JAKARTA — Ada sesuatu yang menarik dari cara Purbaya Yudhi Sadewa mengakhiri masa jabatannya sebagai Menteri Keuangan.
Bukan pernyataan besar. Bukan penjelasan panjang. Bukan pula upaya untuk menjadikan momen serah terima jabatan sebagai panggung untuk membicarakan kembali apa yang telah dilakukannya selama setahun terakhir.
Ia justru memilih untuk berbicara singkat.
“Kalau waktu itu saya datang boleh ngomong panjang, karena untuk menciptakan optimisme. Kalau sekarang saya akan serahkan ke Bapak Suahasil ke depannya. Jadi saya ngomong pendek saja,” kata Purbaya saat menyerahkan jabatan Menteri Keuangan kepada Suahasil Nazara di Kementerian Keuangan, Selasa (15/9/2026). Setelah itu, ia menutup sambutannya dengan ucapan terima kasih atas kerja sama selama satu tahun terakhir.
Baca Juga
Membangun Positioning Brand dari Pembeda yang Nyata
Yang menarik bukan sekadar bahwa Purbaya berbicara singkat. Ia bahkan menjelaskan alasan di balik pilihannya untuk tidak banyak bicara. Dalam satu pernyataan pendek, ia sedang menunjukkan bahwa perubahan situasi juga membutuhkan perubahan cara berkomunikasi.
Ketika Konteks Komunikasi Berubah
Ketika pertama kali datang sebagai Menteri Keuangan, Purbaya mengatakan bahwa ia merasa perlu berbicara panjang untuk menciptakan optimisme. Ketika meninggalkan jabatan, fungsi komunikasinya berbeda. Ia datang bukan untuk menjelaskan arah yang akan dibawanya, melainkan menyerahkan jabatan kepada Suahasil Nazara.
Perbedaan konteks itu membuat kebutuhan komunikasinya ikut berubah.
Dalam komunikasi publik, sebuah pernyataan tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ada situasi, audiens, momentum, dan tujuan yang menentukan seberapa banyak sesuatu perlu disampaikan. Jawaban yang tepat dalam satu situasi belum tentu memiliki fungsi yang sama ketika konteksnya berubah.
Karena itu, pernyataan Purbaya menarik untuk dilihat bukan sebagai contoh bahwa berbicara singkat selalu lebih baik. Yang lebih penting adalah bagaimana ia menyesuaikan pesan dengan fungsi momen tersebut.
Ia tidak mencoba mengulang pidato ketika datang dengan pidato ketika pergi.
Ia memilih mengakui bahwa momennya sudah berbeda.
Jawaban yang Tidak Berhenti di Kata-Kata
Ada satu bagian lain yang menarik: Purbaya tidak sekadar mengatakan sesuatu, tetapi juga menjelaskan mengapa ia memilih mengatakan sesedikit itu.
“Jadi saya ngomong pendek saja.”
Kalimat tersebut ikut menjadi bagian dari pesan. Ia memberi tahu audiens bahwa pendeknya pernyataan itu bukan terjadi secara kebetulan. Ada keputusan komunikasi di belakangnya.
Dalam situasi media, hal semacam ini penting karena sebuah pernyataan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk utuh. Wartawan dapat mengambil bagian tertentu, mengutipnya dalam artikel, menjadikannya soundbite, atau menggunakannya sebagai bagian dari narasi yang lebih besar.
Penelitian mengenai interview bites dalam produksi berita televisi menunjukkan bahwa ucapan narasumber memang dapat diperlakukan sebagai bahan yang kemudian dipilih dan ditempatkan ke dalam konstruksi berita. Relevansi terhadap cerita, daya tarik, dan kemudahan sebuah pernyataan untuk diambil sebagai potongan menjadi bagian dari pertimbangan tersebut.
Dengan kata lain, apa yang diucapkan seseorang di depan kamera bisa memiliki kehidupan kedua setelah momen tersebut selesai.
Karena itu, seorang narasumber tidak hanya perlu memikirkan apa yang ingin dikatakan. Ia juga perlu mempertimbangkan bagian mana dari jawabannya yang tetap memiliki makna ketika dipisahkan dari keseluruhan percakapan.
Singkat, tetapi Tetap Membawa Pesan
Pernyataan singkat bukan berarti pernyataan yang miskin informasi.
Dalam kasus Purbaya, beberapa hal tetap hadir dalam jawabannya. Ia menyebut perubahan konteks, menjelaskan bahwa jabatan akan diserahkan kepada Suahasil, lalu menyampaikan apresiasi atas kerja sama selama satu tahun terakhir. Tidak banyak pesan, tetapi pesannya cukup jelas.
Ini berbeda dengan sekadar memotong jawaban agar terdengar singkat. Jawaban pendek bisa kehilangan makna jika konteks penting ikut dibuang. Sebaliknya, jawaban yang lebih panjang juga tidak otomatis lebih baik jika di dalamnya terdapat terlalu banyak pesan yang saling bersaing.
Maka persoalannya bukan semata-mata jumlah kata.
Persoalannya adalah berapa banyak pesan yang ingin dibawa dalam satu jawaban.
Di sinilah prinsip media training menjadi relevan. Media training bukan latihan untuk membuat narasumber selalu menjawab sesingkat mungkin. Salah satu prinsip yang umum digunakan justru adalah memberikan jawaban yang singkat tetapi lengkap: menjawab pertanyaan terlebih dahulu, kemudian memberikan penjelasan jika memang diperlukan.
Tujuannya bukan membuat narasumber kehilangan substansi, melainkan membantu mereka menemukan pesan utama sebelum masuk ke detail.
Satu Jawaban dalam Banyak Potongan
Dalam produksi berita, jawaban narasumber merupakan salah satu bahan yang dapat dipilih dan disusun kembali menjadi cerita. Penelitian mengenai interview bites menunjukkan bahwa potongan jawaban dapat menjadi bagian penting dari proses produksi berita dan tidak selalu digunakan dalam bentuk keseluruhan percakapan.
Baca Juga
Less is More: Kenapa Pesan yang Sederhana Jauh Lebih Nempel di Kepala?
Artinya, narasumber tidak sepenuhnya mengendalikan bagian mana dari jawabannya yang akhirnya sampai kepada publik.
Semakin panjang sebuah jawaban, semakin banyak pula materi yang tersedia untuk dipilih. Ini bukan masalah dengan sendirinya. Untuk persoalan yang kompleks, jawaban panjang justru bisa dibutuhkan agar konteks tidak hilang.
Namun, panjang jawaban juga berarti semakin banyak kemungkinan pesan yang dapat dipisahkan dari konteks awalnya.
Karena itu, pertanyaan yang relevan bagi seorang narasumber bukan hanya, “Apa yang ingin saya sampaikan?” tetapi juga, “Bagian mana dari jawaban ini yang masih masuk akal ketika berdiri sendiri?”
Menentukan Apa yang Perlu Dikatakan
Di sinilah media training seharusnya ditempatkan: bukan sebagai latihan menghafalkan jawaban, tetapi sebagai latihan mengelola pesan ketika situasi tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.
Seorang narasumber perlu memahami apa pesan utamanya, pertanyaan apa yang sedang dijawab, konteks apa yang diperlukan, dan informasi apa yang sebaiknya tidak dimasukkan jika tidak membantu menjawab persoalan.
Dalam praktiknya, seorang narasumber bisa saja mendapat pertanyaan yang tidak sesuai ekspektasi. Pertanyaan dapat berkembang. Wartawan bisa melakukan follow-up. Bahkan jawaban yang sudah disiapkan sebelumnya bisa terdengar berbeda ketika diucapkan langsung di depan kamera.
Karena itu, media training yang baik tidak berhenti pada simulasi pertanyaan dan jawaban.
Yang dilatih adalah kemampuan untuk kembali ke pesan utama.
Jawaban boleh berkembang, tetapi arah komunikasinya tetap terjaga.
Purbaya memberikan gambaran sederhana mengenai hal tersebut. Ia membaca konteks serah terima sebagai momen yang berbeda dari ketika dirinya datang, lalu menyesuaikan panjang dan isi pernyataannya.
Tahu Kapan Sebuah Jawaban Harus Berhenti
Ada kecenderungan dalam komunikasi publik untuk menganggap kemampuan berbicara sebagai kemampuan menjelaskan sebanyak mungkin hal. Padahal, di depan kamera, kemampuan mengetahui batas sebuah jawaban juga penting.
Kapan perlu memberikan konteks. Kapan perlu memberikan contoh. Kapan perlu menjelaskan lebih jauh. Dan kapan penjelasan tambahan justru membuka persoalan baru yang tidak diperlukan.
Media training pada akhirnya bukan tentang membuat seseorang terdengar sempurna. Ia lebih dekat dengan latihan untuk membuat seseorang tetap jelas, relevan, dan terkendali ketika berhadapan dengan pertanyaan dan situasi yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi.
Purbaya bahkan menunjukkan prinsip itu tanpa harus menjelaskannya sebagai teori. Ia membandingkan momen ketika datang dengan momen ketika pergi, lalu memilih gaya komunikasi yang berbeda untuk keduanya.
Bukan karena tidak ada lagi yang bisa dikatakan.
Justru karena tidak semua yang bisa dikatakan harus dikatakan pada setiap kesempatan.
Pada akhirnya, komunikasi publik bukan soal siapa yang paling banyak berbicara. Setiap kalimat yang keluar di depan kamera dapat dipisahkan, dikutip, dipotong, dan ditempatkan kembali dalam cerita yang lebih besar.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bagi seorang narasumber bukanlah, “Apa lagi yang bisa saya katakan?”
Melainkan:
“Jika hanya satu bagian dari jawaban saya yang tersisa, pesan apa yang ingin saya tinggalkan?”
Dalam momen serah terima jabatan tersebut, Purbaya memilih pesan yang sederhana: berterima kasih atas kerja sama selama setahun terakhir dan menyerahkan kelanjutan pekerjaan kepada Suahasil. Tidak banyak kata, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa terkadang, cara seseorang membatasi ucapannya juga merupakan bagian dari pesan yang ingin disampaikan.














