JAKARTA – PT Era Media Sejahtera Tbk. (DOOH) sedang menyiapkan perubahan besar terhadap arah bisnisnya. Perusahaan yang selama ini dikenal melalui bisnis periklanan berbasis teknologi berencana memperluas pijakan ke infrastruktur digital, mulai dari AI data center, jaringan fiber optik, konektivitas berkecepatan tinggi, hingga energi hijau.
Ekspansi tersebut membutuhkan modal dalam jumlah besar. Melalui anak usahanya, PT Cakrawala Nexus Investama (CNI), DOOH berencana mengakuisisi 6,685 miliar saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET), setara sekitar 29,88% kepemilikan, dengan nilai transaksi Rp2,005 triliun. Nilai transaksi tersebut setara 647,90% dari ekuitas konsolidasian DOOH per 30 Juni 2026.
Namun, terdapat satu hal yang perlu diperjelas. Rp2 triliun untuk akuisisi INET bukan berasal dari rights issue DOOH.
Untuk membiayai transaksi tersebut, DOOH menyiapkan shareholder loan dari pemegang saham pengendalinya, PT Sinergi Internasional Investama (SII), dengan plafon hingga Rp5 triliun. Dari fasilitas tersebut, pencairan awal sebesar Rp2 triliun direncanakan digunakan untuk mendanai akuisisi INET.
Baca Juga
Komunikasi Brand di Era Ketika Semua Orang Bisa Bicara
Pada saat yang sama, DOOH juga merencanakan rights issue sebanyak-banyaknya 154,77 miliar saham baru.
Kedua aksi tersebut sama-sama berkaitan dengan kebutuhan modal, tetapi memiliki konsekuensi yang berbeda terhadap struktur keuangan dan pemegang saham.
Rights Issue Menambah Modal, tetapi Juga Membuka Potensi Dilusi
Rights issue atau Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) memungkinkan perusahaan memperoleh modal baru melalui penerbitan saham. Pemegang saham lama diberikan hak terlebih dahulu untuk membeli saham baru sehingga dapat mempertahankan proporsi kepemilikannya apabila hak tersebut digunakan.
Dalam rencana DOOH, jumlah saham baru yang dapat diterbitkan mencapai 154,777 miliar saham dengan nilai nominal Rp10 per saham. Jumlah tersebut setara dengan 95,24% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah pelaksanaan rights issue.
Angka tersebut menunjukkan bahwa aksi korporasi ini berpotensi mengubah struktur modal DOOH secara signifikan.
Pemegang saham lama yang tidak menggunakan haknya tidak kehilangan jumlah saham yang sudah dimiliki. Namun, ketika jumlah saham beredar bertambah, persentase kepemilikannya terhadap perusahaan dapat menyusut. Inilah yang disebut dilusi.
Dampaknya tidak berhenti pada persentase kepemilikan. Bertambahnya jumlah saham juga menjadi penting ketika perusahaan mulai membukukan laba. Jika laba tumbuh lebih lambat dibandingkan jumlah saham, kenaikan laba perusahaan belum tentu menghasilkan pertumbuhan laba per saham (earnings per share/EPS) yang sebanding.
Karena itu, investor tidak hanya perlu melihat berapa besar dana yang dapat dihimpun melalui rights issue, tetapi juga bagaimana tambahan modal tersebut akan diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba dan nilai bagi pemegang saham.
Rights Issue Bukan Pendapatan
Ada satu aspek akuntansi yang juga penting untuk dipahami.
Dana yang diperoleh melalui penerbitan saham bukan merupakan pendapatan perusahaan. Transaksi tersebut merupakan transaksi dengan pemilik yang memengaruhi ekuitas.
Artinya, kas perusahaan dapat bertambah tanpa pendapatan bertambah. Ekuitas juga dapat meningkat tanpa laba perusahaan otomatis meningkat.
Perbedaan tersebut menjadi penting ketika melihat perusahaan yang baru memperoleh dana besar melalui aksi korporasi. Tambahan kas menunjukkan adanya sumber daya baru yang tersedia bagi perusahaan, tetapi belum menunjukkan apakah sumber daya tersebut telah menghasilkan manfaat ekonomi.
Dengan kata lain, dana yang berhasil dihimpun adalah titik awal, bukan hasil akhir.
Penelitian Mabena dan Geyser (2023) dalam Investment Analysts Journal menunjukkan bahwa pengumuman rights issue pada perusahaan yang tercatat di Johannesburg Stock Exchange selama 2005–2022 cenderung diikuti tekanan terhadap harga saham. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa efek negatif lebih terlihat pada perusahaan yang dikategorikan sebagai growth dibandingkan value.
Temuan tersebut tidak berarti setiap rights issue pasti berdampak negatif terhadap harga saham. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa pasar memperhatikan lebih dari sekadar besarnya modal yang akan dihimpun. Ukuran penerbitan, cara modal digunakan, dan prospek ekonomi setelah aksi korporasi turut menjadi bagian dari pertimbangan investor.
Rp2 Triliun dari Shareholder Loan Punya Konsekuensi Berbeda
Berbeda dengan rights issue, shareholder loan tidak menambah modal disetor perusahaan melalui penerbitan saham baru.
DOOH akan memperoleh fasilitas pinjaman dari SII dengan plafon hingga Rp5 triliun, tenor 10 tahun, dan bunga 7,5% per tahun. Dari fasilitas tersebut, pencairan awal Rp2 triliun direncanakan digunakan untuk membiayai pembelian saham INET.
Pinjaman tersebut memang menambah kas perusahaan, tetapi pada saat yang sama juga menambah liabilitas. Perusahaan memiliki kewajiban untuk memenuhi pembayaran sesuai ketentuan pinjaman, termasuk konsekuensi bunga selama periode pendanaan.
Menurut PSAK 109, instrumen keuangan seperti pinjaman memiliki ketentuan pengakuan dan pengukuran tersendiri. Karena itu, dana Rp2 triliun yang diterima melalui shareholder loan tidak dapat diperlakukan sebagai pendapatan perusahaan.
Di sinilah perbedaan kedua sumber pendanaan tersebut menjadi jelas.
Baca Juga
Laba Besar, Dividen Kecil: Ke Mana Perginya Uang Perusahaan?
Rights issue menambah ekuitas dan jumlah saham. Shareholder loan menambah liabilitas tanpa menerbitkan saham baru.
Konsekuensinya pun berbeda. Rights issue membawa potensi dilusi bagi pemegang saham yang tidak mengambil haknya, sementara pinjaman membawa kewajiban pembayaran kembali beserta beban bunga.
Keduanya dapat digunakan untuk membiayai ekspansi, tetapi risiko dan dampaknya terhadap struktur modal tidak sama.
Mengapa INET Menjadi Bagian Penting dari Strategi DOOH?
Dana tersebut bukan sekadar digunakan untuk memperbesar ukuran perusahaan. DOOH sedang mencoba mengubah arah bisnisnya.
Manajemen menyebut lima pilar yang akan menjadi bagian dari transformasi tersebut, yakni AI Data Centre, High Speed Connectivity, Inland Fiber Optic Backbone, Submarine Fiber Optic Backbone, dan Green Energy melalui pembangkit listrik tenaga surya.
Akuisisi sekitar 29,88% saham INET menjadi salah satu bagian dari strategi tersebut.
Dari perspektif laporan keuangan, persentase kepemilikan itu juga perlu diperhatikan karena perlakuan akuntansi terhadap investasi tidak semata-mata ditentukan oleh harga pembelian. Jika kepemilikan tersebut memberikan pengaruh signifikan, PSAK 228: Investasi pada Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama mengatur perlakuan terhadap investasi pada entitas asosiasi, termasuk penerapan metode ekuitas.
Dengan metode tersebut, investasi tidak sekadar dipandang sebagai sejumlah saham yang dibeli. Kinerja entitas yang diinvestasikan dapat memengaruhi nilai tercatat investasi dan bagian hasil yang diakui investor sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena itu, angka 29,88% memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar persentase kepemilikan. Investor perlu melihat apakah kepemilikan tersebut memberikan pengaruh signifikan dan bagaimana investasi tersebut akan berkontribusi terhadap kinerja DOOH.
Modal Besar Belum Tentu Berarti Nilai Bertambah
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekspansi bukan hanya berapa besar modal yang berhasil diperoleh, tetapi apa yang dihasilkan dari modal tersebut.
Jika investasi pada INET mampu memperluas pendapatan, memperkuat arus kas, dan meningkatkan laba dengan pertumbuhan yang lebih tinggi daripada pertambahan jumlah saham, pemegang saham lama tetap memiliki peluang memperoleh manfaat dari ekspansi tersebut.
Sebaliknya, jika jumlah saham meningkat jauh lebih cepat daripada laba, pertumbuhan laba perusahaan belum tentu diikuti pertumbuhan laba per saham. Pada kondisi tersebut, perusahaan memang dapat tumbuh secara nominal, tetapi manfaat pertumbuhannya bagi setiap pemegang saham perlu dilihat lebih jauh.
Literatur mengenai equity rights issue juga menunjukkan bahwa pasar memperhatikan konsekuensi penerbitan saham baru terhadap nilai pemegang saham. Penelitian Drienko, Sault, dan Wong, misalnya, membahas bagaimana rights issue berkaitan dengan respons pasar dan konsekuensinya terhadap nilai pemegang saham.
Karena itu, keberhasilan rights issue tidak cukup diukur dari berapa banyak dana yang berhasil dihimpun. Penggunaan dana dan hasil ekonomi setelah transaksi menjadi bagian yang sama pentingnya.
Hal tersebut semakin relevan bagi DOOH karena perusahaan menjalankan dua langkah sekaligus: menghimpun modal melalui rights issue dan menggunakan shareholder loan untuk membiayai akuisisi INET.
Investor pada akhirnya perlu melihat apakah tambahan modal tersebut mampu menghasilkan pertumbuhan yang sepadan dengan perubahan struktur modal, kewajiban pendanaan, dan potensi dilusi yang muncul.
Dari Mana Modal Berasal, ke Mana Nilainya Mengalir?
Rencana rights issue DOOH masih harus memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 9 November 2026. Agenda tersebut juga mencakup persetujuan pencairan pinjaman dari SII serta rencana akuisisi saham INET.
Dengan demikian, cerita DOOH bukan sekadar tentang perusahaan yang mencari dana Rp2 triliun untuk membeli saham perusahaan lain.
Di dalamnya terdapat utang, ekuitas, akuisisi, potensi dilusi, perubahan struktur modal, dan transformasi arah bisnis yang berlangsung dalam satu rangkaian strategi.
Bagi investor, membaca aksi korporasi tersebut berarti melihat lebih jauh dari nilai transaksinya. Pertanyaan yang lebih penting adalah dari mana modal berasal, bagaimana modal tersebut mengubah struktur perusahaan, untuk apa dana digunakan, dan seberapa besar manfaat ekonomi yang dapat dihasilkan setelahnya.
Sebab, modal yang besar memang dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk tumbuh. Namun, pertumbuhan baru menciptakan nilai ketika hasil yang dihasilkan mampu melampaui modal, risiko, dan konsekuensi yang menyertainya.












