Lewati ke konten
Memuat cuaca Jakarta...
Strategic Communication Intelligence & Advisory Tentang Kami Kontak
Membaca Isu, Memahami Komunikasi

Media Punya Makin Banyak Data, Tapi Belum Tentu Makin Paham Publik

Di tengah ledakan kanal digital, media intelligence membantu perusahaan mengubah data dan percakapan publik menjadi insight untuk mengambil keputusan.

Abdillah
Abdillah Penulis · Selasa, 15 September 2026 · 18:25:00 WIB
Media Punya Makin Banyak Data, Tapi Belum Tentu Makin Paham Publik

Jakarta — Ledakan kanal digital membuat perusahaan media memiliki data tentang publik dalam jumlah yang belum pernah sebesar ini, tetapi kelimpahan data justru menghadirkan persoalan baru: bagaimana mengubahnya menjadi pemahaman yang bisa digunakan untuk mengambil keputusan.

MNC dapat menjadi gambaran. Ekosistem perusahaan mencakup televisi FTA, RCTI+, Vision+, portal berita, produksi konten, IP, dan berbagai kanal digital.

Head of Business Development PublikaLabs Abdillah mengatakan persoalan industri media saat ini bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan data, tetapi bagaimana mengubah data tersebut menjadi intelligence.

“Data yang banyak belum tentu membuat perusahaan lebih memahami publik. Yang penting adalah bagaimana data tersebut dihubungkan, dibaca konteksnya, lalu diterjemahkan menjadi insight yang bisa digunakan untuk mengambil keputusan.”

Isu yang Tak Viral Belum Tentu Aman bagi Perusahaan Baca Juga Isu yang Tak Viral Belum Tentu Aman bagi Perusahaan

Satu konten dapat menghasilkan data penonton di televisi, views di platform digital, komentar di media sosial, pemberitaan di portal online, hingga perubahan sentimen publik. Semua informasi tersebut berharga, tetapi akan sulit digunakan jika dibaca secara terpisah.

Pasar media sendiri terus berkembang. PwC memperkirakan pasar entertainment and media Indonesia mencapai US$42,9 miliar pada 2030, sementara pendapatan iklan internet diproyeksikan mencapai US$16,8 miliar.

Dengan semakin besarnya ekosistem digital, perusahaan tidak kekurangan data. Yang semakin langka justru kemampuan memilah sinyal dari kebisingan.

Misalnya, ketika sebuah program tiba-tiba ramai dibicarakan, perusahaan perlu mengetahui apakah kenaikan percakapan itu merupakan sinyal keberhasilan, kontroversi, atau sekadar lonjakan sementara.

Ketika sebuah isu mulai meningkat, perusahaan juga perlu mengetahui siapa yang mendorong percakapan, bagaimana sentimennya bergerak, dan apakah isu tersebut mulai berpindah dari media sosial ke media arus utama.

Menurut Abdillah, di sinilah intelligence menjadi pembeda antara data dan keputusan.

“Perusahaan tidak membutuhkan lebih banyak dashboard hanya untuk melihat angka. Mereka membutuhkan kemampuan menjawab: apa yang berubah, mengapa berubah, seberapa penting perubahan itu, dan apa yang harus dilakukan setelahnya.”

Banyak Diberitakan Belum Tentu Reputasi Perusahaan Membaik Baca Juga Banyak Diberitakan Belum Tentu Reputasi Perusahaan Membaik

Pertanyaan semacam itu tidak dapat dijawab hanya dengan clipping atau laporan jumlah pemberitaan.

Di sinilah media intelligence berperan sebagai lapisan yang menghubungkan data dengan keputusan. PublikaLabs mengembangkan kapabilitas monitoring, sentiment analysis, issue intelligence, hingga strategic advisory dalam satu alur kerja dari monitoring hingga strategi dan eksekusi.

Abdillah mengatakan kemampuan tersebut akan semakin penting ketika perusahaan mengelola semakin banyak kanal.

“Semakin kompleks ekosistem medianya, semakin besar kebutuhan untuk memiliki satu cara pandang terhadap ruang publik. Kalau setiap kanal dibaca sendiri-sendiri, kita bisa kehilangan pola yang sebenarnya sedang terjadi.”

Perubahan tersebut penting karena teknologi distribusi kini semakin mudah diakses. Hampir semua perusahaan dapat membuat kanal media sosial, memproduksi video, membuat podcast, atau mendistribusikan konten melalui platform digital.

Yang lebih sulit ditiru adalah kemampuan memahami apa yang sedang terjadi di ruang publik.

Karena itu, keunggulan perusahaan media ke depan mungkin tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki kanal paling banyak atau data paling besar.

Keunggulannya akan ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengubah data menjadi intelligence, lalu intelligence menjadi keputusan.

Dalam industri yang bergerak dalam hitungan menit, kemampuan tersebut bukan lagi fungsi pendukung. Ia semakin dekat dengan inti strategi bisnis media.

Follow news.publikalabs.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Tentang penulis Abdillah

Abdillah adalah praktisi komunikasi dan pengembangan bisnis dengan latar belakang seni, media, dan sosiologi. Ia memiliki ketertarikan pada hubungan antara komunikasi, media, budaya, dan institusi dalam membentuk opini, perilaku, serta percakapan publik. Melalui tulisan, Abdillah mengeksplorasi bagaimana sebuah isu berkembang, bagaimana organisasi membangun komunikasi dengan publik, dan bagaimana perubahan persepsi dapat memengaruhi reputasi maupun hubungan antara institusi dan masyarakat.