Lewati ke konten
Membaca Isu, Memahami Komunikasi

Kepercayaan dan Misinformasi: Risiko di Balik Informasi yang Dibagikan

Kepercayaan terhadap sumber belum menjamin informasi akurat. Kenali pentingnya verifikasi dan dampaknya bagi reputasi organisasi.

Shopia Dwi Lestari
Shopia Dwi Lestari Penulis · Jumat, 06 November 2026 · 16:00:00 WIB · Editor: Kevin Khanza
Kepercayaan dan Misinformasi: Risiko di Balik Informasi yang Dibagikan
Ilustrasi (Sumber gambar: Magnific)

JAKARTA — Mengapa seseorang masih membagikan informasi yang belum terverifikasi, meskipun merasa mampu membedakan informasi benar dan salah? Pertanyaan ini penting dalam memahami perilaku pengguna di media sosial. Sebab, kepercayaan terhadap sumber informasi tidak selalu membuat seseorang lebih teliti dalam memeriksa isi pesan yang diterimanya.

Penelitian berjudul Trust but Verify? Examining the Role of Trust in Institutions in the Spread of Unverified Information on Social Media yang ditulis Ward van Zoonen, Vilma Luoma-aho, dan Matias Lievonen, diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behavior pada 2024. Penelitian tersebut melibatkan 2.600 responden, terutama dari kelompok Gen Z dan milenial berusia 15–30 tahun, untuk mengkaji hubungan antara kepercayaan terhadap institusi dan kecenderungan pengguna membagikan informasi yang belum diverifikasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap institusi berkaitan dengan keyakinan pengguna terhadap kemampuannya mengenali misinformasi. Namun, keyakinan tersebut juga dapat berhubungan dengan menurunnya dorongan untuk memeriksa kembali keakuratan informasi.

Peneliti menyoroti kemungkinan munculnya rasa percaya diri berlebihan dalam menilai informasi. Seseorang yang merasa mampu mengenali informasi keliru bisa saja menganggap pemeriksaan tambahan tidak lagi diperlukan.

Personal Branding Pemimpin dan Strategi Membangun Kepercayaan Publik Baca Juga Personal Branding Pemimpin dan Strategi Membangun Kepercayaan Publik

Temuan ini tidak berarti bahwa kepercayaan terhadap institusi selalu menyebabkan penyebaran misinformasi. Hubungan antara kepercayaan, kemampuan menilai informasi, dan keputusan membagikan konten memiliki dinamika yang lebih kompleks. Namun, penelitian tersebut memperlihatkan bahwa rasa percaya terhadap sumber maupun kemampuan pribadi tidak serta-merta menggantikan proses verifikasi.

Mengapa Kepercayaan Tidak Menggantikan Verifikasi?

Di media sosial, pengguna menerima informasi dari berbagai sumber, mulai dari akun resmi, institusi, kreator konten, hingga teman dan keluarga. Setiap sumber memiliki tingkat kedekatan dan kredibilitas yang berbeda di mata audiens.

Kedekatan emosional maupun reputasi suatu institusi dapat memengaruhi cara seseorang menerima informasi. Ketika pengguna sudah memiliki kepercayaan terhadap sebuah sumber, pesan yang disampaikan cenderung lebih mudah diterima. Dalam kondisi tertentu, keyakinan tersebut dapat membuat pengguna melewatkan pemeriksaan terhadap isi informasi.

Padahal, kredibilitas sumber tidak menjamin bahwa setiap unggahan yang mengatasnamakannya selalu benar, lengkap, atau sesuai dengan konteks terbaru. Informasi dapat dipotong dari pernyataan aslinya, diubah ketika disebarluaskan, atau dibagikan kembali dengan judul yang berbeda. Akibatnya, pesan yang diterima publik bisa memiliki makna berbeda dari informasi awal.

Situasi serupa juga terjadi ketika pengguna terlalu yakin terhadap kemampuannya sendiri dalam mengenali informasi palsu. Rasa percaya diri dapat membuat seseorang merasa tidak perlu membandingkan informasi dengan sumber lain. Padahal, kekeliruan dalam memahami konteks atau menilai bukti tetap mungkin terjadi.

Karena itu, literasi digital perlu mencakup kebiasaan memeriksa sumber asli, tanggal publikasi, konteks pernyataan, dan bukti pendukung sebelum membagikan konten. Pengguna juga perlu membedakan informasi faktual, opini, interpretasi, serta klaim yang belum terkonfirmasi.

Verifikasi bukan berarti harus meragukan seluruh informasi yang diterima. Langkah ini diperlukan untuk memastikan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada suatu sumber memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Apa Artinya bagi Reputasi Organisasi?

Bagi perusahaan, penyebaran informasi yang belum terverifikasi dapat menjadi persoalan reputasi. Potongan informasi yang beredar lebih cepat daripada klarifikasi berpotensi memunculkan pertanyaan, kesalahpahaman, hingga penilaian negatif terhadap organisasi.

Pernyataan resmi yang tidak disertai konteks memadai, unggahan lama yang kembali beredar, atau informasi yang diambil dari sumber tidak jelas dapat memicu interpretasi berbeda di tengah masyarakat. Ketika informasi tersebut terus dibagikan, organisasi bisa menghadapi tekanan untuk memberikan penjelasan meskipun persoalan awalnya belum tentu dipahami secara utuh.

Tantangan lainnya muncul ketika publik sudah memiliki persepsi tertentu terhadap sebuah perusahaan. Informasi baru yang diterima dapat ditafsirkan sesuai dengan keyakinan sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, klarifikasi tidak selalu langsung mengubah pandangan publik, terutama jika informasi yang keliru telanjur dipercaya dan menyebar luas.

Karena itu, organisasi perlu memiliki mekanisme pemantauan percakapan digital. Tim komunikasi dapat mengidentifikasi isu yang mulai meningkat, menelusuri sumber awal informasi, mengelompokkan pertanyaan publik, dan menilai apakah informasi yang beredar membutuhkan klarifikasi.

Brand Communication: Memahami Audiens Sebelum Menyampaikan Pesan Baca Juga Brand Communication: Memahami Audiens Sebelum Menyampaikan Pesan

Pemantauan juga perlu dilakukan dengan memahami konteks percakapan. Banyaknya komentar atau unggahan yang membicarakan suatu perusahaan tidak otomatis menunjukkan tingkat kepercayaan maupun besarnya dukungan publik. Volume percakapan, sentimen, jangkauan, konteks, dan kredibilitas sumber merupakan indikator berbeda yang perlu dianalisis secara bersama-sama.

Ketika informasi keliru mulai menyebar, respons organisasi sebaiknya didasarkan pada bukti yang dapat diperiksa. Klarifikasi perlu menjelaskan fakta, melengkapi konteks yang hilang, serta mengarahkan publik pada sumber informasi resmi. Penyampaiannya juga perlu mempertimbangkan skala isu dan potensi memperluas penyebaran informasi yang sebelumnya belum banyak diketahui.

Pendekatan tersebut berkaitan dengan fungsi media monitoring dan analisis percakapan digital. Keduanya membantu organisasi memahami perkembangan isu, mengenali sumber percakapan, dan mengidentifikasi perubahan persepsi sebelum menentukan langkah komunikasi.

Pembahasan lebih lanjut mengenai pemantauan media dapat dibaca melalui artikel Apa Itu Media Monitoring? Fungsi, Manfaat, Cara Kerja, dan Mengapa Perusahaan Membutuhkannya.

Kepercayaan merupakan bagian penting dalam komunikasi digital, tetapi tidak dapat menggantikan verifikasi. Seseorang bisa memiliki keyakinan terhadap sebuah institusi sekaligus merasa mampu menilai kebenaran informasi, tetapi kedua hal tersebut tetap tidak menjamin bahwa setiap konten yang dibagikan telah melalui pemeriksaan yang memadai.

Bagi pengguna, kebiasaan menelusuri sumber dan memahami konteks menjadi langkah penting sebelum menyebarkan informasi. Bagi organisasi, kemampuan memantau percakapan dan merespons berdasarkan fakta dapat membantu mengurangi risiko kesalahpahaman yang berkembang menjadi persoalan reputasi.

FAQ

1. Apa itu misinformasi di media sosial?

Misinformasi adalah informasi yang keliru atau tidak akurat dan disebarkan tanpa harus disertai niat untuk menipu. Penyebarannya dapat terjadi karena pengguna tidak mengetahui bahwa informasi tersebut salah atau belum memeriksa kebenarannya.

2. Mengapa orang membagikan informasi yang belum terverifikasi?

Alasannya beragam, mulai dari kepercayaan terhadap sumber, anggapan bahwa informasi tersebut bermanfaat, hingga keyakinan bahwa dirinya mampu mengenali informasi yang benar dan salah. Dalam kondisi tertentu, rasa percaya diri tersebut justru dapat mengurangi dorongan untuk melakukan pemeriksaan tambahan.

3. Bagaimana perusahaan merespons misinformasi?

Perusahaan dapat memantau perkembangan isu, menelusuri sumber informasi, memeriksa fakta, dan menyiapkan klarifikasi berdasarkan bukti. Setelah klarifikasi disampaikan, organisasi perlu mengevaluasi perkembangan percakapan serta respons publik untuk menentukan langkah komunikasi berikutnya.

Follow news.publikalabs.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Tentang penulis Shopia Dwi Lestari

Shopia adalah praktisi media partner dan komunikasi yang sehari-hari bergelut dengan reputation, client, dan deadline. Ia memiliki ketertarikan pada marketing, consumer behavior, digital communication, dan hubungan antara brand dengan audiens. Pengalamannya dalam penulisan akademik juga membawanya mengeksplorasi berbagai persoalan pemasaran dan perilaku konsumen, termasuk melalui tulisan "Pengaruh Viral Marketing, Electronic Word of Mouth, dan Halal Label terhadap Keputusan Pembelian Konsumen" yang telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Di luar aktivitas profesionalnya, Shopia gemar tidur, ngopi, belajar Mandarin, dan bermusik.