“Kontennya sudah bagus. Pesannya juga sudah jelas. Tapi kenapa engagementnya tetap rendah?” Pertanyaan seperti ini semakin sering muncul dalam komunikasi digital. Tim komunikasi sudah membuat konten secara rutin. Visual diperhatikan. Copywriting dibuat semenarik mungkin. Bahkan kalender konten sudah tersusun selama berbulan-bulan. Namun, hasilnya belum tentu sesuai ekspektasi.
Di sinilah ada satu hal yang sering terlupakan:
- Publik tidak melihat semua pesan yang kita buat.
Di era digital, komunikasi tidak lagi hanya ditentukan oleh apa yang ingin disampaikan organisasi. Pesan juga dipengaruhi oleh bagaimana platform digital bekerja, bagaimana algoritma menentukan visibilitas, serta bagaimana audiens memilih untuk merespons dan mendistribusikan kembali sebuah pesan.
Sebuah systematic literature review yang diterbitkan pada Maret 2026 mencoba melihat perubahan tersebut dengan meninjau 300 artikel peer-reviewed yang dipublikasikan di Public Relations Review sepanjang 2021–2024.
Baca Juga
Membangun Positioning Brand dari Pembeda yang Nyata
Penelitian berjudul The Digital Shift in Public Relations: A Systematic Review of Social Media, Brand Management, Crisis Communication tersebut menunjukkan bahwa perkembangan media sosial, kurasi algoritmik, dan metrik engagement telah mengubah praktik dan teori public relations secara signifikan.
Menurut saya sebagai reviewer, temuan paling menarik dari penelitian ini bukan sekadar bahwa PR sudah semakin digital. Yang lebih penting adalah perubahan pada konsep “kontrol pesan”.
Dulu, organisasi relatif lebih mudah menentukan pesan apa yang ingin disampaikan, melalui kanal apa, dan kepada siapa. Sekarang? Organisasi dapat mengontrol pesan yang dibuat, tetapi tidak sepenuhnya dapat mengontrol pesan mana yang dilihat publik.
Komunikasi Tidak Lagi Berhenti Saat Pesan Dipublikasikan
Dalam komunikasi tradisional, prosesnya relatif sederhana:
Message → Media → Audience
Organisasi menyusun pesan. Media menyampaikan pesan. Publik menerima pesan.
Dalam lingkungan digital, prosesnya jauh lebih kompleks:
Message → Platform → Algorithm → Audience → Interaction → Amplification
Pesan organisasi masuk ke platform. Kemudian algoritma menentukan siapa yang kemungkinan melihatnya. Audiens memberikan respons. Respons tersebut kemudian dapat memperluas atau mengubah distribusi pesan. Dengan kata lain, publik bukan hanya penerima pesan, tetapi juga bagian dari mekanisme distribusi pesan.
Penelitian tersebut menyebut perubahan ini sebagai bagian dari algorithmic turn dalam public relations: visibilitas dan legitimasi organisasi semakin dipengaruhi oleh arsitektur platform digital. Artinya, sebuah pesan dapat memiliki kualitas komunikasi yang baik tetapi tetap memiliki jangkauan terbatas. Sebaliknya, sebuah pesan yang awalnya tidak dirancang sebagai komunikasi strategis dapat memperoleh perhatian sangat besar ketika mendapatkan respons publik yang tinggi.
Apakah Berarti Algoritma Lebih Penting daripada Pesan?
Tidak juga. Ini justru bagian yang menurut saya perlu diperhatikan. Algoritma memang menentukan sebagian dari visibility, tetapi bukan berarti kualitas pesan menjadi tidak penting. Justru keduanya harus dilihat sebagai satu ekosistem.
Bayangkan ada dua perusahaan. Perusahaan A memiliki pesan yang sangat jelas, tetapi dikemas dalam format yang tidak relevan dengan perilaku audiens di platform. Perusahaan B memiliki pesan yang sama, tetapi disusun berdasarkan karakteristik platform dan membuka ruang interaksi. Kemungkinan distribusi keduanya dapat berbeda.
Namun, jika pesan Perusahaan B tidak memiliki substansi, engagement yang tinggi juga belum tentu menghasilkan persepsi positif.
Jadi: Visibility ≠ Understanding dan Engagement ≠ Trust
Pesan harus terlebih dahulu mendapatkan perhatian. Kemudian dipahami. Lalu dipercaya. Dan idealnya mendorong respons atau tindakan yang relevan.
Dari Message Control ke Conversation Management
Perubahan ini membuat peran tim komunikasi ikut bergeser.
Jika sebelumnya fokus utama adalah:
“Apa pesan yang ingin kita sampaikan?”
Maka pertanyaannya sekarang perlu berkembang menjadi:
“Bagaimana pesan tersebut akan muncul, diterima, dibicarakan, dan didistribusikan kembali oleh publik?”
Ini merupakan perubahan yang cukup fundamental. Komunikasi digital tidak berhenti ketika konten di-publish. Justru setelah publish, proses komunikasi baru dimulai. Komentar muncul. Publik memberikan interpretasi. Media mengutip. Akun lain melakukan repost. Influencer memberikan opini. Komunitas membentuk diskusi. Dan pada titik tertentu, narasi yang berkembang dapat berbeda dari pesan awal organisasi.
Karena itu, pekerjaan komunikasi modern bukan hanya content production. Tetapi juga conversation management.
Apa yang Sebenarnya Harus Diukur?
Perubahan cara kerja komunikasi juga seharusnya diikuti dengan perubahan cara mengukurnya.
Baca Juga
Less is More: Kenapa Pesan yang Sederhana Jauh Lebih Nempel di Kepala?
Selama ini, performa komunikasi digital sering dirangkum melalui:
- Reach
- Impression
- Likes
- Comments
- Shares
- Engagement rate
Metrik tersebut tetap penting.
Tetapi pertanyaannya:
Apa yang terjadi setelah engagement tersebut?
Sebuah konten memperoleh 100.000 views. Bagus.
Tetapi apakah audiens memahami pesan yang ingin disampaikan? Sebuah unggahan mendapatkan 5.000 likes. Bagus.
Tetapi apakah persepsi terhadap brand berubah? Sebuah postingan memperoleh 1.000 komentar. Bagus.
Tetapi apakah percakapan tersebut mendukung atau justru merusak positioning?
Di sinilah pengukuran komunikasi perlu bergerak dari sekadar visibility metrics menuju communication intelligence.
Empat Lapisan yang Perlu Dibaca Tim Komunikasi
Menurut saya, komunikasi digital dapat dianalisis melalui empat lapisan.
1. Visibility
Pertama, lihat apakah pesan berhasil mendapatkan perhatian. Beberapa indikator yang dapat digunakan:
Reach → Impression → View → Share of Voice
Tahap ini menjawab: “Seberapa terlihat pesan kita?” Tetapi jangan berhenti di sini.
2. Engagement
Selanjutnya lihat bagaimana publik merespons. Bukan hanya berapa banyak komentar atau likes, tetapi juga:
Apa yang mereka katakan? Apakah mereka bertanya? Menyetujui? Mengkritik? Membagikan pengalaman? Atau justru membawa percakapan ke isu lain?
Tahap ini menjawab:
“Bagaimana publik berinteraksi dengan pesan kita?”
3. Narrative
Kemudian lihat narasi yang berkembang. Apakah publik membicarakan brand sesuai dengan positioning yang ingin dibangun?
Misalnya perusahaan ingin dikenal sebagai:
“Perusahaan yang inovatif.”
Namun percakapan publik justru lebih banyak membahas:
“Perusahaan yang mahal.”
Ada narrative gap yang perlu diperhatikan.
4. Impact
Lapisan terakhir adalah dampak. Apakah komunikasi tersebut berkontribusi terhadap:
- Awareness?
- Trust?
- Consideration?
- Preference?
- Reputation?
- Behaviour?
Tidak semua dampak dapat diukur langsung dari satu unggahan. Tetapi setidaknya tim komunikasi dapat mulai menghubungkan data komunikasi dengan perubahan persepsi dan perilaku stakeholder.













