menyampaikan perkembangan melalui data operasi, jumlah personel, dan langkah penegakan hukum. Masyarakat menilai situasi dari apa yang mereka alami: udara yang tercemar, aktivitas yang terganggu, atau kebakaran yang belum sepenuhnya tertangani di sekitar tempat tinggal.
Perbedaan perspektif ini tidak selalu berarti informasi pemerintah keliru atau masyarakat menolak fakta. Namun, jika komunikasi hanya berisi laporan kegiatan, kebutuhan publik bisa saja tidak terjawab.
Aksi 28 Oktober memperlihatkan bahwa persoalan karhutla telah berkembang menjadi tuntutan atas akuntabilitas. Demonstran tidak hanya menyoroti kebakaran, tetapi juga meminta pemerintah menjelaskan mengapa penanganan yang berjalan belum dianggap memadai oleh sebagian masyarakat.
Dalam kondisi seperti ini, mengulang pernyataan bahwa penanganan terus dilakukan belum tentu cukup. Pemerintah perlu menjelaskan apa yang sudah dicapai, bagian mana yang masih bermasalah, dan bagaimana tuntutan masyarakat akan ditindaklanjuti.
Baca Juga
Peringatan MSCI dan Taruhannya bagi Perekonomian Indonesia
Penjelasan tersebut juga perlu membedakan antara fakta yang telah terverifikasi, target penanganan, dan hal-hal yang masih membutuhkan pemeriksaan. Cara ini membantu publik memahami situasi tanpa memberi kesan bahwa seluruh persoalan telah selesai.
Informasi yang Dibutuhkan Bukan Sekadar Laporan Pemadaman
Dampak karhutla menyentuh berbagai aspek kehidupan. Karena itu, komunikasi pemerintah perlu melampaui informasi mengenai operasi pemadaman.
Masyarakat membutuhkan pembaruan tentang kualitas udara, wilayah yang terdampak asap, layanan kesehatan, dan penyesuaian kegiatan belajar. Pengguna transportasi juga memerlukan informasi yang jelas ketika asap mengganggu operasional penerbangan.
Koordinasi antarlembaga menjadi penting karena data dan kewenangan penanganan tersebar di sejumlah institusi. Informasi yang berbeda tidak selalu menunjukkan adanya pertentangan, tetapi perbedaan waktu pembaruan, cakupan wilayah, dan metode pengukuran perlu dijelaskan secara terbuka.
Hal yang sama berlaku ketika pemerintah mengumumkan penurunan titik panas. Angka tersebut perlu disertai konteks bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu yang terdeteksi satelit, bukan hitungan langsung jumlah kebakaran atau luas lahan yang terbakar.
Penjelasan yang lengkap bukan sekadar persoalan teknis. Informasi yang tepat membantu masyarakat memahami risiko dan menentukan tindakan, sekaligus mengurangi ruang bagi spekulasi ketika situasi terus berubah.
Kepercayaan Dibangun dari Tindak Lanjut
Dalam komunikasi krisis, respons terhadap kritik sama pentingnya dengan penyampaian informasi. Kritik publik perlu dipahami berdasarkan substansinya, bukan semata-mata dilihat sebagai gangguan terhadap citra institusi.
Tuntutan penetapan karhutla sebagai bencana nasional, misalnya, berkaitan dengan ekspektasi masyarakat terhadap skala penanganan dan dukungan yang diberikan. Pemerintah perlu menjelaskan pertimbangan kebijakan yang digunakan, langkah yang telah ditempuh, serta alasan di balik keputusan yang diambil.
Keterbukaan semacam ini tidak berarti pemerintah harus menyetujui setiap tuntutan. Yang dibutuhkan adalah jawaban yang jelas, disertai dasar pertimbangan dan perkembangan yang dapat diperiksa publik.
Bagi perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan, kehutanan, dan industri berbasis lahan, persoalan serupa berlaku. Pernyataan mengenai komitmen lingkungan akan sulit dipercaya jika tidak disertai bukti pencegahan, kepatuhan, penanganan keluhan, dan tindakan korektif. Komunikasi tidak dapat menggantikan tanggung jawab operasional.
Karhutla memperlihatkan bahwa ketika dampak krisis berlangsung lama, komunikasi tidak cukup dilakukan melalui pernyataan sesaat. Publik perlu melihat pembaruan yang konsisten, penjelasan yang terbuka, dan tindak lanjut yang sejalan dengan janji yang telah disampaikan.












