Lewati ke konten
Memuat cuaca Jakarta...
Strategic Communication Intelligence & Advisory Tentang Kami Kontak
Membaca Isu, Memahami Komunikasi

Ancaman Brand Tak Selalu Datang dari Sentimen Negatif

Brand yang jarang dibicarakan di media dan media sosial sering dianggap aman karena tidak ada sentimen negatif. Namun, kondisi sepi bukan otomatis kabar baik—bisa jadi brand mulai kehilangan relevansi dan ruang di percakapan publik. Media monitoring dan analisis Share of Voice (SOV) diperlukan untuk membaca apakah keheningan itu tanda tenang atau justru peringatan dini.

Lufthy Sintia
Lufthy Sintia Penulis · Senin, 21 September 2026 · 12:54:00 WIB · Editor: Kevin Khanza
Ancaman Brand Tak Selalu Datang dari Sentimen Negatif
Ilustrasi (Sumber gambar: Magnific)

JAKARTA — Ketika sebuah brand jarang disebut di media atau media sosial, suasana di internal perusahaan bisa terasa tenang. Tidak ada berita buruk, tidak ada komentar pedas, dan tidak ada isu yang perlu segera ditangani.

Namun, ketenangan tidak selalu berarti semuanya baik-baik saja.

Dalam komunikasi, tidak adanya percakapan bukan otomatis kabar baik. Bisa jadi memang tidak ada masalah. Tetapi bisa juga berarti brand mulai kehilangan perhatian, relevansi, atau tempat dalam percakapan publik.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah sebuah brand sedang dibicarakan atau tidak, melainkan mengapa brand tersebut tidak banyak dibicarakan.

Sepi Tidak Selalu Berarti Aman

Brand membutuhkan ruang dalam ingatan publik. Ketika sebuah nama semakin jarang muncul dalam percakapan, kesempatan untuk tetap relevan juga dapat semakin kecil.

Membangun Positioning Brand dari Pembeda yang Nyata Baca Juga Membangun Positioning Brand dari Pembeda yang Nyata

Bayangkan seorang konsumen sedang membutuhkan produk atau jasa tertentu. Nama brand yang muncul dalam pertimbangannya tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas produk, tetapi juga oleh seberapa familiar brand tersebut dan seberapa sering ia berinteraksi dengan informasi tentangnya.

Karena itu, masalahnya bukan sekadar “tidak ada pemberitaan”. Brand bisa saja tidak sedang menghadapi krisis, tetapi pada saat yang sama juga tidak memiliki cukup alasan untuk dibicarakan.

Di titik tersebut, silence bukan sesuatu yang harus langsung dianggap sebagai masalah. Ia adalah sinyal yang perlu dibaca.

Apakah brand memang sedang menjalani periode yang tenang? Apakah aktivitas komunikasinya sedang berkurang? Apakah kompetitor mulai mengambil ruang percakapan? Atau memang tidak ada sesuatu yang cukup relevan untuk membuat publik membicarakannya?

Jawaban atas pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui jumlah pemberitaan.

Melihat Brand dari Angka yang Lebih Besar

Di sinilah media monitoring menjadi penting.

Melalui pemantauan media dan percakapan digital, perusahaan dapat melihat seberapa sering brand disebut, di kanal mana pembicaraan muncul, topik apa yang paling banyak dikaitkan dengan brand, dan bagaimana kecenderungan percakapannya.

Data tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan kompetitor melalui Share of Voice atau SOV, yaitu porsi percakapan yang dimiliki sebuah brand dibandingkan dengan brand lain dalam kategori dan periode tertentu.

Angka tersebut dapat membuka situasi yang tidak terlihat dari dalam perusahaan.

Sebuah perusahaan mungkin merasa sudah cukup aktif berkomunikasi. Namun ketika dibandingkan dengan kompetitor, ternyata ruang percakapannya jauh lebih kecil. Sebaliknya, brand dengan jumlah pemberitaan yang tidak terlalu besar bisa saja memiliki SOV yang meningkat karena kompetitornya sedang mengalami penurunan aktivitas.

Karena itu, angka tidak sebaiknya dibaca sendirian.

Sepi menjadi lebih berarti ketika dibandingkan dengan konteks.

Bukan Hanya Seberapa Banyak, tetapi Apa yang Dibicarakan

Jumlah penyebutan memang penting, tetapi volume hanya merupakan lapisan pertama.

Perusahaan juga perlu mengetahui apa yang sebenarnya dibicarakan tentang brand. Apakah konsumen membicarakan produk? Apakah media mengangkat inovasi perusahaan? Apakah percakapan muncul karena layanan pelanggan? Atau justru nama brand hampir tidak muncul dalam percakapan yang berkaitan dengan kategori industrinya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu membedakan antara brand yang sedang tenang dan brand yang mulai kehilangan relevansi.

Sebuah brand bisa memiliki sedikit pemberitaan tetapi tetap memiliki percakapan yang sangat relevan. Sebaliknya, brand dengan banyak pemberitaan belum tentu memiliki posisi komunikasi yang sehat jika sebagian besar pembicaraan berasal dari isu negatif.

Karena itu, media monitoring tidak seharusnya hanya menjadi aktivitas menghitung berapa kali sebuah nama muncul.

Ia perlu membantu perusahaan memahami cerita apa yang sedang terbentuk di sekitar brand.

Ketika Kompetitor Mulai Mengambil Ruang

Ada alasan lain mengapa kondisi sepi perlu diperhatikan: ruang perhatian publik tidak kosong.

Ketika sebuah brand mengurangi kehadirannya, kompetitor tetap dapat berkomunikasi. Mereka meluncurkan produk, memberikan perspektif terhadap isu industri, membuat kampanye, membangun hubungan dengan komunitas, atau sekadar terus hadir dalam percakapan sehari-hari.

Dalam jangka panjang, akumulasi kehadiran tersebut dapat membuat kompetitor lebih mudah dikenali ketika konsumen mulai membutuhkan produk atau jasa yang mereka tawarkan.

Karena itu, masalah dari brand yang terlalu lama diam bukan semata-mata kehilangan jumlah pemberitaan hari ini.

Masalahnya bisa berupa kehilangan ruang yang kemudian diisi oleh brand lain.

Less is More: Kenapa Pesan yang Sederhana Jauh Lebih Nempel di Kepala? Baca Juga Less is More: Kenapa Pesan yang Sederhana Jauh Lebih Nempel di Kepala?

Namun, ini bukan berarti perusahaan harus menciptakan berita setiap hari atau memaksa dirinya masuk ke setiap percakapan. Kehadiran yang tidak relevan justru dapat menghasilkan kebisingan tanpa membangun nilai.

Yang dibutuhkan adalah alasan yang cukup untuk tetap relevan.

Hadir Tidak Berarti Harus Ramai

Memperbaiki kondisi tersebut juga tidak selalu membutuhkan kampanye besar.

Perusahaan dapat kembali membangun kehadiran melalui hal-hal yang memang relevan dengan brand: perkembangan produk, perspektif terhadap isu industri, aktivitas perusahaan, cerita pelanggan, pengetahuan dari tim, atau berbagai hal yang memiliki nilai bagi audiens.

Yang penting bukan sekadar memperbanyak konten.

Kehadiran harus memiliki alasan.

Konsistensi juga menjadi penting. Komunikasi yang muncul secara teratur dan relevan dapat membantu brand tetap berada dalam radar audiens, sementara kampanye besar yang hanya muncul sekali kemudian menghilang belum tentu menghasilkan ingatan jangka panjang.

Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan “Bagaimana agar brand kita ramai?”

Melainkan:

“Apa yang layak kita katakan sehingga keberadaan brand tetap memiliki arti?”

Monitoring Adalah Kompas

Setelah brand kembali aktif, percakapan yang muncul tetap perlu dipantau.

Perusahaan perlu mengetahui apakah peningkatan aktivitas komunikasi benar-benar menghasilkan perubahan. Apakah penyebutan brand meningkat? Apakah topik yang muncul sesuai dengan pesan yang ingin dibangun? Apakah kompetitor mengambil ruang yang lebih besar? Apakah respons publik berubah?

Pada momen penting seperti peluncuran produk, perubahan kebijakan, atau munculnya isu industri, kebutuhan tersebut menjadi semakin penting.

Percakapan dapat bergerak cepat. Sebuah pesan bisa diterima seperti yang diharapkan, tetapi bisa juga dipahami secara berbeda ketika masuk ke ruang publik.

Pemantauan memberikan kesempatan untuk melihat perubahan tersebut lebih awal.

Tanpa pemantauan, perusahaan bisa saja baru menyadari adanya perubahan ketika percakapan sudah berkembang terlalu jauh dan pilihan untuk melakukan penyesuaian menjadi semakin terbatas.

Jadi, Haruskah Mulai Khawatir?

Tidak setiap periode sepi perlu dikhawatirkan.

Brand bisa saja sedang tidak menjadi pusat perhatian karena memang tidak ada isu atau momentum yang membutuhkan perhatian publik. Dalam situasi tertentu, tidak banyak dibicarakan bahkan bisa menjadi kondisi yang sepenuhnya normal.

Yang perlu diperhatikan adalah pola di balik kesunyian tersebut.

Apakah volume penyebutan terus menurun? Apakah SOV mulai tertinggal dari kompetitor? Apakah brand semakin jarang muncul dalam percakapan kategori industrinya? Apakah topik yang berkaitan dengan brand semakin sedikit? Dan yang paling penting, apakah audiens mulai kehilangan alasan untuk membicarakannya?

Jika jawabannya mengarah ke sana, kesunyian tersebut mungkin bukan lagi sekadar ketenangan.

Ia bisa menjadi sinyal bahwa brand mulai kehilangan ruang dalam percakapan.

Pada akhirnya, media monitoring bukan hanya alat untuk menemukan krisis ketika sesuatu sudah ramai. Ia juga dapat digunakan untuk membaca kondisi yang jauh lebih sunyi: ketika sebuah brand perlahan menghilang dari radar publik.

Sebab dalam komunikasi, tidak semua masalah datang dalam bentuk keramaian.

Kadang-kadang, tanda awalnya justru adalah ketika semakin sedikit orang yang membicarakan kita.

Follow news.publikalabs.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Tentang penulis Lufthy Sintia

Praktisi komunikasi dengan latar belakang Manajemen yang banyak berkecimpung di dunia strategic communications, brand, media digital, event, dan partnership. Memulai perjalanan di PublikaLabs sebagai Account Executive dan dipercaya untuk memimpin bidang Event & Partnership. Sehari-hari, terlibat dalam menyusun strategi komunikasi, mengembangkan campaign, membangun kolaborasi, hingga mengelola berbagai kebutuhan event dan brand. Di luar pekerjaan, aktif sebagai content creator di ranah lifestyle dan beauty. Lewat tulisan di blog ini, ingin berbagi perspektif dan pengalaman tentang komunikasi, brand, dan bagaimana sebuah brand bisa membangun reputasi sekaligus tetap dekat dan relevan dengan audiensnya di era digital.